Cendekiawan Sunda dan Arus Pemikirannya: Dari Pegon Sufistik hingga Kritik Ekologis Kontemporer
Cendekiawan Sunda dan Arus Pemikirannya: Dari Pegon Sufistik hingga Kritik Ekologis Kontemporer Ada anggapan lama bahwa khazanah intelektual Sunda lebih miskin dibandingkan Jawa atau Sumatera. Anggapan itu tidak berdasar. Jejak pemikiran cendekiawan Sunda justru menunjukkan dinamika yang kaya: dari tasawuf yang ditulis dalam aksara Pegon, kritik sosial di masa kolonial, hingga refleksi ekologis di era krisis iklim. Arus pemikirannya tidak pernah tunggal; ia bergerak dialektis antara kesetiaan pada kearifan lokal dan keterbukaan terhadap gagasan global. Akar Sufistik dan Tradisi Pegon Pada lapisan paling awal, cendekiawan Sunda menancapkan identitas intelektualnya melalui tradisi tulis Pegon. Syekh Abdul Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya, misalnya, menulis Martabat Alam Tujuh dalam bahasa Sunda Pegon untuk menjelaskan ajaran sufi yang dipengaruhi konsep wahdat al-wujud Ibnu Arabi. Ini bukan sekadar translasi doktrin asing, melainkan upaya menerjemahkan metafisika Islam yang rumit ke dal...