Postingan

Hari Tatar Sunda (18 Mei 669 – 18 Mei 2026)

Gambar
Hari Tatar Sunda (18 Mei 669 – 18 Mei 2026) Hari Tatar Sunda yang ditetapkan pada 18 Mei 2026 melalui Pergub Jawa Barat No. 13 Tahun 2026 adalah sebuah tonggak penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Sunda. Momentum ini menandai 1357 tahun sejak Maharaja Tarusbawa mengganti nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda pada 18 Mei 669 M.   1. Makna Historis Penetapan Hari Tatar Sunda bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan pengakuan atas akar sejarah yang membentuk identitas masyarakat Jawa Barat. Peristiwa Tarusbawa adalah simbol transisi, dari kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha menuju kerajaan yang lebih menekankan identitas lokal Sunda. Dengan demikian, tanggal ini menjadi penanda lahirnya entitas politik dan budaya yang kemudian dikenal sebagai Tatar Sunda. 2. Dimensi Budaya Hari Tatar Sunda memberi ruang bagi masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur seperti silih asah, silih asih, silih asuh. Nilai ini relevan di ten...

Narasi “Rupiah Melemah Menguntungkan” Adalah Ilusi yang Menyesatkan Rakyat

Gambar
Narasi “Rupiah Melemah Menguntungkan” Adalah Ilusi yang Menyesatkan Rakyat Di tengah turbulensi ekonomi yang kembali mengguncang Indonesia, kita dihadapkan pada dua realitas yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, pemerintah melalui narasi-narasi populis di media sosial mencoba meyakinkan kita bahwa pelemahan rupiah adalah berkah yang harus disyukuri—eksportir diuntungkan, “mafia impor” dipersulit, dan lapangan kerja akan tercipta. Di sisi lain, data objektif dan realitas politik justru menunjukkan potret muram: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi yang terburuk di Asia, kepercayaan investor asing merosot, kabinet pemerintahan membengkak demi akomodasi politik, dan kesejahteraan para pendidik tinggi—jantung inovasi bangsa—masih menjadi bulan-bulanan dalam perbandingan regional. Pertanyaannya, apakah pelemahan rupiah ini benar-benar “terkendali” dan membawa manfaat bagi rakyat, ataukah ia hanya ilusi yang menutupi borok tata kelola ekonomi dan politik kita? Mitos ...

KLARIFIKASI TERBUKA STATUS AFILIASI DAN PROTES ATAS MISREPRESENTASI DATA OLEH PENERBIT JURNAL INFORMATIKA

Gambar
KLARIFIKASI TERBUKA STATUS AFILIASI DAN PROTES ATAS MISREPRESENTASI DATA OLEH PENERBIT JURNAL INFORMATIKA Kepada Yth.: 1. Dewan Redaksi Jurnal Informatika 2. Pengurus KOPMA & Rektorat Universitas Telkom Bandung 3. Komunitas Akademik Indonesia Dari: Asep Rohmandar   Peneliti Independen | Mantan Staf KOPMA Telkom University   Email: rasep7029@gmail.com   Perihal: Koreksi Urgen Atas Pencantuman Afiliasi Institusi Tanpa Kualifikasi "Eks-Aktif" dan Penghapusan Identitas Penulis Melalui pernyataan ini, saya, Asep Rohmandar, ingin meluruskan ketidakakuratan serius pada artikel berjudul “Ketahanan Operasional Teknologi Komputer...” di Jurnal Informatika, Vol. 1 No. 2 (2026). 1. FAKTA STATUS AFILIASI SAYA Saya mengakui bahwa saya pernah bekerja di KOPMA Universitas Telkom Saat penulisan dan submit artikel ini, status profesional saya adalah sebagai anggota Masyarakat Peneliti Sundaland (NGO). Oleh karena itu, naskah asli yang saya submit secara ekspl...

