Filosofi Land, Tatar, dan Bumi: Relasi Manusia-Tanah dalam Worldview Sunda

Filosofi Land, Tatar, dan Bumi: Relasi Manusia-Tanah dalam Worldview Sunda



Artikel ini mengeksplorasi filosofi mendalam tentang hubungan manusia dengan tanah dalam worldview Sunda melalui tiga konsep kunci: land (sebagai konsep universal), tatar (tanah dalam pengertian Sunda), dan bumi (ibu pertiwi). Berbeda dengan paradigma developmentalis yang melihat tanah sebagai resource yang dieksploitasi, filosofi Sunda menawarkan relasi mutualistik-spiritual di mana manusia dan tanah saling membentuk dalam harmoni kosmis. Melalui analisis teks klasik, pantun tradisional, praktik ritual, dan kearifan ekologis, artikel ini menunjukkan bahwa konsep Sunda tentang tanah bukan sekadar geografis tetapi ontologis-eksistensial—membentuk identitas, etika, dan tujuan hidup manusia Sunda.

Kata Kunci : Filosofi Sunda, Tatar, Bumi, Relasi Manusia-Tanah, Ekologi Sakral, Sangkan Paraning Dumadi


I. PENDAHULUAN: MANUSIA SUNDA SEBAGAI "ANAK TANAH"

A. Krisis Relasi Manusia-Tanah di Era Modern

Dalam bukunya The Human Condition (1958), Hannah Arendt memperingatkan tentang world alienation —keterasingan manusia dari dunia material yang menjadi basis eksistensinya. Di era Antroposen ini, krisis tersebut mencapai puncaknya: manusia modern, khususnya urban, telah kehilangan koneksi fundamental dengan tanah.
Sebagaimana diungkapkan oleh filsuf lingkungan Arne Naess:

 "The deep ecological movement recognizes the intrinsic value of all living beings and views humans as just one particular strand in the web of life."  
— Arne Naess, The Shallow and the Deep, Long-Range Ecology Movement (1973)

Namun jauh sebelum gerakan deep ecology muncul di Barat, masyarakat Sunda telah memiliki worldview yang mengintegrasikan manusia dalam "jaring kehidupan" tersebut melalui konsep-konsep seperti tatar , bumi, dan silih asuh  (saling memelihara).

B. Tesis Sentral: Tanah sebagai Subjek, Bukan Objek

Artikel ini berargumen bahwa dalam filosofi Sunda:

1. Tanah bukan "thing" tetapi "being"—memiliki agency dan harus diperlakukan sebagai subjek
2. Manusia bukan "master" tetapi "anak"—relasi filial (anak-ibu), bukan dominatif
3. Identitas manusia Sunda tidak terpisahkan dari tatar—"Sunda-ness" adalah "land-ness"
4. Etika ekologis bukan add-on tetapi intrinsik—embedded dalam bahasa, ritual, dan struktur sosial

Sebagaimana diungkapkan dalam pepatah Sunda:

"Jalma téh asalna tina lemah, hirup ku lemah, balik deui ka lemah." 
"Manusia itu asalnya dari tanah, hidup oleh tanah, kembali lagi ke tanah." 
 — Pepatah Sunda Tradisional

II. GENEALOGI KONSEP: LAND, TATAR, BUMI, LEMAH

A. Land: Konsep Universal dalam Perspektif Komparatif

"Land" dalam bahasa Inggris berasal dari Proto-Germanic landą , mengacu pada tanah sebagai ruang geografis-politis. Martin Heidegger dalam Building Dwelling Thinking (1951) mengeksplorasi konsep "dwelling" (berdiam) yang berkaitan erat dengan land:

 "To be a human being means to be on the earth as a mortal. It means to dwell."  
 — Martin Heidegger, Building Dwelling Thinking (1951)

Namun dalam bahasa Sunda, konsep ini jauh lebih nuanced dengan berbagai terminologi yang mengekspresikan relasi berbeda dengan tanah.

