Postingan

Hukum yang Tidak Berbicara: Celah Regulasi HKI atas Karya AI dan Kerentanan Peneliti Indonesia

Gambar
Hukum yang Tidak Berbicara: Celah Regulasi HKI atas Karya AI dan Kerentanan Peneliti Indonesia Pendahuluan Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence—AI) telah merasuk ke dalam seluruh sendi kehidupan akademik dan kreatif. Seorang peneliti di Makassar menghasilkan artikel ilmiah dengan bantuan generative AI; seorang musisi di Bandung menciptakan lagu menggunakan algoritma; seorang fotografer di Jakarta menyunting karyanya dengan machine learning. Di tengah banjir inovasi ini, pertanyaan mendasar mengemuka: Apakah hukum Indonesia mengakui dan melindungi hasil karya yang diciptakan dengan bantuan AI? Dan jika tidak, seberapa rentankah posisi para peneliti dan kreator Indonesia? Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta) dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2016 tentang Paten (UU Paten) yang menjadi fondasi utama rezim Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia, sama sekali tidak menyentuh subjek ciptaan yang dihasilkan dengan bantuan AI. Sebagaimana diaku...

OPINI: Dari "Wakil Daerah" Menuju "Wakil Bumi": Merajut Merdeka Persemakmuran Nusantara Melalui Green Democracy

OPINI: Dari "Wakil Daerah" Menuju "Wakil Bumi": Merajut Merdeka Persemakmuran Nusantara Melalui Green Democracy 1. Pendahuluan: Menggeser Paradigma Kedaulatan dari Teritorial ke Ekologis Gagasan Ketua DPD RI, Sultan Baktiar Najamudin, yang disambut baik oleh Rocky Gerung, bahwa DPD harus bertransformasi dari sekadar "Wakil Daerah" menjadi "Wakil Bumi", adalah sebuah terobosan filosofis-politik yang radikal. Ini bukan sekadar perubahan narasi, melainkan pergeseran paradigma kedaulatan: dari kedaulatan yang dibatasi garis batas administratif kolonial (provinsi/kabupaten) menuju kedaulatan yang berbasis pada kesatuan ekologis, budaya, dan sejarah. Konsep ini sangat kompatibel dengan visi "Merdeka Persemakmuran Nusantara Sundaland". Jika "Nusantara Sundaland" dipahami sebagai entitas geopolitik baru yang menyatukan kepulauan Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan sebagian Filipina berdasarkan kesamaan geologis (paparan Sunda)...

Paradoks AI dalam Riset Ilmiah – Ketika Temuan Empiris Menjadi Bukti Valid, Kendala HKI Tak Harus Menghentikan Jejak Peneliti

Paradoks AI dalam Riset Ilmiah – Ketika Temuan Empiris Menjadi Bukti Valid, Kendala HKI Tak Harus Menghentikan Jejak Peneliti Pendahulutan Pertemuan antara hukum kekayaan intelektual (HKI) dengan kecerdasan buatan (AI) dalam ranah riset ilmiah di Indonesia merupakan sebuah persinggungan yang sarat paradoks. Di satu sisi, para peneliti didorong untuk menghasilkan publikasi ilmiah dan temuan-temuan yang inovatif sebagai bagian dari kontribusi keilmuan global. Di sisi lain, penggunaan AI dalam proses riset membawa serta konsekuensi hukum yang rumit, terutama ketika hak cipta (copyright) atas konten yang dihasilkan AI menjadi tanda tanya besar. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: Apabila seorang peneliti secara jujur dan transparan menggunakan AI untuk mendukung proses risetnya, lalu berhasil membuktikan secara empiris validitas dan signifikansi keilmuan dari hasil riset tersebut, apakah kendala pada sisi HKI seharusnya menjadi penghalang mutlak bagi peneliti untuk melanjutkan kiprah k...

Seharusnya Ensiklopedia Sunda Berawal Dari Story Kemudian, Atlantis, Sundaland: Linimasa Pengetahuan dari Mitos ke Fakta Ilmiah

Seharusnya Ensiklopedia Sunda Berawal Dari Story Kemudian, Atlantis, Sundaland: Linimasa Pengetahuan dari Mitos ke Fakta Ilmiah Oleh: Rohmandar Asep Abstrak Artikel ini mengupas tesis bahwa Ensiklopedia Sunda—sebagai sistem pengetahuan komprehensif tentang alam, manusia, dan budaya Sunda—sesungguhnya berawal dari tiga lapis fondasi epistemologis yang saling bertaut: (1) lapis story (narasi lisan dan mitologi Sunda), (2) lapis Atlantis (hipotesis dan perdebatan tentang peradaban maju yang tenggelam), dan (3) lapis Sundaland (fakta geologis tentang daratan purba yang kini terendam). Ketiganya membentuk sebuah linimasa pengetahuan yang bergerak dari ranah mitos dan narasi menuju ranah fakta ilmiah yang terverifikasi, namun tetap mempertahankan unsur cerita sebagai benang merah yang menyatukan semuanya. Dengan merunut sumber-sumber dari naskah kuno seperti Sang Hyang Siksa Kandang Karesian dan Tutur Bwana, hipotesis atlantologis dari Arysio Nunes dos Santos dan Danny Hilman Natawidjaja, hi...