RUANG YANG TIDAK BERSUARA
RUANG YANG TIDAK BERSUARA Sebuah Cerpen I. Laras duduk di kursi ketiga dari kiri, baris kedua dari belakang. Ia selalu memilih tempat yang sama — sebuah koordinat yang ia hitung dengan cermat sejak hari pertama: cukup jauh dari papan tulis untuk tidak dipanggil, cukup dekat dari pintu untuk bisa menelan napas jika dadanya mulai mengencang seperti seseorang yang sedang menggenggam batu. Pagi itu, Bu Wening memasuki kelas dengan setumpuk kertas di tangan dan senyum yang, bagi kebanyakan murid, terasa biasa. Bagi Laras, senyum itu adalah sinyal peringatan. Senyum seperti itu biasanya mendahului sesuatu: pengumuman presentasi, tanya jawab mendadak, atau permainan kelompok yang mengharuskan ia berbicara di depan mata-mata yang diam namun terasa seperti juri. "Hari ini kita akan berdiskusi tentang revolusi industri,” kata Bu Wening, meletakkan kertas-kertas itu di meja tanpa suara yang berarti. "Saya ingin setiap kalian menyampaikan satu pendapat. Bebas. Tidak ada yang ...