Postingan

Analisis Inti: Kriteria 1°/4° vs. Hisab 0 Derajat (Wujudul Hilal / KIG)

Gambar
Jika ada pertanyaan bagaimana Kalau kriteria hilalnya tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat?                                         Ini pertanyaan yang sangat menarik dan tajam secara ilmiah. Izinkan saya menjawabnya dulu secara substantif, lalu menghasilkan dokumen analisisnya. Pertanyaan yang menyentuh inti dari debat Kalender Islam Global (KIG) vs. sistem imkanurrukyat regional . Mari saya analisis secara komprehensif: Analisis Inti: Kriteria 1°/4° vs. Hisab 0 Derajat (Wujudul Hilal / KIG) 1. Hisab 0 Derajat — Apa Maknanya? "Hisab 0 derajat" atau lebih tepatnya kriteria wujudul hilal menetapkan: cukup bahwa konjungsi (ijtimak) telah terjadi sebelum magrib dan bulan terbenam setelah matahari — artinya hilal secara geometris sudah ada di atas ufuk meski hanya sepersekian derajat. Ini berbeda dari kriteria KIG murni yang hanya mensyaratkan ijtimak ter...

Kajian Komprehensif Metode Hisab, Kriteria Hilal 3 Derajat,dan Perbedaan Waktu di Asia Tenggara

Gambar
OPINI ILMIAH PENENTUAN AWAL RAMADHAN Kajian Komprehensif Metode Hisab, Kriteria Hilal 3 Derajat,dan Perbedaan Waktu di Asia Tenggara Oleh : Asep Rohmandar, dkk Disusun dengan Referensi Ilmiah Valid Februari 2026 ABSTRAK Penentuan awal Ramadhan merupakan persoalan fiqhiyyah-astronomis yang telah lama menjadi diskursus di kalangan umat Islam, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Makalah ini mengkaji secara komprehensif metode hisab (kalkulasi astronomi) sebagai alternatif atau komplementer terhadap rukyatul hilal (observasi bulan sabit), dengan fokus pada kriteria ketinggian hilal 3 derajat dan konsekuensi perbedaan zona waktu sekitar 3 jam antar negara-negara Asia Tenggara—dari Myanmar (UTC+6:30) hingga Indonesia bagian timur (UTC+9). Kajian ini mengacu pada parameter astronomi IUAPA (International Union of Astronomy and Physics Applications), kriteria MABIMS yang telah diperbarui pada tahun 2021, serta penelitian ilmiah dari Thomas Djamaluddin, Mohammad Ilyas, dan para ahli falak kontem...

Sundaland adalah entitas geologi Pleistosen yang nyata, daripada Nusantara

Secara geologis, jika ingin mengajukan hipotesis berbasis wilayah Asia Tenggara purba, istilah yang lebih presisi memang bukan “Out of Nusantara”, melainkan “Out of Sundaland” . Namun penting ditegaskan sejak awal: secara konsensus ilmiah global, teori asal-usul Homo sapiens yang paling kuat tetap Out of Africa . Adapun “Out of Sundaland” masih bersifat hipotesis alternatif yang belum diterima sebagai arus utama. Berikut penjelasan akademiknya: 🌏 Apa itu Sundaland? adalah paparan benua (continental shelf) yang pada masa Pleistosen menyatukan wilayah yang kini menjadi: Indonesia bagian barat (Sumatra, Jawa, Kalimantan) Semenanjung Malaysia Thailand bagian selatan Kamboja Vietnam Singapura Ketika permukaan laut turun hingga ±120 meter pada Zaman Es, wilayah ini menjadi satu daratan luas. Kajian klasik tentang paparan Sunda dapat dirujuk pada karya: (awal abad ke-20) , Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago (1997) , Eden in the East (1998) 🧬 Konsensus Ilm...