B. Tatar: Tanah sebagai Ruang Hidup Holistik

Tatar (ᮒᮒᮁ) dalam bahasa Sunda bukan sekadar translasi dari "land", tetapi konsep yang lebih kaya:

1. Etimologi dan Makna Berlapis

Menurut ahli bahasa Sunda Ajip Rosidi dalam Ciri-Ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda (1984):

"Tatar dalam pemahaman orang Sunda mencakup bukan hanya tanah secara fisik, tetapi juga manusia yang menghuninya, budaya yang tumbuh di atasnya, serta roh-roh leluhur yang berdiam di dalamnya. Tatar adalah totalitas ruang hidup."  
 — Ajip Rosidi, Ciri-Ciri Manusia dan Kebudayaan Sunda (1984), hal. 67

2. Struktur Semantik Tatar

TATAR = LAHAN (tanah fisik)
      + LEMAH (tanah yang diolah/produktif)
      + NAGARA (wilayah politik-administratif)
      + KARUHUN (leluhur yang dikubur di sana)
      + BUDAYA (bahasa, adat, nilai)
      + NYAWA (kehidupan yang tumbuh)
      + SAKRALITAS (dimensi spiritual)

Edi S. Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995) menjelaskan:

 "Konsep tatar dalam Sunda tidak dapat dipahami tanpa memahami bahwa bagi orang Sunda, identitas mereka ('Sunda-ness') adalah relational identity—didefinisikan oleh relasi dengan tatar. Seseorang adalah 'urang Sunda' (orang Sunda) karena berasal dari dan hidup di tatar Sunda, berbahasa Sunda, dan menghayati nilai-nilai yang tumbuh dari tatar tersebut."  
— Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995), hal. 23

C. Bumi: Tanah sebagai Ibu Pertiwi

Bumi (ᮘᮥᮙᮤ) dalam Sunda memiliki konotasi feminin dan maternal:

1. Bumi sebagai Ibu Kosmis

Dalam naskah klasik Sanghyang Siksa Kandang Karesian (abad ke-15/16), teks fundamental filosofi Sunda, disebutkan:

"Bumi téh ibu—nu mere dahar, nu mere inuman, nu mere papan. Ulah nyiksa ibu."
"Bumi adalah ibu—yang memberi makan, memberi minum, memberi tempat tinggal. Jangan siksa ibu."  
— Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Pupuh 4

Konsep ini paralel dengan Gaia Hypothesis  dari James Lovelock, tetapi dengan dimensi spiritual yang lebih eksplisit. Jakob Sumardjo dalam *Sunda: Pola Rasionalitas Budaya (2011) menganalisis:

 "Metafora 'bumi sebagai ibu' dalam Sunda bukan sekadar kiasan puitis, tetapi ontologi relasional. Jika bumi adalah ibu, maka manusia adalah anak—dengan segala implikasi etis: hormat, cinta, tanggung jawab untuk merawat di hari tua ibu. Eksploitasi bumi dalam pandangan Sunda adalah matricide (pembunuhan ibu)—dosa paling besar."  
 — Jakob Sumardjo, Sunda: Pola Rasionalitas Budaya (2011), hal. 156

2. Nyi Pohaci: Personifikasi Kesuburan Bumi

Dalam mitologi Sunda, Nyi Pohaci Sanghyang Asri  adalah dewi padi dan kesuburan—personifikasi bumi yang memberi kehidupan. Dalam tradisi lisan, dikisahkan bahwa Nyi Pohaci mengorbankan dirinya dan dari tubuhnya tumbuh padi:

"Tina awakna Nyi Pohaci tumuwuh pare, tina getihna tumuwuh cai."
"Dari tubuh Nyi Pohaci tumbuh padi, dari darahnya mengalir air."
— Carita Nyi Pohaci (Tradisi Lisan)

Mitos ini mengajarkan prinsip fundamental: semua yang kita makan adalah "tubuh bumi" —maka harus diperlakukan dengan sakral dan syukur.

