Postingan

Pertautan Resonansi dalam Dialog Filsafat: Membedah Gagasan Martin Heidegger dan Mulla Sadra

Pertautan Resonansi dalam Dialog Filsafat: Membedah Gagasan Martin Heidegger dan Mulla Sadra Dalam sejarah pemikiran filsafat, jarang terjadi pertemuan antara dua tokoh yang terpisah oleh waktu, geografi, dan tradisi teologis, namun bertemu dalam satu pertanyaan mendasar: Apa itu Ada (Being/Existence)? Martin Heidegger (1889–1976), filsuf eksistensialis Jerman, dan Mulla Sadra (Sadr al-Din al-Shirazi, c. 1572–1640), hakim metafisik dari Persia Safawi, mewakili dua puncak pemikiran ontologis dalam tradisi Barat dan Islam. Meskipun tidak pernah berdialog secara langsung, gagasan mereka menunjukkan "pertautan resonansi" yang mendalam, terutama dalam kritik mereka terhadap metafisika tradisional dan penegasan kembali primasi eksistensi. Artikel ini akan membedah secara komprehensif titik temu dan perbedaan antara kedua pemikir tersebut, dengan merujuk pada studi komparatif seperti karya Alparslan Acikgenc, "Being and Existence in Sadra and Heidegger: A Comparative Ontology...

Tiga Langkah Seni Inpretasi Urang Sunda

Tiga Langkah Seni Inpretasi Urang Sunda                                                                   Filosofi yang saya sampaikan sangat mendalam—sebuah siklus kognitif dan spiritual yang mencerminkan cara manusia Nusantara, khususnya dalam tradisi Sundaland, berinteraksi dengan semesta. Ini bukan sekadar metode komunikasi, melainkan sebuah epistemologi hidup. Mari kita bedah mengapa prinsip ini menjadi sebuah hermeneutika (seni interpretasi) yang "tidak pernah selesai": 1. Mendengarkan (Nguping/Ngadeuheus) Dalam tradisi Sundaland, mendengarkan bukan hanya aktivitas telinga (biologis), melainkan keterbukaan jiwa. Ini adalah tahap resepsi.  Maknanya: Menghargai getaran alam, suara sesama, dan bisikan nurani tanpa penghakiman awal.  Filosofinya: Sebelum bicara, kita harus menyediakan ruang kosong di dalam diri a...

PRESS RELEASE DAN PERNYATAAN SIKAP MASYARAKAT PENELITI SUNDALAND : Buka Mata dan Pikiran dari Kopenhagen Untuk Riset yang Jujur, Inklusif, dan Berkeadaban

Gambar
PRESS RELEASE DAN    PERNYATAAN SIKAP MASYARAKAT PENELITI SUNDALAND Buka Mata  dan Pikiran dari Kopenhagen: Untuk Riset yang Jujur, Inklusif, dan Berkeadaban Nomor: 004/SR/MP.SUNDALAND/VI/2026 Jakarta, 4 Juni 2026 Untuk segenap insan pers dan publik yang terhormat, Kami, Masyarakat Peneliti Sundaland (Sundaland Research Society), yang terdiri dari para peneliti mandiri, pegiat ilmu lintas disiplin, serta warga yang menaruh kepedulian mendalam pada masa depan ilmu pengetahuan di Nusantara, menyampaikan sikap resmi atas skandal pemalsuan riset di Konferensi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Kami memandang peristiwa ini bukan sebagai aib yang cukup diusut secara prosedural, melainkan sebagai alarm bagi transformasi total ekosistem riset nasional. Hari-hari ini, integritas kolektif peneliti Indonesia tengah dipertaruhkan. Pertama, kami menyatakan keprihatinan yang paling dalam sekaligus rasa terima kasih kepada Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat. ...