Sebaran DNA "Out of Sundaland" di Antara "Out of Africa" dan "Out of Taiwan": Analisis Logis dan Komprehensif

Gambar
Sebaran DNA "Out of Sundaland" di Antara "Out of Africa" dan "Out of Taiwan": Analisis Logis dan Komprehensif Pendahuluan: Tiga Model Migrasi Manusia Untuk memahami sebaran DNA manusia di Asia Tenggara dan khususnya bangsa Sunda, kita perlu melihat tiga gelombang migrasi besar yang saling berkaitan: 1. Out of Africa (~70.000-50.000 tahun lalu) 2. Out of Sundaland  (~15.000-7.000 tahun lalu)  3. Out of Taiwan  (~5.000-4.000 tahun lalu) 1. Gelombang Pertama: Out of Africa ke Sundaland 1.1 Migrasi Awal Homo Sapiens Dari hasil pemeriksaan DNA mitokondria dan kromosom Y, ditemukan bahwa populasi di kepulauan ini memiliki jejak genetik dari gelombang migrasi manusia Out of Africa awal yang melalui rute selatan sekitar 60.000 tahun yang lalu [ResearchGate](https://www.researchgate.net/publication/236859632_ANALISIS_URUTAN_NUKLEOTIDA_DAERAH_HIPERVARIABEL_I_HVI_DNA_MITOKONDRIA_PADA_SUKU_SUNDA_UNTUK_MENENTUKAN_MOTIF_POPULASINYA) . Keberadaan manusia di A...

Somasi Terbuka Kepada Yth. Manajemen Www.sundainternasional.com Di Tempat

Gambar
Somasi Terbuka  Kepada Yth.   Manajemen Www.sundainternasional.com Di Tempat   Perihal: Somasi atas Penggunaan Nama Sunda   Dengan hormat,   Kami, sebagai perwakilan masyarakat Sunda, menyampaikan keberatan atas penggunaan nama Sunda oleh [nama perusahaan/negara/entitas] dalam kegiatan komersial maupun non-komersial yang tidak memiliki hubungan dengan masyarakat Sunda, budaya Sunda, maupun kepentingan lokal di Jawa Barat, Indonesia.   bukti terlampir :      Nama Sunda merupakan identitas kultural, historis, dan sosial masyarakat Sunda yang telah hidup dan berkembang selama berabad-abad. Penggunaan nama tersebut tanpa izin atau tanpa kepentingan yang sah berpotensi:   - Menimbulkan kebingungan publik terkait asal-usul dan makna nama Sunda.   - Mengurangi nilai budaya dan identitas masyarakat Sunda.   - Melanggar prinsip penghormatan terhadap hak budaya sebagaimana diatur dalam ...

Opini: Dampak Kebiasaan Uni Eropa terhadap Tatanan Multipolar Global

Opini: Dampak Kebiasaan Uni Eropa terhadap Tatanan Multipolar Global Perkembangan dunia menuju tatanan multipolar—di mana kekuatan global tidak lagi terpusat pada satu negara adidaya—semakin nyata. Dalam konteks ini, kebiasaan dan pola kebijakan (UE) memainkan peran penting, baik sebagai penyeimbang, mediator, maupun aktor normatif. Pertanyaannya: apakah kebiasaan UE memperkuat multipolaritas yang stabil, atau justru menciptakan ketegangan baru? 1. Kebiasaan Normatif: Kekuatan Regulasi sebagai Instrumen Global UE dikenal sebagai “normative power”—kekuatan yang mengekspor standar hukum, lingkungan, dan hak asasi manusia. Dari regulasi digital hingga standar emisi karbon, kebijakan UE sering menjadi rujukan global. Kebiasaan ini memperkuat multipolaritas karena: Memberi alternatif model tata kelola selain model Amerika atau Tiongkok. Menjadikan hukum dan regulasi sebagai alat pengaruh, bukan hanya kekuatan militer. Namun, pendekatan regulatif yang ketat juga berpotensi memicu r...

AI, Tools In Education

Gambar
AI, Tools In Education                                                                                            Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan ekosistem Google Tools di tahun 2026 bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan fondasi baru dalam dunia pendidikan. Secara komprehensif, integrasi ini telah mengubah paradigma dari "pembelajaran massal" menjadi "pembelajaran personal dan adaptif". Berikut adalah opini komprehensif mengenai fenomena ini: 1. Personalisasi Skala Besar: Akhir dari Satu Kurikulum untuk Semua Dahulu, mustahil bagi seorang guru untuk memberikan materi yang berbeda bagi 30 siswa dalam satu kelas. Sekarang, melalui fitur seperti Gemini untuk Education, personalisasi menjadi otomatis:  a. Guided Learning: AI tid...