Badai Berlalu, Luka Menganga: Krisis Global dari Pandemi hingga Pemulihan yang Timpang
Badai Berlalu, Luka Menganga: Krisis Global dari Pandemi hingga Pemulihan yang Timpang
Tahun 2020 menjadi batas tegas sejarah peradaban modern. Dunia yang terhubung dalam pusaran globalisasi tiba-tiba terhenti. Pandemi COVID-19 bukan sekrisis kesehatan, melainkan pemicu disrupsi ekonomi terdalam sejak Depresi Besar . Namun, ketika dunia mulai berbenah, badai kedua datang. Invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 menciptakan guncangan energi dan pangan yang memperparah inflasi dan mengubah tatanan geopolitik . Artikel ini mengupas secara kronologis dan komprehensif bagaimana rangkaian krisis ini terjadi, dampaknya yang mendalam, serta proses pemulihan yang timpang dan penuh tantangan.
1. Guncangan Awal: Pandemi dan "The Great Reversal"
Pandemi COVID-19 memaksa pemerintah di seluruh dunia menerapkan lockdown dan pembatasan mobilitas. Aktivitas ekonomi berhenti mendadak. Rantai pasok global, yang selama ini menjadi tulang punggung efisiensi industri, langsung terputus. Penelitian dari Aral dkk. menunjukkan bahwa penjualan perusahaan-perusahaan AS yang bergantung pada pemasok dari China merosot tajam pada paruh pertama 2020 akibat terhentinya produksi di negara asal virus tersebut pertama kali muncul .
Dampaknya tidak hanya dirasakan korporasi besar, tetapi juga negara. Sebuah studi komprehensif yang dirilis oleh Centre for Economic Policy Research (CEPR) pada 2024 bahkan menyebut fenomena ini sebagai "The Great Reversal" (Pembalikan Hebat). Menurut M. Ayhan Kose, seorang ekonom terkemuka di Bank Dunia dan Brookings Institution, guncangan pandemi dan krisis yang tumpang-tindih setelahnya telah menyebabkan kemunduran pembangunan .
"Selama 2020-2024, pendapatan per kapita di separuh negara IDA (negara-negara termiskin yang memenuhi syarat pinjaman lunak Bank Dunia) tumbuh lebih lambat dibandingkan negara kaya. Satu dari tiga negara IDA lebih miskin dibandingkan sebelum pandemi," tulis Kose dan timnya dalam laporan tersebut .
Di tingkat mikro, perusahaan berjuang melawan kebangkrutan. Penelitian di Indonesia oleh Zulpahmi dkk. mengungkap bahwa selama pandemi, faktor-faktor seperti profitabilitas, inflasi, dan suku bunga berkontribusi positif terhadap kesulitan keuangan (financial distress) perusahaan non-keuangan . Sementara itu, studi lain di Universitas Diponegoro menemukan bahwa kondisi financial distress memicu manajer perusahaan untuk melakukan manajemen laba dengan metode income-decreasing (menurunkan laba) sebagai strategi bertahan .
2. Badai Susulan: Perang, Energi, dan Krisis Biaya Hidup
Ketika roda ekonomi mulai berputar lambat, invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 menghancurkan harapan pemulihan cepat. Konflik ini memicu krisis energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Fatih Birol, Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), dengan tegas menyatakan situasi ini sebagai krisis energi pertama yang sesungguhnya dalam skala global .
"Rusia telah menjadi pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia, tetapi pengurangan pasokan gas alam ke Eropa dan sanksi Eropa telah memutus salah satu arteri utama perdagangan energi global," jelas Birol dalam World Energy Outlook 2022 .
IEA mencatat harga gas alam melonjak ke level yang belum pernah terlihat, mencapai setara USD 250 per barel minyak. Harga batu bara juga memecahkan rekor. Akibatnya, 90% tekanan kenaikan biaya listrik di seluruh dunia disumbang oleh tingginya harga gas dan batu bara .
Dampaknya langsung merembet ke sektor pangan. Rusia dan Ukraina adalah lumbung gandum dunia. Penelitian oleh Alghifari dan Apriwandi membuktikan bahwa perang ini secara signifikan memengaruhi pasar modal dan kinerja saham, terutama di subsektor makanan dan minuman, akibat kenaikan harga gandum dan minyak sawit . Para ekonom menyebut fenomena ini sebagai penyumbatan pasokan ganda (double supply shock).
