Postingan

Menafsir Ulang Jejak Islamisasi Nusantara: Refleksi Kritis atas Webinar Arkeologi dan Budaya Lokal

Gambar
Menafsir Ulang Jejak Islamisasi Nusantara: Refleksi Kritis atas Webinar Arkeologi dan Budaya Lokal Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #38 yang mengangkat tema “Pertemuan Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif Arkeologi” menghadirkan tantangan intelektual yang menarik: bagaimana arkeologi—dengan segala keterbatasan dan kelebihannya—dapat menafsirkan proses Islamisasi yang telah berlangsung berabad-abad di Nusantara. Berikut adalah elaborasi kritis terhadap sejumlah pertanyaan fundamental yang layak menjadi pemantik diskusi. 1. Metodologi Arkeologi: Antara Bukti Material dan Sumber Tekstual Pertanyaan tentang sejauh mana metode arkeologi mampu menafsirkan proses Islamisasi bukanlah pertanyaan teknis semata, melainkan pertanyaan epistemologis tentang sifat pengetahuan sejarah itu sendiri. Keunggulan arkeologi terletak pada kemampuannya menyediakan data yang “tak terbantahkan” dalam arti fisik—artefak, struktur bangunan, pecahan keramik, dan sisa-sisa organik yang dap...

Menyoal Bursa Sekretaris Jenderal PBB Baru: Antara Reformasi Kelembagaan dan Tuntutan Keadilan Global South

ANALISIS KEBIJAKAN GLOBAL Menyoal Bursa Sekretaris Jenderal PBB Baru: Antara Reformasi Kelembagaan dan Tuntutan Keadilan Global South Oleh: Asep Rohmandar Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara — Agustus 2026 Menjelang berakhirnya masa jabatan António Guterres pada 31 Desember 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tengah menjalani salah satu proses pergantian kepemimpinan paling disorot dalam beberapa dekade terakhir. Bursa calon Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang kini diikuti tujuh kandidat berlangsung di tengah krisis ganda: krisis finansial yang menggerus kapasitas operasional organisasi, dan krisis kepercayaan yang bersumber dari ketidakmampuan sistem multilateral menjawab tuntutan keadilan global, terutama dari negara-negara Global South. Tulisan ini menelaah profil ketujuh kandidat, memetakan tuntutan reformasi yang disuarakan negara-negara berkembang—termasuk Indonesia dan blok BRICS—serta menilai sejauh mana proses pemilihan Sekjen kali ini benar-benar berpotensi menja...

Pancacuriga, Pancaniti, Pancawaluya, dan Pancaglobal

KAJIAN BUDAYA KRITIS SUNDA :  Pancacuriga, Pancaniti, Pancawaluya, dan Pancaglobal Genealogi, Epistemologi, dan Rekonstruksi Kritis Sistem Berpikir “Panca” dalam Peradaban Sunda Sebuah Esai Komprehensif Asep Rohmandar Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara West Java, Indonesia 2026 Abstrak Esai ini mengkaji empat konsep berbasis angka lima (panca) dalam khazanah pemikiran Sunda — Pancacuriga, Pancaniti, dan Pancawaluya — sebagai satu kesatuan epistemologi kritis yang secara historis membangun cara masyarakat Sunda menafsirkan makna (hermeneutika), menata laku (etika-praksis), dan mengukur kesempurnaan diri (antropologi filosofis). Ketiganya ditelusuri dari akar naskah dan tradisi lisan Sunda kuno hingga kebangkitannya kembali dalam wacana pendidikan karakter kontemporer. Sebagai pelengkap, esai ini juga mengajukan Pancaglobal, sebuah gagasan sintesis kritis yang disusun penulis untuk merentangkan logika sistem panca ke dalam pergumulan masyarakat Sunda menghadapi globalisa...

