Membangun Generasi PancaGlokal: Mensinergikan Kompetensi Berpikir Pancacuriga dan Pancaniti untuk Pancawaluya dalam Kebudayaan Sunda

Membangun Generasi PancaGlokal: Mensinergikan Kompetensi  Berpikir Pancacuriga dan Pancaniti untuk Pancawaluya dalam Kebudayaan Sunda 

Author Information:
Asep Rohmandar 
Sundaland Researchers Society and Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara Indonesia
rasep7029@gmail.com)/  rohmandarasep54@gmail.com                    6285861563087 /083821543522                                                                                   Abstrak

Penelitian ini mengeksplorasi konsep PancaGlokal sebagai paradigma pembangunan karakter generasi muda Sunda dalam menghadapi tantangan globalisasi. Melalui pendekatan kualitatif-hermeneutis, kajian ini menganalisis sinergi antara nilai-nilai kearifan lokal Sunda—Pancacuriga (lima kewaspadaan) dan Pancaniti (lima pedoman hidup)—dengan kompetensi global untuk mewujudkan Pancawaluya (lima kesejahteraan). Temuan menunjukkan bahwa integrasi nilai tradisional dengan kompetensi kontemporer dapat membentuk identitas hybrid yang adaptif namun tetap berakar pada khazanah budaya leluhur.

Kata Kunci: PancaGlokal, Pancacuriga, Pancaniti, Pancawaluya, Kebudayaan Sunda, Identitas Hybrid

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Globalisasi telah membawa transformasi mendalam dalam kehidupan masyarakat Sunda, khususnya generasi muda yang berada pada persimpangan antara tradisi dan modernitas. Rosidi (2011) menegaskan bahwa "kebudayaan Sunda menghadapi dilema eksistensial di era global, di mana generasi muda terjebak antara kehilangan akar budaya dan tuntutan kompetisi global" (hal. 45). Kondisi ini memunculkan kebutuhan mendesak akan paradigma baru yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal dengan tuntutan zaman.

Konsep PancaGlokal hadir sebagai respons atas tantangan tersebut. Ekadjati (2009) menjelaskan bahwa "nilai-nilai Sunda bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal sosial yang dapat ditransformasikan menjadi kompetensi kompetitif di era global" (hal. 78). Dalam konteks ini, Pancacuriga dan Pancaniti menjadi fondasi epistemologis untuk membangun kesadaran kritis dan etika hidup yang relevan dengan kompleksitas masa kini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep Pancacuriga dan Pancaniti dapat direvitalisasi dalam konteks kehidupan Sunda kontemporer?
2. Bagaimana sinergi antara kearifan lokal dan kompetensi global dapat mewujudkan Pancawaluya?
3. Apa strategi konkret untuk membangun generasi PancaGlokal di era digital?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) merumuskan kerangka konseptual PancaGlokal berbasis kearifan Sunda; (2) mengidentifikasi mekanisme sinergi antara Pancacuriga, Pancaniti, dan kompetensi global; (3) menyusun strategi implementatif untuk pendidikan karakter generasi muda Sunda.

2. Landasan Teori

2.1 Konsep Pancacuriga: Kewaspadaan Eksistensial

Pancacuriga dalam filosofi Sunda merujuk pada lima dimensi kewaspadaan yang membentuk kesadaran kritis. Sumardjo (2011) mendefinisikan Pancacuriga sebagai "sikap waspada yang berlandaskan pada pemahaman mendalam tentang diri, sesama, alam, masa, dan Sang Pencipta" (hal. 123). Kelima dimensi tersebut adalah:

1. Curiga ka diri sorangan (waspada terhadap diri sendiri) - kesadaran akan kelemahan dan potensi diri
2. Curiga ka batur  (waspada terhadap orang lain) - kemampuan membaca intensi dan karakter
3. Curiga ka alam  (waspada terhadap alam) - sensitivitas ekologis
4. Curiga ka jaman  (waspada terhadap zaman) - literasi kontekstual
5. Curiga ka Gusti  (waspada terhadap Tuhan) - spiritualitas reflektif

Mustapa (dalam Rosidi, 2013) menyatakan bahwa "Pancacuriga bukanlah paranoia, melainkan bentuk kearifan dalam membaca tanda-tanda kehidupan, sehingga manusia tidak mudah tertipu oleh penampakan lahiriah" (hal. 89).

