Analisis Psiko-Filosofis tentang Pernyataan Kontroversial Donald Trump

Analisis Psiko-Filosofis tentang Pernyataan Kontroversial Donald Trump

Oleh: Asep Rohmandar
Pengamat Psikologi dan Filsafat Politik Internasional

Pembukaan: Pernyataan yang Mengguncang Tatanan Global

Dalam wawancara dengan The New York Times yang dipublikasikan pada 8 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan yang mengejutkan dunia. Ketika ditanya apakah ada batasan terhadap kekuasaan globalnya, Trump menjawab: "Yeah, there is one thing. My own morality. My own mind. It's the only thing that can stop me." Ia menambahkan dengan tegas: "I don't need international law. I'm not looking to hurt people."  Ketika "Moralitas Sendiri" Menjadi Satu-satunya Batasan Kekuasaan dan Kekayaan, apa kata moral universal dan  demokrasi internasional? Dan hukum internasional? 

Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik. Ini adalah jendela terbuka ke dalam struktur moral-psikologis yang mendasari pemikiran salah satu pemimpin paling kontroversial dalam sejarah modern. Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, dan di tengah ancaman Trump terhadap beberapa negara lain, termasuk Denmark terkait Greenland.

Artikel opini ini akan menganalisis secara mendalam landasan psikologis dan filosofis dari pernyataan Trump tersebut, dengan dukungan kutipan dari para ahli psikologi, filsafat, dan pengamat politik.

I. Fondasi Psikologis: Narsisisme Malignan dan Trauma Masa Kecil

a. Diagnosis dari Dalam Keluarga

Mary Trump, keponakan Trump yang juga seorang psikolog klinis dengan gelar doktor, memberikan analisis paling intim tentang paman presiden-nya. Dalam bukunya yang kontroversial, ia menulis bahwa "Donald's pathologies are so complex and his behaviors so often inexplicable that coming up with an accurate and comprehensive diagnosis would require a full battery of psychological and neuro-physical tests, that he'll never sit for."

Meskipun demikian, Mary Trump tidak ragu untuk menyimpulkan: "I have no problem calling Donald a narcissist ... but the label gets us only so far." Ia menjelaskan bahwa Trump memenuhi semua sembilan kriteria Narcissistic Personality Disorder (NPD) sebagaimana didefinisikan dalam DSM-5, manual diagnostik gangguan mental yang digunakan para profesional kesehatan mental.

b. Akar Trauma: Keluarga yang Disfungsional

Untuk memahami bagaimana Trump sampai pada titik di mana ia percaya bahwa "moralitas sendiri" adalah satu-satunya batasan kekuasaannya, kita harus melihat ke masa kecilnya. Mary Trump menggambarkan lingkungan keluarga yang sangat destruktif:

"She was the kind of mother who used her children to comfort herself rather than comforting them. She attended to them when it was convenient for her, not when they needed her to," tulis Mary tentang ibu Donald Trump. Sementara itu, ayahnya, Fred Trump, "seemed devoid of emotionality or empathy. To Trump's father, Fred, neediness of any kind meant weakness."

Mary Trump menjelaskan dampak lingkungan ini: "By limiting Donald's access to his own feelings and rendering many of them unacceptable, Fred [Trump Sr.] perverted his son's perception of the world and damaged his ability to live in it."

Yang paling traumatis adalah menyaksikan penghancuran psikologis kakaknya, Freddy Trump Jr., oleh sang ayah. "Donald... destroyed my father. I can't let him destroy my country," tulis Mary Trump dengan emosi yang dalam.

Dalam sistem nilai keluarga Trump, "in life, there can only be one winner, and everybody else is a loser." Lebih jauh lagi, "one's financial worth was self-worth" — prinsip yang akan membentuk seluruh worldview Donald Trump.

c. Malignant Narcissism: Diagnosis yang Paling Destruktif

Ratusan profesional kesehatan mental telah berbicara tentang kondisi psikologis Trump. Dalam sebuah surat terbuka yang ditandatangani oleh 233 profesional kesehatan mental, mereka memperingatkan: "His symptoms of severe, untreatable personality disorder—malignant narcissism—makes him deceitful, destructive, deluded, and dangerous."

