Postingan

Judul-Judul Karya Sastra Sunda yang Berpeluang Meraih Hadiah Nobel Sastra

K A J I A N   S A S T R A ────────────────────────────── Judul-Judul Karya Sastra Sunda yang Berpeluang Meraih Hadiah Nobel Sastra ────────────────────────────── Antara Kritik dan Nilai Sastrawi Disusun oleh  Divisi Kajian & Pengembangan Sastra Lembaga Bahasa & Sastra Sunda  •  Bandung, 2025 PENGANTAR: MEMBACA NOBEL DENGAN KACAMATA SUNDA Hadiah Nobel Sastra bukan semata-mata mahkota keindahan. Ia adalah pernyataan politik, estetika, dan moral dari Akademi Swedia tentang suara mana yang layak didengar dunia. Sejak 1901, kriteria penghargaan ini telah bergeser dari ‘idealisme dalam pengertian yang paling mulia’ (rumusan asli Alfred Nobel) menuju pengakuan atas karya yang berani, inovatif, dan menyingkap kebenaran kemanusiaan yang tak nyaman. Sastra Sunda — dengan akar tradisi lebih dari seribu tahun — menyimpan benih-benih karya yang memenuhi kriteria tersebut. Kajian ini mengidentifikasi judul-judul karya (beserta konsep karya yang belum ditulis) yang, jika di...

Mengatasi Krisis Visibilitas Global Sastra Sunda Akibat Kesenjangan Penerjemahan dan Promosi

USULAN PROGRAM STRATEGIS Mengatasi Krisis Visibilitas Global Sastra Sunda Akibat Kesenjangan Penerjemahan dan Promosi ──────────────────── Disusun oleh: Lembaga Bahasa & Sastra Sunda Bekerja sama dengan: Dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Tahun: 2025  |  Bandung, Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Sastra Sunda merupakan salah satu tradisi sastra tertua dan terkaya di Asia Tenggara, mencakup lebih dari 1.500 tahun sejarah yang terdokumentasi melalui naskah kuno, puisi, prosa, dan tradisi lisan. Namun demikian, karya-karya agung dalam bahasa Sunda — dituturkan oleh lebih dari 42 juta penutur asli — hampir sepenuhnya tidak dikenal di panggung sastra internasional. Usulan ini mengidentifikasi krisis visibilitas global yang kritis (critical lack of global visibility) yang dipicu oleh dua faktor utama: (1) minimnya penerjemahan karya sastra Sunda ke dalam bahasa-bahasa internasional, dan (2) lemahnya ekosistem promosi yang terstruktur dan berkelanjutan. Tanpa intervensi strategis y...

Sebutan Tepat untuk Penulis, Blogger, Analis, dan Peneliti

Sebutan Tepat untuk Penulis, Blogger, Analis, dan Peneliti Pertanyaan ini menyentuh ranah taksonomi intelektual— yakni bagaimana kita mengklasifikasikan orang-orang yang bekerja dengan pikiran, kata, dan pengetahuan. Jawabannya kaya dan berlapis, tergantung pada konteks, tradisi keilmuan, dan medium yang digunakan. 1. Istilah Umum yang Paling Tepat: "Intelektual" Kata yang paling mencakup semuanya adalah intelektual (intellectual). Seorang intelektual adalah: - Orang yang menjadikan pikiran, ide, dan pengetahuan  sebagai kerja utamanya - Mampu menganalisis, mengkritisi, dan menafsirkan realitas secara sistematis - Berkontribusi pada wacana publik melalui berbagai medium — tulisan, riset, atau analisis Namun "intelektual" adalah payung besar. Di bawahnya, ada istilah-istilah yang lebih spesifik dan presisi. 2. Peta Istilah Berdasarkan Bidang dan Fungsi A. Dari Sisi Produksi Tulisan | Istilah | Makna Spesifik | | Author / Pengarang | Pencipta karya tulis yang orisinal...