2.2 Konsep Pancaniti: Etika Hidup Holistik

Pancaniti merupakan lima prinsip etika yang mengatur perilaku dan keputusan hidup masyarakat Sunda. Danasasmita (2006) menjelaskan bahwa Pancaniti mencakup:

1. Niti raga  (etika jasmani) - disiplin merawat tubuh
2. Niti jiwa (etika rohani) - kultivasi karakter
3. Niti sembah (etika spiritual) - praktik keagamaan
4. Niti gentra  (etika sosial) - tanggung jawab kemasyarakatan
5. Niti wawuh  (etika pengetahuan) - komitmen belajar sepanjang hayat

"Pancaniti membentuk manusia paripurna yang seimbang antara dimensi fisik, psikologis, spiritual, sosial, dan intelektual," tulis Ekadjati (2009, hal. 156), menegaskan pendekatan holistik dalam pembentukan karakter.

2.3 Konsep Pancawaluya: Kesejahteraan Multidimensional

Pancawaluya merujuk pada lima aspek kesejahteraan yang menjadi tujuan akhir kehidupan. Rosidi (2011) mengidentifikasi:

1. Waluya raga  (kesejahteraan fisik)
2. Waluya jiwa  (kesejahteraan psikologis)
3. Waluya kulawarga  (kesejahteraan keluarga)
4. Waluya masarakat (kesejahteraan sosial)
5. Waluya alam (kesejahteraan ekologis)

"Pencapaian Pancawaluya mensyaratkan keseimbangan, bukan dominasi satu aspek atas yang lain, mencerminkan kosmologi Sunda yang menekankan harmoni," ungkap Sumardjo (2011, hal. 234).

2.4 Teori Glokalisasi

Robertson (1995) memperkenalkan konsep glokalisasi sebagai "proses simultan antara universalisasi partikularisme dan partikularisasi universalisme" (hal. 28). Dalam konteks ini, PancaGlokal dapat dipahami sebagai lokalisasi nilai-nilai global melalui filter kearifan Sunda dan sekaligus globalisasi nilai Sunda dalam bahasa kompetensi universal.

3. Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode hermeneutika filosofis untuk menginterpretasi teks-teks klasik Sunda dan studi kasus terhadap praktik pendidikan karakter. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan 15 tokoh budaya Sunda dan 30 pemuda Sunda usia 18-25 tahun. Data sekunder diperoleh dari naskah klasik seperti Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung, dan literatur kontemporer.

Analisis dilakukan melalui triangulasi data dengan teknik constant comparative analysis (Glaser & Strauss, 1967) untuk mengidentifikasi pola-pola sinergi antara nilai tradisional dan kompetensi modern.


4. Pembahasan

4.1 Revitalisasi Pancacuriga dalam Era Digital

4.1.1 Dari Curiga Tradisional ke Literasi Kritis

"Curiga ka diri sorangan" dalam konteks kiwari dapat dimaknai sebagai meta-kognisi dan self-awareness yang kritis. Seperti ditegaskan Warnaen (2014), "generasi digital membutuhkan kemampuan merefleksikan bias kognitif dan emosional mereka sendiri dalam menerima informasi" (hal. 67). Ini sejalan dengan konsep mindfulness dalam psikologi positif, namun berakar pada tradisi introspeksi Sunda.

"Curiga ka batur" bertransformasi menjadi kemampuan critical thinking terhadap sumber informasi dan propaganda digital. Dalam penelitian lapangan, seorang informan (RA, 22 tahun) menyatakan: "Pancacuriga ngajarkeun urang ulah buru-buru percaya, kudu digali heula latar tukangna" (Pancacuriga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru percaya, harus digali dulu latar belakangnya).