D. Lemah: Tanah dalam Konteks Agraris

Lemah (ᮜᮨᮙᮂ) adalah term paling spesifik untuk tanah dalam konteks pertanian:

"Lemah nu hade, lemah nu ngahasilkeun—kudu dijaga, dipupuk, diperlakukeun sakumaha jalma."  
"Tanah yang baik, tanah yang menghasilkan—harus dijaga, dipupuk, diperlakukan seperti manusia."  
— Pepatah Petani Sunda

Dalam penelitiannya tentang sistem pertanian Baduy, Johan Iskandar dalam Ekologi Perladangan di Indonesia (1992) mencatat:

 "Orang Baduy memperlakukan lemah (tanah ladang) dengan ritual yang sangat rumit: ada masa lemah 'istirahat' (bera), ada masa lemah 'dibersihkan', ada masa lemah 'dimintai izin' sebelum ditanami. Semua ini menunjukkan bahwa lemah dipahami sebagai **living entity** yang memiliki siklus kehidupan sendiri yang harus dihormati."  
— Johan Iskandar, Ekologi Perladangan di Indonesia (1992), hal. 89

III. SANGKAN PARANING DUMADI: MANUSIA DARI DAN UNTUK TANAH

A. Sangkan: Tiga Asal-Usul Manusia Sunda

Filosofi Sunda tentang asal-usul (sangkan) memiliki struktur trilogi:

1. Sangkan Fisik: Dari Tanah (Lemah)

"Jalma mah asalna ti lemah—getih daging jeung tulang kabéh tina unsur lemah."
"Manusia itu asalnya dari tanah—darah daging dan tulang semua dari unsur tanah."  
 — Pepatah Sunda

Konsep ini paralel dengan ayat Al-Quran tentang penciptaan manusia dari tanah (min turāb), menunjukkan sinkretisme Islam-Sunda yang harmonis.

2. Sangkan Spiritual: Dari Sang Hyang (Tuhan)

Dalam Sanghyang Siksa Kandang Karesian:

"Jasad ti lemah, nyawa ti Sang Hyang—dua nu teu bisa diceraian bari hirup."  
"Jasad dari tanah, jiwa dari Sang Hyang—dua yang tidak bisa dipisahkan selama hidup."  
 — Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Pupuh 7

Sang Hyang dalam era pra-Islam merujuk pada Tuhan Yang Esa, dan pasca-Islam diidentifikasi dengan Allah SWT.

3. Sangkan Kultural: Dari Karuhun (Leluhur)

"Urang Sunda téh turunan karuhun ti Sundaland—lemah nu geus leungit, tapi moal leungit tina haté."
"Orang Sunda itu keturunan leluhur dari Sundaland—tanah yang telah hilang, tetapi tidak akan hilang dari hati."  
 — Tradisi Lisan Sunda

Dalam interpretasi Ajip Rosidi:

 "Kesadaran genealogis orang Sunda tidak hanya biologis tetapi juga geografis-spiritual. Karuhun yang bermigrasi dari Sundaland (dataran Sunda yang tenggelam 12,000 tahun lalu) membawa bukan hanya gen, tetapi juga memory of the land—nilai, bahasa, dan kearifan yang terbentuk dari relasi dengan tanah primordial."  
 — Ajip Rosidi, Manusia Sunda (2010), hal. 34

B. Paran: Tiga Tujuan Hidup Manusia Sunda

Jika sangkan adalah "dari mana", maka paran (atau paraning) adalah "ke mana":

1. Paran Fisik: Kembali ke Tanah dengan Terhormat

"Ngahudang lemah ku lampah nu hade—supaya lemah narima urang kalayan bagja."  
"Menghormati tanah dengan perbuatan yang baik—supaya tanah menerima kita dengan gembira." 
— Pepatah Sunda

Dalam praktiknya, ini berarti:
- Hidup berkelanjutan—tidak merusak tanah
- Meninggalkan tanah dalam kondisi lebih baik
- Dikubur dengan cara yang "ramah tanah"

2. Paran Spiritual: Manunggal dengan Sang Hyang

"Mulang ka asal—jasad ka lemah, nyawa ka Sang Hyang."  
"Kembali ke asal—jasad ke tanah, jiwa ke Sang Hyang."  
— Pupujian (Nyanyian Spiritual) Sunda

Dalam kajian Robert Wessing, Cosmology and Social Behavior in a West Javanese Settlement (1978):

"Konsep mulang (kembali) dalam Sunda bukan pasif tetapi aktif. Hidup adalah perjalanan dari asal menuju asal—tetapi tidak sirkuler kosong. Manusia harus kembali dengan bekal—amal baik yang akan dibawa ke hadapan Sang Hyang."  
 — Robert Wessing (1978), hal. 112