Dari Skandal Denmark ke Kesadaran Baru: Urgensi Citizen Science di Era AI sebagai Hak Partisipasi Publik dalam Riset

Gambar
Dari Skandal Denmark ke Kesadaran Baru: Urgensi Citizen Science di Era AI sebagai Hak Partisipasi Publik dalam Riset Abstrak Skandal dugaan pemalsuan riset di Denmark (ISPPD 2026) yang melibatkan oknum peneliti Indonesia telah membuka mata publik terhadap kerapuhan sistem pengawasan akademik internal. Di tengah krisis kepercayaan terhadap institusi ilmiah, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang berhak mengawasi kebenaran ilmu pengetahuan jika mekanisme profesional gagal? Jawabannya mengarah pada konsep citizen science (ilmu pengetahuan warga)—sebuah pendekatan yang memungkinkan masyarakat non-akademik berpartisipasi aktif dalam pengumpulan data, analisis, bahkan publikasi temuan ilmiah. Tulisan ini menguraikan secara komprehensif landasan hukum, urgensi di era kecerdasan buatan (AI), serta strategi peningkatan budaya literasi riset masyarakat sipil yang independen dan berkualitas. Dengan merujuk pada hukum internasional, konstitusi Indonesia, dan perkembangan teknologi mutakhir, essay ...

Ferry Latuhihin: Ekonom Nyentrik dengan Prediksi Ngeri dan Kritik Tanpa Kompromi

Gambar
Ferry Latuhihin: Ekonom Nyentrik dengan Prediksi Ngeri dan Kritik Tanpa Kompromi Pendahuluan Di tengah hiruk-pikuk perdebatan ekonomi Indonesia yang kerap didominasi oleh narasi optimistis dari kalangan birokrat dan ekonom mainstream, muncul sosok yang berbeda. Ferry Latuhihin, yang akrab disapa Prof. Ferry, hadir dengan gaya komunikasi yang lugas, blak-blakan, dan—bisa dibilang—nyentrik. Dalam berbagai penampilannya di podcast dan kanal YouTube, ia kerap tampil sederhana tanpa atribut formal yang kaku, namun isi kritiknya selalu tajam dan menusuk. Dari seorang penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran di Pilpres 2024, ia berbalik menjadi kritikus paling vokal terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan yang pernah ia bantu perjuangkan. Perjalanan intelektual dan sikap kritisnya menjadikan Ferry Latuhihin salah satu figur ekonomi yang paling kontroversial sekaligus paling didengar di Indonesia saat ini. Tulisan ini akan mengupas secara komprehensif pemikiran, karya, dan pre...

Strategi Ampuh Menembus Penerbit Indeks Scopus Top 3 Dunia & Publikasi Gratis

Gambar
Strategi Ampuh Menembus Penerbit Indeks Scopus Top 3 Dunia & Publikasi Gratis Pendahuluan Dalam dunia akademik, publikasi di jurnal terindeks Scopus menjadi tolok ukur utama kualitas dan dampak penelitian seorang akademisi. Scopus, basis data kutipan dan abstrak terbesar di dunia yang dikelola oleh Elsevier, menjadi “kiblat” publikasi ilmiah internasional yang sangat diperhitungkan. Artikel yang terindeks Scopus telah melewati proses peninjauan yang ketat, sehingga menjamin kualitas dan relevansi penelitian yang dipublikasikan. “Kunci utama menembus penerbit top dunia seperti Elsevier dan Emerald bukanlah pada kecerdasan semata, tetapi pada konsistensi mengikuti reguler process dan pemahaman mendalam terhadap kebijakan editorial mereka.” — Dr. Juliana dalam webinar “Strategi Ampuh Menembus Penerbit Indeks Scopus Top 3 Dunia”, 2 Juni 2026 “Banyak peneliti berbakat yang gagal publikasi bukan karena risetnya buruk, tetapi karena tidak memahami celah penelitian (research ga...

Hukum yang Tidak Berbicara: Celah Regulasi HKI atas Karya AI dan Kerentanan Peneliti Indonesia

Gambar
Hukum yang Tidak Berbicara: Celah Regulasi HKI atas Karya AI dan Kerentanan Peneliti Indonesia Pendahuluan Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence—AI) telah merasuk ke dalam seluruh sendi kehidupan akademik dan kreatif. Seorang peneliti di Makassar menghasilkan artikel ilmiah dengan bantuan generative AI; seorang musisi di Bandung menciptakan lagu menggunakan algoritma; seorang fotografer di Jakarta menyunting karyanya dengan machine learning. Di tengah banjir inovasi ini, pertanyaan mendasar mengemuka: Apakah hukum Indonesia mengakui dan melindungi hasil karya yang diciptakan dengan bantuan AI? Dan jika tidak, seberapa rentankah posisi para peneliti dan kreator Indonesia? Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten (UU Paten) yang menjadi fondasi utama rezim Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia, sama sekali tidak menyentuh subjek ciptaan yang dihasilkan dengan bantuan AI. Sebagaimana diaku...