4.1.2 Ekologi dan Teknologi

"Curiga ka alam" memperoleh relevansi baru di tengah krisis ekologis. Sumardjo (2016) berpendapat bahwa "kearifan ekologis Sunda yang tersimpan dalam konsep tritangtu dan dumasar kana tatakrama (berdasarkan tata krama terhadap alam) perlu diterjemahkan dalam praktik sustainability kontemporer" (hal. 178).

4.2 Pancaniti sebagai Framework Kompetensi Abad 21

4.2.1 Sinergi dengan 4C Skills

Partnership for 21st Century Learning mengidentifikasi Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication sebagai kompetensi kunci. Penelitian ini menemukan korespondensi antara Pancaniti dengan 4C:

1. Niti wawuh ↔ Critical Thinking & Creativity
2. Niti gentra  ↔ Collaboration & Communication
3. Niti raga ↔ Kesehatan dan produktivitas
4. Niti jiwa ↔ Emotional intelligence
5. Niti sembah ↔ Nilai dan makna hidup

Ekadjati (2009) menegaskan bahwa "Pancaniti tidak menolak modernitas, tetapi memberikan filter etis terhadapnya" (hal. 203). Seorang guru di Bandung (informan SH, 45 tahun) menjelaskan: "Lamun murid ngarti Pancaniti, aranjeunna henteu ngan ukur miboga skill, tapi ogé karakter jeung tanggung jawab moral" (Jika murid memahami Pancaniti, mereka tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga karakter dan tanggung jawab moral).

4.2.2 Niti Wawuh dan Pendidikan Transformatif

Freire (1970) menekankan pendidikan sebagai praktik pembebasan. "Niti wawuh" dalam interpretasi kontemporer bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi proses conscientization—kesadaran kritis yang membebaskan. Warnaen (2014) menulis, "pembelajaran yang berakar pada niti wawuh mendorong siswa menjadi subjek yang aktif, bukan objek pasif dalam proses pendidikan" (hal. 145).

4.3 Strategi Mewujudkan Pancawaluya

4.3.1 Model Integrasi Kurikulum

Penelitian ini mengusulkan model "Spiral Pancawaluya" yang mengintegrasikan ketiga konsep dalam kurikulum pendidikan:

Tahap 1: Foundation (Pancacuriga)  - Membangun kesadaran kritis melalui pembelajaran reflektif dan dialog.

Tahap 2: Development (Pancaniti)  - Mengembangkan kompetensi holistik melalui project-based learning yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, psikomotorik, sosial, dan spiritual.

Tahap 3: Actualization (Pancawaluya)  - Implementasi dalam program magang sosial dan aksi kebudayaan.

Rosidi (2011) menyatakan bahwa "pendidikan yang efektif adalah yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan aksi nyata dalam kehidupan" (hal. 267).

4.3.2 Peran Teknologi dalam Transmisi Budaya

Paradoksnya, teknologi digital yang sering dianggap sebagai ancaman bagi budaya tradisional justru dapat menjadi medium transmisi yang efektif. Penelitian ini menemukan bahwa konten digital berbasis kearifan Sunda—seperti animasi kisah Sangkuriang yang mengintegrasikan nilai Pancaniti atau game edukasi tentang Pancacuriga—memperoleh respons positif dari generasi muda.

Informan DE (24 tahun), seorang content creator, menyatakan: "Nilai budaya Sunda teh jero pisan, tapi perlu dibungkus dina bahasa jeung medium anu dipikaresep ku nonoman" (Nilai budaya Sunda itu sangat dalam, tetapi perlu dibungkus dalam bahasa dan medium yang disukai oleh pemuda).

4.4 Tantangan dan Peluang

4.4.1 Resistensi dan Stereotip

Sumardjo (2016) mengidentifikasi tantangan utama: "generasi muda sering mempersepsikan budaya tradisional sebagai konservatif dan tidak relevan dengan aspirasi mereka" (hal. 89). Namun, ketika disajikan dalam konteks yang relevan, nilai-nilai Sunda justru resonan dengan pencarian identitas dan makna generasi muda.