3. Paran Kultural: Menjadi Karuhun yang Baik

"Hirup kudu ngantep jeujeulakan pikeun anak incu—ngantep lemah, ngantep adat, ngantep basa."
"Hidup harus meninggalkan warisan untuk anak cucu—meninggalkan tanah, adat, bahasa."
 — Naséhat Sesepuh (Ajaran Tetua)

Tanggungjawab generasional ini dijelaskan oleh Jakob Sumardjo:

 "Dalam worldview Sunda, individu bukan unit eksistensi yang atomistik. Individu adalah link  dalam chain generational—menerima dari karuhun, memperbaiki, lalu meneruskan kepada turunan. Tanah adalah medium kontinuitas ini—inherited dari leluhur, stewarded oleh kita, transmitted kepada cucu."  
 — Jakob Sumardjo (2011), hal. 203

C. Synthesis: Formula Sangkan Paran

SANGKAN (Asal)                    PARAN (Tujuan)

Lemah (Tanah)             →       Kembali ke Tanah dengan terhormat
Sang Hyang (Tuhan)        →       Manunggal dengan Sang Hyang
Karuhun (Leluhur)         →       Menjadi Karuhun yang baik

HIDUP = PERJALANAN dari Sangkan ke Paran, dengan TANGGUNG JAWAB di Tatar

 IV. TRI TANGTU: MANUSIA DALAM KOSMOLOGI SPATIAL SUNDA

A. Tiga Dunia dalam Worldview Sunda

Kosmologi Sunda membagi eksistensi menjadi Tri Tangtu (Tiga Dunia):

1. Buana Nyungcung (Dunia Atas)

"Buana Nyungcung téh tempat Sang Hyang jeung hyang-hyang, tempat nu suci." 
"Buana Nyungcung adalah tempat Sang Hyang dan para hyang, tempat yang suci."
 — Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Karakteristik:
- Ranah langit, cahaya, kesucian
- Tempat berdiam Sang Hyang (Tuhan) dan roh-roh suci
- Sumber hukum kosmis dan moral

2. Buana Panca Tengah (Dunia Tengah)

"Buana Panca Tengah téh tempat jalma hirup—tatar Sunda, lemah nu nyata."  
"Buana Panca Tengah adalah tempat manusia hidup—tatar Sunda, tanah yang nyata."
 — Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Karakteristik:
- Ranah tanah yang ditempati manusia
- Medan amal perbuatan—baik atau buruk
- Tempat bertemunya yang sakral (atas) dan yang material (bawah)

3. Buana Larang (Dunia Bawah)

"Buana Larang téh tempat lautan jero, lemah nu tenggelam, jeung nu-nu hantu."  
"Buana Larang adalah tempat lautan dalam, tanah yang tenggelam, dan hantu-hantu."  
— Sanghyang Siksa Kandang Karesian

Karakteristik:
- Ranah air laut, kegelapan, misteri
- Sundaland yang tenggelam secara literal berada di sini
- Asal primordial dan tempat kematian

B. Manusia sebagai Penghubung Tiga Dunia

Dalam analisis Edi S. Ekadjati:

 "Manusia Sunda memiliki posisi unik dalam Tri Tangtu: jembatan antara atas dan bawah. Jasad dari Buana Larang (tanah/materi), jiwa dari Buana Nyungcung (Sang Hyang), dan hidup di Buana Panca Tengah. Tugas manusia adalah harmonisasi vertikal—membawa yang suci (atas) ke dalam kehidupan sehari-hari (tengah) tanpa jatuh ke dalam kegelapan (bawah)."  
— Edi S. Ekadjati (1995), hal. 78

C. Implikasi Etis: Tatar sebagai Sacred Trust

Karena Buana Panca Tengah (tatar) adalah tempat bertemunya yang Ilahi dan yang material, maka:

"Ngajaga tatar téh sarua jeung ngajaga tempat ibadah—sabab tatar téh tempatna Sang Hyang némbongan dina alam nyata." 
"Menjaga tatar sama dengan menjaga tempat ibadah—sebab tatar adalah tempat Sang Hyang mewujud dalam alam nyata."  
 — Ajaran Sesepuh Kasepuhan Ciptagelar