3. Respon Kebijakan: Antara Inflasi dan Ancaman Resesi
Kombinasi permintaan yang pulih pasca-pandemi dan pasokan yang tersendat akibat perang melambungkan inflasi ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Bank-bank sentral di seluruh dunia, dipimpin oleh The Fed AS, merespons dengan agresif menaikkan suku bunga acuan.
Seorang ekonom dan dosen UGM, dalam analisisnya di Kompas.com pada akhir 2022, menggambarkan situasi ini sebagai lingkaran setan (vicious circle) .
"Kebijakan moneter yang ketat dibarengi dengan disiplin kebijakan fiskal perlu dilakukan sementara untuk mendinginkan perekonomian. Namun, miscalculation dalam pengetatan kebijakan moneter global dapat berakibat pada apresiasi dollar AS yang berlebihan dan depresiasi mata uang di dalam negeri," tulisnya .
Kekhawatiran akan resesi global semakin nyata. IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2022 memproyeksikan perlambatan ekonomi yang merata. Rishi Sunak, yang baru saja menjabat Perdana Menteri Inggris kala itu, bahkan mengakui negaranya sedang menghadapi krisis ekonomi yang mendalam .
4. Pemulihan yang Timpang dan Terfragmentasi
Memasuki tahun 2023 dan 2024, dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi prosesnya berjalan sangat timpang. Ekonom senior Ryan Kiryanto, dalam opini di Media Indonesia, menyoroti adanya divergensi atau fragmentasi pemulihan ekonomi .
Perekonomian AS menunjukkan ketahanan yang luar biasa berkat konsumsi domestik yang kuat. Sebaliknya, Zona Eropa, terutama Jerman, terpuruk karena ketergantungannya pada energi Rusia dan perlambatan permintaan dari China .
Gita Gopinath, Wakil Pertama Direktur Pelaksana IMF, memperingatkan bahaya fragmentasi ini .
"Sekarang ada tanda-tanda jelas bahwa investasi asing langsung global tersegmentasi di sepanjang garis geopolitik... Bentuk ekstrem fragmentasi geoekonomi dalam perdagangan dapat menghapus 7% dari PDB global dalam jangka menengah," kutip Kiryanto dari pernyataan Gopinath .
Pemulihan juga tidak merata antarnegara. Negara-negara berkembang yang masuk dalam kategori IDA (negara miskin dengan utang tinggi) tertinggal jauh. Sementara itu, negara-negara seperti India, Indonesia, dan Vietnam menunjukkan kinerja cemerlang dengan pertumbuhan di atas 5%, menjadi penyeimbang melambatnya ekonomi Eropa .
Di sisi energi, IEA melihat titik balik. Krisis ini justru mempercepat transisi energi. Birol mencatat bahwa kebijakan baru di pasar-pasar utama, seperti Inflation Reduction Act di AS, mendorong investasi energi bersih. Untuk pertama kalinya, skenario berdasarkan kebijakan yang ada menunjukkan puncak permintaan untuk semua bahan bakar fosil .
"Menjadikan peningkatan penggunaan bahan bakar fosil ini terbalik sambil terus memperluas ekonomi global akan menjadi momen penting dalam sejarah energi," tegas Birol .
5. Refleksi dan Makna
Perjalanan dari pandemi menuju pemulihan telah mengajarkan dunia tentang kerentanan yang saling terhubung. Krisis yang terjadi secara berlapis ini membuktikan bahwa guncangan kesehatan dapat dengan cepat bertransformasi menjadi guncangan ekonomi, energi, dan geopolitik.
Negara-negara berkembang yang paling rentan mengalami kemunduran pembangunan yang parah (The Great Reversal), sementara negara kaya pulih lebih cepat namun menghadapi fragmentasi. Pemulihan yang ada saat ini bukanlah kembalinya ke "normal" lama, melainkan pembentukan tatanan baru yang lebih kompleks, dengan transisi energi sebagai salah satu agenda utama dan rivalitas geopolitik sebagai warna baru kerja sama global. Ke depan, kebijakan yang komprehensif, dukungan keuangan internasional yang konsisten, serta kerja sama global yang kuat menjadi kunci agar tidak ada satu pun negara yang tertinggal dalam perlombaan menuju masa depan yang lebih stabil dan berkelanjutan .
Komentar
Posting Komentar