Psikolog John Gartner, yang mengajar di Johns Hopkins University Medical School selama 28 tahun, menjelaskan: "Trump suffers from malignant narcissism, a diagnosis [that is] far more toxic and dangerous than mere narcissistic personality disorder because it combines narcissism with three other severely pathological components: paranoia, sociopathy, and sadism."

Gartner menegaskan: "This type of leader pops up all throughout history, and they're always extraordinarily disruptive. What is so strange is that we're not used to seeing this type of leader in America."

Lebih mengkhawatirkan lagi, malignant narcissism yang diderita Trump, menurut para ahli, mencakup empat komponen kunci. Citing the American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, the mental health professionals argue that Trump meets the diagnostic criteria for narcissistic, antisocial and paranoid personality disorder. These are "all made worse by his intense sadism, which is a symptom of malignant narcissism," they claim.

Sebagai bukti konkret dari sadisme psikologis ini, surat terbuka tersebut menyebutkan: "According to first-hand accounts, Trump watched the violence he unleashed on January 6 for three hours on TV with 'glee', watching his favorite parts 'over and over' on 'rewind'."

c. Shame Intolerance: Ketidakmampuan Menoleransi Rasa Malu

Salah satu aspek paling kritis dari psikologi Trump adalah ketidakmampuannya yang absolut untuk menoleransi rasa malu atau mengakui kesalahan. Sepanjang kehidupan publiknya, Trump tidak pernah meminta maaf — sebuah fenomena yang luar biasa langka bahkan di kalangan narcissist.

Mary Trump menjelaskan bahwa ayah mereka "perverted his son's perception of the world" dengan menciptakan sistem nilai di mana kerentanan emosional sama dengan kelemahan yang fatal. Hasilnya adalah kepribadian yang "became profoundly needy as a result of childhood neglect but lacked the means of processing his emotions. He got stuck in an endless feedback loop of self-aggrandizement and self-loathing."

Ini menjelaskan mengapa Trump begitu reaktif terhadap kritik dan mengapa ia selalu harus "menang" dalam setiap interaksi. Seperti yang dijelaskan Mary Trump, "Every one of Donald's transgressions became an audition for his father's favor, as if he were saying, 'See, dad, I'm the tough one.'"


 II. Landasan Filosofis: Transaksionalisme dan Amoralitas Eksistensial

1. Transaksionalisme Ekstrem sebagai Prinsip Hidup

Jika kita melihat pola perilaku Trump sepanjang kariernya — baik sebagai pengusaha maupun sebagai politisi — satu prinsip konsisten muncul: semua hubungan adalah transaksional. Tidak ada tempat untuk altruisme, loyalitas yang tidak bersyarat, atau kewajiban moral universal.

Pernyataan Trump tentang Greenland sangat mengungkapkan worldview ini. Dalam wawancara yang sama dengan New York Times, ia mengatakan: "Ownership is important. The land mass contains rare earth minerals and is a key strategic point for the U.S. military. Trump said he needed to possess the landmass to be 'psychologically' prepared for success."

Perhatikan bahasa yang digunakan: "ownership," "possess," "psychologically needed for success." Ini bukan bahasa diplomasi atau kepentingan nasional yang terukur. Ini adalah bahasa kepemilikan personal, seolah-olah Greenland adalah properti real estat yang akan meningkatkan harga diri Trump.

Deputy White House Chief of Staff Stephen Miller mengungkapkan filosofi ini dengan lebih terang-terangan ketika ia memperingatkan bahwa the US now lives in a world "that is governed by strength, that is governed by force, that is governed by power."

2. Amoralitas Eksistensial: Penolakan Norma Moral Universal

Pernyataan Trump bahwa "moralitas sendiri" adalah satu-satunya batasan mengungkapkan struktur moral yang sangat berbahaya: solipsisme moral. Dalam struktur ini, tidak ada referensi eksternal — tidak ada Tuhan, tidak ada hukum universal, tidak ada prinsip keadilan objektif.

Ketika ditanya lebih lanjut apakah pemerintahannya harus mematuhi hukum internasional, Trump menjawab dengan sangat mengungkapkan: "It depends what your definition of international law is."