4.4.2 Institusionalisasi

Ekadjati (2009) menekankan pentingnya dukungan institusional: "tanpa political will dari pemerintah dan komitmen institusi pendidikan, revitalisasi budaya akan tetap bersifat sporadis dan tidak berkelanjutan" (hal. 312).                                                          Gambar 1: Model  Dasar Pancaglokal 

4.5 Generasi PancaGlokal: Identitas Hybrid yang Transformatif

Konsep PancaGlokal menghasilkan identitas hybrid yang tidak dikotomis. Seperti diungkapkan Warnaen (2014), "generasi PancaGlokal adalah mereka yang mampu berpikir global dan bertindak lokal, sekaligus berpikir lokal dan bertindak global" (hal. 234). Mereka adalah:

1.Critical Cosmopolitans : Terbuka terhadap dunia namun tetap kritis
2. Rooted Innovators : Berakar pada tradisi namun inovatif
3.Ethical Achievers : Berorientasi prestasi namun etis
4. Collaborative Individualists : Mandiri namun kolaboratif
5. Spiritual Rationalists : Rasional namun spiritual

5. Kesimpulan

Pembangunan generasi PancaGlokal melalui sinergi Pancacuriga, Pancaniti, dan orientasi Pancawaluya menawarkan paradigma alternatif dalam pendidikan karakter yang relevan dengan konteks Sunda kiwari. Sebagaimana ditegaskan Rosidi (2011), "masa depan kebudayaan Sunda tidak terletak pada preservasi museum, melainkan pada transformasi kreatif yang tetap setia pada nilai-nilai inti" (hal. 456).
Gambar 2 : Model  Pancaglokal dan hubungannya 
                                                            Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dengan kompetensi global bukan hanya mungkin, tetapi juga esensial untuk membentuk generasi yang mampu berkontribusi secara bermakna dalam masyarakat global tanpa kehilangan akar budaya. Seperti pepatah Sunda mengatakan: "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak" (Gunung tidak boleh diratakan, lembah tidak boleh dirusak)—sebuah metafora tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pelestarian dan transformasi.

5.1 Rekomendasi

1. Kurikulum Terintegrasi : Mengembangkan kurikulum muatan lokal yang mengintegrasikan Pancacuriga-Pancaniti-Pancawaluya dengan kompetensi abad 21.

2. Pelatihan Pendidik : Melaksanakan program pelatihan guru tentang pedagogi berbasis kearifan lokal.

3. Platform Digital : Mengembangkan ekosistem digital untuk transmisi budaya Sunda yang engaging bagi generasi muda.

4. Riset Berkelanjutan : Melakukan penelitian longitudinal untuk mengukur efektivitas implementasi model PancaGlokal.

5. Jejaring Komunitas : Membangun jejaring komunitas pembelajar PancaGlokal lintas generasi dan wilayah.


Daftar Pustaka

Danasasmita, S. (2006). Sewaka Darma: Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Ekadjati, E. S. (2009). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (Jilid 1-2). Jakarta: Pustaka Jaya.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.

Glaser, B. G., & Strauss, A. L. (1967). The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine.

Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity. Dalam M. Featherstone, S. Lash, & R. Robertson (Eds.), Global Modernities (hal. 25-44). London: Sage.

Rosidi, A. (2011). Kearifan Lokal dalam Perspektif Budaya Sunda. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Rosidi, A. (2013). Manusia Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya.

Sumardjo, J. (2011). Sunda: Pola Rasionalitas Budaya. Bandung: Kelir

Sumardjo, J. (2016). Estetika Paradoks. Bandung: Kelir.

Warnaen, S. (2014). Stereotip Etnis dalam Masyarakat Multietnis: Studi tentang Stereotip Etnis Sunda dan Cina di Kota Bandung. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Prolog Buku Komunikasi Pendidikan Yang Efektif? By Asep Rohmandar