Warisan Alfred Nobel: Sejarah, Sains, dan Dampak Nyata bagi Kemajuan Kemanusiaan Warisan Alfred Nobel: Sejarah, Sains, dan Dampak Nyata bagi Kemajuan Kemanusiaan

Warisan Alfred Nobel: Sejarah, Sains, dan Dampak Nyata bagi Kemajuan Kemanusiaan Pendahuluan Penghargaan Nobel (Nobel Prize) secara luas diakui sebagai penghargaan paling bergengsi di dunia akademik dan ilmiah. Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1901, penghargaan ini telah menjadi tolok ukur keunggulan intelektual dan kontribusi terbesar bagi umat manusia. Namun, di balik medali emas dan kemegahan upacara penyerahannya, terdapat sejarah ironis yang berakar dari penemuan teknologi penghancur. Esai ini akan menelusuri sejarah lahirnya Penghargaan Nobel dari wasiat Alfred Nobel, evolusi kategori sainsnya, serta menganalisis dampak nyata penemuan-pemenang Nobel terhadap kehidupan manusia modern, mulai dari revolusi medis hingga transformasi teknologi digital. Asal Usul: Wasiat Seorang Penemu Dinamit Sejarah Penghargaan Nobel bermula dari sosok Alfred Bernhard Nobel (1833–1896), seorang kimiawan, insinyur, dan industrialis asal Swedia. Nobel dikenal sebagai penemu dinamit, sebuah bahan...

Bukan Soal Jatuh, Melainkan Bangkit: Refleksi Kebenaran, Kejujuran, Kesalahan, dan Perbaikan Diri Menuju Peneliti Berdampak Optimal

Gambar
Bukan Soal Jatuh, Melainkan Bangkit: Refleksi Kebenaran, Kejujuran, Kesalahan, dan Perbaikan Diri Menuju Peneliti Berdampak Optimal Oleh : Tim Masyarakat Peneliti Sundaland  Mahkamah Kehormatan Akademik terletak di dalam ruang paling sunyi dari hati nurani seorang peneliti. Di sanalah vonis sejati dijatuhkan—bukan oleh indeks sitasi, bukan oleh angka kredit, bukan pula oleh gelar. (Terinspirasi dari keprihatinan atas skandal ISPPD 2026 di Kopenhagen) 1. Pendahuluan: Mengapa Refleksi Ini Penting? Pada 17–21 Mei 2026, dunia akademik internasional dikejutkan oleh terungkapnya dugaan praktik pemalsuan riset terstruktur dalam forum bergengsi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark. Kasus ini pertama kali diungkap oleh dua peneliti Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika dan Wa Ode Dwi Daningrat, yang menyadari adanya kejanggalan dalam presentasi sesama peserta asal Indonesia. Para terduga pelaku—Prihantini, Rifaldy Fajar, Rini Winart...

INSPIRASI BELAJAR MERDEKA YANG DAMAI, ADIL, DAN MAKMUR

ESAI KOMPREHENSIF INSPIRASI BELAJAR MERDEKA YANG DAMAI, ADIL, DAN MAKMUR :  Pembelajaran dari Singapura, Tanjung Verde, dan Negara-Negara yang Baru Merdeka di Dunia dalam Perspektif Hukum Internasional   Disusun oleh: Asep Rohmandar Masyarakat Peneliti Mandiri Kasundaan Nusantara Agustus 2026 1. Pendahuluan Kemerdekaan bukanlah titik akhir dari perjuangan suatu bangsa, melainkan gerbang menuju tugas yang jauh lebih berat: membangun tatanan yang damai (peaceful), adil (just), dan makmur (prosperous) bagi seluruh rakyatnya. Sejarah dunia modern mencatat bahwa proklamasi kemerdekaan sering kali disusul oleh dekade-dekade pergulatan — antara cita-cita kedaulatan dan realitas kelembagaan yang rapuh, antara semangat persatuan dan godaan fragmentasi, antara harapan kesejahteraan dan keterbatasan sumber daya. Di titik inilah konsep “Belajar Merdeka” menemukan relevansinya: bukan sekadar merdeka dari penjajahan, tetapi merdeka untuk belajar — belajar dari pengalaman bangsa lain, belaja...