Ini bukan sekadar permainan kata. Ini adalah relativisme moral yang radikal — sebuah penolakan bahwa ada standar objektif yang berlaku untuk semua orang, termasuk presiden Amerika Serikat.

Analis CNN dengan tajam mengamati bahwa "Trump's comment will alarm foreigners who blanche at his character. It could also catalyze three years of international turmoil." Lebih jauh lagi, "Trump's ambition is extraordinary. But his belief that America's strength entitles it to territory it does not own recalls the land grabs of history's notorious dictators — not to mention Russia's President Vladimir Putin with Ukraine."

3. Distorsi Nietzscheian: Kekuatan Tanpa Kebijaksanaan

Meskipun Trump mungkin tidak pernah membaca Nietzsche atau mungkin terinspirasi, ada paralel yang menggelisahkan antara retorikanya tentang kekuatan dan beberapa konsep Nietzschean — namun dalam bentuk yang sangat terdistorsi dan disalahpahami.

Nietzsche berbicara tentang "will to power" sebagai dorongan fundamental manusia untuk kreativitas, penguasaan diri, dan autentisitas. Trump tampaknya telah mengadopsi hanya separuh dari filosofi ini: kekuatan sebagai dominasi eksternal, tanpa penguasaan diri atau kebijaksanaan.

Dalam konsep Nietzschean tentang Übermensch (manusia unggul), kualitas yang paling penting adalah kedisiplinan diri, kemuliaan, ketahanan intelektual, dan keberanian untuk menciptakan nilai-nilai sendiri. Trump menunjukkan keberanian untuk menolak norma-norma — tetapi tanpa kedisiplinan diri, tanpa kemuliaan, dan tanpa kapasitas intelektual untuk membenarkan nilai-nilai baru yang ia ciptakan.

Yang lebih berbahaya, Trump tampaknya mempraktikkan bentuk moral ressentiment yang diidentifikasi Nietzsche — tetapi bukan sebagai kritik, melainkan sebagai strategi politik. Ia mengeksploitasi kebencian dan rasa dendam kelompok-kelompok yang merasa dirugikan, mengubah emosi negatif ini menjadi kekuatan politik.

III. Manifestasi Konkret: Dari Teori ke Tindakan

1. Venezuela: Studi Kasus Moralitas Personal vs. Hukum Internasional

Operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari 2026 adalah manifestasi konkret paling dramatis dari filosofi Trump. Operasi ini jelas melanggar kedaulatan Venezuela dan hukum internasional. Tetapi dalam worldview Trump, hal ini dibenarkan karena ia — secara personal — menganggapnya benar.

Presiden Colombia Gustavo Petro mengungkapkan kekhawatirannya dengan gamblang. Dalam wawancara dengan New York Times, Petro mengatakan: "Well, we are in danger. Because the threat is real. It was made by Trump."

Analis politik mengamati bahwa "The daring special forces raid that plucked Venezuelan President Nicolás Maduro from his bed infringed another nation's sovereignty and international law. The operation probably went beyond a president's constitutional prerogative in the use of military force."

Beberapa Senator Republik bahkan memberikan suara untuk memajukan resolusi War Powers untuk membatasi kewenangan presiden menggunakan kekuatan militer terhadap Venezuela — sebuah langkah yang sangat jarang dilakukan oleh partai presiden yang berkuasa.

2. Greenland: Psychologically Needed for Success

Kasus Greenland bahkan lebih mengungkapkan tentang struktur psikologis Trump. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Greenland penting untuk keamanan nasional — klaim yang setidaknya bisa diperdebatkan secara rasional. Sebaliknya, ia dengan terang-terangan mengatakan bahwa kepemilikan Greenland adalah "what I feel is psychologically needed for success."

Ini adalah pengakuan luar biasa: kebijakan luar negeri tidak ditentukan oleh kepentingan nasional yang terukur, tetapi oleh kebutuhan psikologis personal presiden untuk merasa "sukses." Ini adalah narsisisme dalam bentuknya yang paling murni dan paling berbahaya ketika dikombinasikan dengan kekuatan militer terbesar di dunia.

3. Coercive Diplomacy: Kekuatan sebagai Satu-satunya Bahasa

The New York Times mengamati bahwa Trump "made clear that he uses his reputation for unpredictability and a willingness to resort quickly to military action, often in service of coercing other nations."