Apakah Penulis Artikel, Jurnal, Buku, dan E-Book Disebut Demagog?

Apakah Penulis Artikel, Jurnal, Buku, dan E-Book Disebut Demagog? Jawaban singkatnya: Tidak. Penulis artikel, jurnal, buku, dan e-book pada umumnya tidak disebut demagog. Namun untuk memahami mengapa, kita perlu menelaah secara cermat apa itu demagog, siapa penulis, dan di mana batas keduanya bisa bertemu atau justru saling bertolak belakang. 1. Memahami Makna "Demagog" Secara Tepat Kata demagog berasal dari bahasa Yunani: "demos" (rakyat) dan "agogos" (pemimpin/penggerak). Secara historis, demagog merujuk pada seseorang yang: - Menggerakkan massa dengan cara memanipulasi emosi, prasangka, dan ketakutan publik - Menggunakan retorika yang menyesatkan atau simplifikasi berlebihan - Bertujuan meraih kekuasaan atau pengaruh pribadi, bukan kebenaran atau keadilan - Mengandalkan demagogi — teknik persuasi yang mengorbankan logika demi hasutan Contoh historis yang kerap disebut: tokoh-tokoh politik populis yang membakar sentimen massa lewat pidato provokatif, buk...

Perspektif Ekonomi Strategis Berdasarkan Pemikiran Ekonom Peraih Nobel

Gambar
Ekonomi Dampak Perang: Antara Teori, Praktik, dan Kebijakan Perspektif Ekonomi Strategis Berdasarkan Pemikiran Ekonom Peraih Nobel Abstrak Perang merupakan fenomena politik dan sosial yang memiliki konsekuensi ekonomi yang luas. Artikel ini menganalisis dampak ekonomi perang melalui tiga dimensi utama: teori ekonomi perang, praktik empiris dalam sejarah ekonomi global, dan implikasi kebijakan publik. Dengan merujuk pada pemikiran ekonom peraih Nobel seperti Joseph Stiglitz, Paul Krugman, serta perspektif ekonomi institusional dari Daron Acemoglu, artikel ini menunjukkan bahwa perang secara umum menghasilkan kontraksi ekonomi jangka panjang, meskipun dalam kondisi tertentu dapat memicu mobilisasi ekonomi dan inovasi teknologi. Studi empiris menunjukkan bahwa konflik bersenjata dapat menurunkan Produk Domestik Bruto (PDB), investasi, dan konsumsi secara signifikan, serta mempengaruhi struktur institusi ekonomi suatu negara. Dengan pendekatan ekonomi strategis, artikel ini mengkaji bag...

DAMPAK KOMPREHENSIF KELUARNYA INDONESIA DARI BOARD OF PEACE (BOP) DAN PETA JALAN ALTERNATIFNYA

KAJIAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA ANTARA KEDAULATAN DAN KETERGANTUNGAN: DAMPAK KOMPREHENSIF KELUARNYA INDONESIA DARI BOARD OF PEACE (BOP) DAN PETA JALAN ALTERNATIFNYA ――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――― Kajian Berbasis Data, Pakar Akademik, dan Suara Masyarakat Sipil Indonesia Maret 2026 ――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――――― ABSTRAK Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) pada 22 Januari 2026 di Davos, yang disusul KTT Washington DC pada 19 Februari 2026 dan serangan militer AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, telah memicu perdebatan publik terbesar dalam sejarah diplomasi Indonesia kontemporer. Lebih dari 79 organisasi masyarakat sipil, MUI, YLBHI, PMII, PPI Dunia, para akademisi UGM dan UI, hingga mantan pejabat seperti Jusuf Kalla dan Anies Baswedan serempak mendesak pemerintah untuk keluar dari BoP. Essay ini menganalisis secara komprehensif: (1) dampak multidimensional jika Indonesia memilih keluar dari BoP, mencakup dimens...