Pertautan Resonansi dalam Dialog Filsafat: Membedah Gagasan Martin Heidegger dan Mulla Sadra
Pertautan Resonansi dalam Dialog Filsafat: Membedah Gagasan Martin Heidegger dan Mulla Sadra Dalam sejarah pemikiran filsafat, jarang terjadi pertemuan antara dua tokoh yang terpisah oleh waktu, geografi, dan tradisi teologis, namun bertemu dalam satu pertanyaan mendasar: Apa itu Ada (Being/Existence)? Martin Heidegger (1889–1976), filsuf eksistensialis Jerman, dan Mulla Sadra (Sadr al-Din al-Shirazi, c. 1572–1640), hakim metafisik dari Persia Safawi, mewakili dua puncak pemikiran ontologis dalam tradisi Barat dan Islam. Meskipun tidak pernah berdialog secara langsung, gagasan mereka menunjukkan "pertautan resonansi" yang mendalam, terutama dalam kritik mereka terhadap metafisika tradisional dan penegasan kembali primasi eksistensi. Artikel ini akan membedah secara komprehensif titik temu dan perbedaan antara kedua pemikir tersebut, dengan merujuk pada studi komparatif seperti karya Alparslan Acikgenc, "Being and Existence in Sadra and Heidegger: A Comparative Ontology...