Panggilan telepon antara Trump dan Presiden Petro selama wawancara adalah "an example of coercive diplomacy in action." Ini bukan diplomasi dalam pengertian tradisional — negosiasi, kompromi, pencarian solusi win-win. Ini adalah ancaman yang dimaksudkan untuk memaksa kepatuhan melalui rasa takut.

IV. Implikasi dan Bahaya: Mengapa Ini Penting

a. Erosi Norma Demokratis

Pernyataan Trump mengungkapkan penolakan fundamental terhadap prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional. Dalam sistem demokratis, kekuasaan eksekutif dibatasi oleh hukum, konstitusi, dan institusi-institusi check and balance. Tetapi Trump melihat semua batasan ini sebagai rintangan terhadap kehendak personalnya.

The Irish Times melaporkan bahwa "Trump suggested that judges only have power to restrict his domestic policy agenda – from the deployment of the National Guard to the imposition of tariffs – 'under certain circumstances'. But he was already considering workarounds."

Lebih mengkhawatirkan lagi, Trump "reiterated that he was willing to invoke the Insurrection Act and deploy the military inside the United States and federalise some National Guard units if he felt it was important to do so."

b. Destruksi Tatanan Internasional

Implikasi internasional dari worldview Trump bahkan lebih dramatis. Sejak akhir Perang Dunia II, tatanan internasional dibangun atas prinsip kedaulatan negara, hukum internasional, dan penyelesaian sengketa melalui institusi multilateral.

Trump secara terbuka menolak semua prinsip ini. Ia menarik AS dari puluhan organisasi internasional, seperti dilaporkan oleh The Irish Times: "it came just hours after Trump and secretary of state Marco Rubio had extracted the United States from dozens of international organisations intended to foster multinational co-operation."

Bagi sekutu AS, ini sangat mengkhawatirkan. Jika presiden AS percaya bahwa hanya "moralitas sendiri" yang membatasi penggunaan kekuatan militer, apa jaminan bahwa sekutu tidak akan menjadi target berikutnya jika mereka tidak mematuhi keinginan Trump?

c. Normalisasi Perilaku Patologis

Mungkin bahaya jangka panjang yang paling serius adalah normalisasi perilaku narsistik dan amoralitas transaksional dalam kehidupan publik. Ketika presiden AS — pemimpin "dunia bebas" — secara terbuka menyatakan bahwa ia tidak memerlukan hukum internasional, ini memberikan izin kepada autokrat di seluruh dunia untuk melakukan hal yang sama.

Seperti yang diamati oleh mantan pejabat John Kelly dan Miles Taylor, pernyataan Trump mengungkapkan "the mind of a fascist."

George Conway, pengacara konservatif dan kritikus Trump, menyimpulkan dengan tajam: "If it wasn't clear by his erratic, self-obsessed behavior, his pathological lying, his lack of moral conscience, his assaults of women, and his blatant disregard for the safety of others, more than 200 experts agree that he is unfit for office."


V. Kontradiksi Internal: Rapuhnya Struktur Moral Trump

1. Transaksionalisme vs. Loyalitas

Salah satu kontradiksi paling mencolok dalam sistem nilai Trump adalah tuntutannya akan loyalitas absolut dari orang lain, sementara ia sendiri hanya menawarkan loyalitas yang bersifat transaksional.

Sepanjang kariernya, Trump telah membuang sekutu, karyawan, dan bahkan anggota keluarga ketika mereka tidak lagi "berguna" baginya. Namun ia mengharapkan — bahkan menuntut — loyalitas tanpa batas dari mereka yang bekerja untuknya.

Ini adalah asimetri fundamental yang mengungkapkan solipsisme moral: aturan yang berbeda berlaku untuk Trump dan untuk semua orang lain.

2. Kekuatan vs. Insecurity

Kontradiksi lain adalah antara proyeksi kekuatan yang konstan dan kerentanan psikologis yang ekstrem. Mary Trump menjelaskan: "He knows deep down that he is nothing of what he claims to be."

Psikoterapis yang menganalisis Trump mengamati bahwa "He got stuck in an endless feedback loop of self-aggrandizement and self-loathing, seeking out sycophants to assure him that he really was great—even though, deep down, he knew he was unloved and incapable of executing even the most basic tasks."