Profile Asep Rohmandar Hasil Asisten Grox AI Per Mei 2026

Profile Asep Rohmandar Hasil Asisten Grox AI Per Mei 2026                                        Oleh : Assistant Grox AI                                                                                                       Asep Rohmandar adalah seorang wirausahawan, peneliti mandiri, dan aktivis pemikiran asal Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Ia aktif di media sosial dan organisasi berbasis riset serta pengembangan masyarakat Sunda/Nusantara. Profilnya lebih menonjol di ranah profesional mandiri dan kontribusi pemikiran daripada figur publik nasional yang sangat terkenal. Data Pribadi dan Latar Belakang Tempat Tinggal : Bandung, Jaw...

Opini Komprehensif: Converting Complexity Into Competitive Advantage

Gambar
Opini Komprehensif: Converting Complexity Into Competitive Advantage Oleh : Rohmandar Asep Pendahuluan Kompleksitas adalah keniscayaan dalam dunia bisnis modern. Globalisasi, digitalisasi, regulasi yang berlapis, serta ekspektasi konsumen yang terus berubah menjadikan organisasi berhadapan dengan sistem yang semakin rumit. Namun, kompleksitas tidak selalu berarti hambatan. Jika dikelola dengan tepat, kompleksitas justru bisa menjadi sumber keunggulan kompetitif. Esai ini akan menguraikan bagaimana organisasi dapat mengonversi kompleksitas menjadi kekuatan strategis, dengan meninjau aspek operasional, teknologi, pengambilan keputusan, adaptasi bisnis, risiko, serta implikasi sosial. Bab I: Kompleksitas sebagai Realitas Bisnis 1.1 Definisi Kompleksitas Kompleksitas dalam bisnis mencakup interaksi variabel yang banyak, ketidakpastian tinggi, serta dinamika yang sulit diprediksi. Ia bisa muncul dari: - Struktur organisasi yang berlapis.   - Teknologi yang terus berkemb...

Numena dan Fenomena dalam Pandangan Masyarakat Jawa

Kajian dari berbagai sumber menunjukkan bahwa konsep noumena (numena) dan fenomena dalam filsafat Barat—khususnya dari Immanuel Kant—dapat dipadankan secara produktif dengan pandangan dunia masyarakat Jawa . Dalam Kantian, fenomena adalah realitas yang tampak dan dapat ditangkap indera, sedangkan noumena adalah realitas “di balik” yang tidak langsung diketahui ( thing-in-itself ). Dalam konteks Jawa, pembagian ini tidak selalu dipisahkan secara tegas, melainkan dipadukan secara harmonis melalui konsep rasa, kebatinan, dan simbolisme budaya . Tradisi Jawa justru menekankan bahwa fenomena adalah “pintu masuk” menuju pemahaman noumena, bukan batas pengetahuan semata. 1. Pendahuluan Konsep numena dan fenomena merupakan salah satu pilar penting dalam filsafat modern yang diperkenalkan oleh Immanuel Kant. Ia membedakan antara dunia yang tampak (fenomena) dan dunia yang berada di baliknya (noumena), yang tidak dapat diketahui secara langsung oleh akal manusia. Namun, ketika konsep ini dibac...

Cahaya dari Pasundan: Peran dan Pemikiran Tokoh Pendidikan di Tatar Sunda

Cahaya dari Pasundan: Peran dan Pemikiran Tokoh Pendidikan di Tatar Sunda Pendahuluan Tatar Sunda, atau wilayah Jawa Barat dan Banten, memiliki sejarah panjang dalam pergerakan pendidikan nasional Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan, para intelektual Sunda telah menyadari bahwa keterbelakangan masyarakat pribumi, khususnya perempuan, berakar pada ketiadaan akses terhadap pengetahuan. Berbeda dengan gerakan pendidikan di Jawa Tengah yang sangat kental dengan nuansa kejawen dan nasionalisme politik (seperti Taman Siswa), gerakan pendidikan di Tatar Sunda sering kali memadukan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal (silih asah, silih asih, silih asuh), dan emansipasi perempuan. Artikel ini mengulas peran strategis tokoh-tokoh seperti Raden Dewi Sartika, Raden Ayu Lasminingrat, dan KH. Sholeh Iskandar dalam membentuk wajah pendidikan Indonesia. 1. Raden Dewi Sartika: Emansipasi Melalui Sekolah Keutamaan Istri Raden Dewi Sartika (1884–1947) adalah ikon pendidikan perempuan di Jawa Barat. Lah...