Ini menjelaskan mengapa Trump begitu obsesif tentang rating, ukuran kerumunan, dan metrik kesuksesan lainnya. Ia memerlukan validasi eksternal yang konstan karena tidak memiliki rasa nilai diri yang stabil secara internal.

3. Mengklaim Moralitas, Menolak Standar

Mungkin kontradiksi paling mendasar adalah klaim Trump bahwa ia memiliki "moralitas sendiri" yang membatasi perilakunya, sementara pada saat yang sama ia menolak semua standar moral objektif.

Jika "moralitas" hanyalah apa yang Trump putuskan pada saat tertentu, maka ini bukan moralitas sama sekali — ini adalah kehendak yang tanpa batas, diberi label "moral" untuk membuatnya terdengar dapat diterima.


VI. Perbandingan dengan Kerangka Etis Tradisional

a. Bertentangan dengan Semua Sistem Etika Mayor

Apa yang membuat pernyataan Trump sangat menggelisahkan adalah bahwa ia bertentangan dengan hampir semua sistem etika yang dikembangkan dalam tradisi filosofis Barat dan Timur.

1. Etika Kantian : Immanuel Kant mengajarkan bahwa moralitas harus didasarkan pada imperatif kategoris — prinsip-prinsip universal yang berlaku untuk semua orang. Trump jelas melanggar ini dengan memperlakukan orang lain sebagai means untuk tujuannya, bukan sebagai ends dalam diri mereka sendiri.

2. Utilitarianisme : John Stuart Mill dan Jeremy Bentham mengajarkan bahwa tindakan yang benar adalah yang menghasilkan kebaikan terbesar untuk jumlah terbesar. Trump jelas tidak mempertimbangkan kebaikan kolektif, hanya utilitas personalnya.

3. Etika Virtue : Aristoteles dan tradisi virtue ethics menekankan pengembangan karakter melalui praktik kebajikan seperti keberanian, temperance, keadilan, dan kebijaksanaan. Trump tidak menunjukkan satupun dari kebajikan klasik ini.

4. Etika Kristen : Meskipun Trump sering mengklaim sebagai orang Kristen dan mendapat dukungan kuat dari evangelical Christians, perilakunya bertentangan dengan ajaran inti Kristen. Ketika ditanya apakah ia percaya pada perintah alkitabiah untuk "mencintai musuhmu," Trump dengan jujur mengakui bahwa ia tidak setuju dengan prinsip ini.

b. Konsekuensi dari Relativisme Moral Total

Apa yang ditawarkan Trump sebagai pengganti sistem etika tradisional? Hanya kehendak personalnya yang tidak terbatas. Ini adalah bentuk nihilisme moral yang berbahaya — penolakan bahwa ada standar moral objektif, dikombinasikan dengan klaim bahwa kekuatan memberikan hak.

Seperti yang diamati oleh para ahli, ini adalah "severe, untreatable personality disorder—malignant narcissism—makes him deceitful, destructive, deluded, and dangerous."

VII. Peringatan dari Sejarah: Ketika Moralitas Personal Menggantikan Hukum

Sejarah memberikan banyak contoh tentang bahaya pemimpin yang percaya bahwa mereka berada di atas hukum dan bahwa "moralitas personal" mereka adalah satu-satunya batasan kekuasaan.

Psikolog John Gartner dengan berani membuat perbandingan yang kontroversial namun penting: "It's not that he's as bad as Hitler, or that he's the equivalent of Hitler. But he has the same diagnosis as Hitler."

Gartner menjelaskan bahwa malignant narcissism — kombinasi dari narcissism, paranoia, antisocial personality disorder, dan sadism — adalah "the 'most destructive' personality type" dan bahwa "the same label has been applied to Hitler, Stalin and Mussolini."

Tujuan dari perbandingan ini bukan untuk menyamakan Trump dengan Hitler secara moral, tetapi untuk memperingatkan tentang jenis kepribadian yang, ketika diberi kekuasaan absolut, dapat menyebabkan kehancuran massal. Seperti yang dikatakan Gartner: "Trump's conduct recalls that of some of history's most brutal dictators, and he has already demonstrated his willingness to wield state power to hurt his enemies without remorse."

VIII. Kesimpulan: Tantangan bagi Demokrasi dan Kemanusiaan

Pernyataan Trump bahwa "moralitas sendiri" adalah satu-satunya batasan kekuasaannya bukan sekadar slogan politik yang akan dilupakan dalam siklus berita berikutnya. Ini adalah pengungkapan jujur dari struktur psiko-filosofis yang mendasari worldview-nya — dan oleh karena itu, kebijakan dan tindakannya sebagai presiden.

Struktur ini menggabungkan yang terburuk dari nihilisme moral (penolakan nilai-nilai universal) dengan yang terburuk dari voluntarisme radikal (kehendak sebagai satu-satunya realitas) tanpa kebijaksanaan, kerendahan hati, atau kemuliaan yang seharusnya menyertainya.

A. Pertanyaan Fundamental untuk Masyarakat Demokratis

Fenomena Trump memaksa kita untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan fundamental:

1. Apakah demokrasi dapat bertahan ketika pemimpinnya secara terbuka menolak batasan hukum dan konstitusional?

2. Bagaimana masyarakat melindungi diri dari pemimpin dengan gangguan kepribadian patologis yang terdokumentasi dengan baik?

3. Apakah transaksionalisme ekstrem dapat menjadi basis sistem politik yang stabil dan adil?

4. Bagaimana kita membangun kembali norma moral setelah dihancurkan oleh pemimpin yang percaya bahwa "kekuatan membuat benar"?

B. Peringatan dari Para Ahli

Sebanyak 233 profesional kesehatan mental yang menandatangani surat terbuka menyimpulkan dengan peringatan yang sangat serius: "Clinicians have had years to observe Donald Trump, and his behavior has long been indicative of malignant narcissism. We have a duty to warn the public about the grave danger posed by returning this man to power."

Peringatan ini bukan partisan; ini adalah peringatan profesional berdasarkan dekades pengalaman klinis dan penelitian tentang gangguan kepribadian. Seperti yang dikatakan oleh salah satu psikolog: "I hated President Bush, but it never occurred to me or any of my colleagues that he was mentally ill."

C. Refleksi Akhir: Pilihan Moral Kita

Pada akhirnya, pernyataan Trump menghadapkan kita semua pada pilihan moral. Apakah kita akan menerima dunia di mana pemimpin dapat mengklaim bahwa "moralitas personal" mereka adalah satu-satunya batasan — sebuah dunia tanpa hukum universal, tanpa akuntabilitas institusional, tanpa batas moral yang dapat ditegakkan?

Atau apakah kita akan bersikeras bahwa, dalam kata-kata Aristoteles, manusia adalah "hewan politik" yang hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang diatur oleh hukum yang adil dan norma moral yang dapat dipertahankan secara rasional?

Mary Trump mengakhiri bukunya dengan refleksi yang mengharukan: "I'm a Trump. Everything's about money in this family. But I'm also different from them. Money stood in for everything else. It was literally the only currency that the family trafficked in."

Pertanyaannya adalah: Apakah masyarakat Amerika — dan dunia — akan membiarkan transaksionalisme yang dingin dan amoralitas yang berbahaya ini menjadi "satu-satunya mata uang" dalam politik global?

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan tidak hanya masa depan demokrasi Amerika, tetapi juga tatanan internasional yang telah menjaga perdamaian relatif selama lebih dari tujuh puluh tahun.

Peringatan para profesional kesehatan mental harus didengarkan. Pelajaran sejarah harus diingat. Dan prinsip-prinsip dasar moralitas universal — keadilan, belas kasihan, akuntabilitas, dan penghormatan terhadap martabat manusia — harus dipertahankan.

Jika tidak, kita berisiko kembali ke dunia di mana, seperti yang dikatakan oleh penasihat Trump Stephen Miller, we live in a world "that is governed by strength, that is governed by force, that is governed by power."                                                                 
Bandung Subang, 12 Januari 2026.                 
Artikel ini ditulis berdasarkan wawancara, laporan berita, dan analisis dari para profesional kesehatan mental, filsuf, dan pengamat politik. Semua kutipan bersumber dari publikasi yang dapat diverifikasi dan diakui secara internasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future