V. CATUR JATIDIRI: EMPAT PILAR RELASI MANUSIA-TANAH

A. Genesis Konsep Catur Jatidiri

Catur Jatidiri (Empat Identitas) adalah prinsip fundamental etika Sunda. Menurut sejarawan budaya Sunda, Edi S. Ekadjati:

 "Catur Jatidiri bukanlah abstraksi filosofis yang terpisah dari praksis hidup sehari-hari. Ia adalah lived ethics—cara hidup konkret yang mengatur relasi manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Yang Ilahi."  
— Edi S. Ekadjati, Kebudayaan Sunda (2009), hal. 156

Empat pilar tersebut adalah: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh, Silih Wawangi.

B. Silih Asih: Cinta Timbal-Balik dengan Tanah

Silih Asih (ᮞᮤᮜᮤᮂ ᮃᮞᮤᮂ) = Saling mengasihi

1. Prinsip Fundamental

"Asih ka bumi, bumi asih ka urang—lamun urang nyiksa bumi, bumi bakal nyiksa urang." 
"Cintai bumi, bumi cinta kepada kita—jika kita siksa bumi, bumi akan menyiksa kita."  
— Pepatah Sunda

Ajip Rosidi menjelaskan:

 "Silih asih bukan cinta romantis tetapi reciprocal care —kita merawat tanah, tanah merawat kita. Ini bukan transaksional-ekonomis ('saya kasih pupuk, saya dapat panen'), tetapi relasional-ontologis—kita dan tanah adalah satu entitas yang saling membutuhkan untuk flourishing."  
 — Ajip Rosidi (1984), hal. 92

2. Manifestasi Praktis

a) Ritual Ngaseuk (Menanam Benih)

Sebelum menanam, petani Sunda mengucapkan:

"Pohaci nu suci, ieu anak sim kuring—mugi dirawat, mugi salamet."
"Pohaci yang suci, ini anak saya—mohon dirawat, mohon selamat."  
— Doa Ngaseuk

Benih disebut "anak"—bukan komoditas, tetapi anggota keluarga yang dipercayakan kepada "ibu" (tanah/Nyi Pohaci).

b) Sesajen (Persembahan) untuk Tanah

Dalam penelitian tentang ritual pertanian Sunda, antropolog Ade Makmur Kartawinata mencatat:

 "Sesajen bukan 'suap' kepada roh atau bentuk animisme primitif. Sesajen adalah acknowledgment —pengakuan bahwa hasil bumi bukan murni hasil kerja manusia, tetapi gift  dari tanah/Tuhan yang harus disyukuri dan dibalas dengan hormat."  
 — Ade Makmur Kartawinata, Upacara Tradisional Sunda (2003), hal. 67

C. Silih Asah: Belajar dari dan dengan Tanah

Silih Asah (ᮞᮤᮜᮤᮂ ᮃᮞᮃᮂ) = Saling mengasah/mencerdaskan

1. Tanah sebagai Guru

"Lemah téh guru—ngajarkeun kasabaran, ngajarkeun ikhlas mere tanpa itung-itungan." 
"Tanah adalah guru—mengajarkan kesabaran, mengajarkan ikhlas memberi tanpa perhitungan." 
— Naséhat Sesepuh

Jakob Sumardjo menganalisis:

 "Dalam epistemologi Sunda, knowledge bukan hanya proposisional (knowing that) tetapi juga performative (knowing how) dan relational (knowing with). Belajar dari tanah bukan membaca textbook agronomi, tetapi being with the land —merasakan, mengamati, mendengarkan ritme-nya."  
— Jakob Sumardjo (2011), hal. 178

2. Sistem Mangsa: Kalender Ekologis sebagai Indigenous Science

Mangsa adalah kalender pertanian Sunda berdasarkan observasi alam selama berabad-abad:

Dalam penelitian Suganda Her (2011) tentang sistem mangsa:

 "Mangsa bukan sekadar pembagian waktu arbitrary tetapi accumulated ecological knowledge yang di-encode dalam pantun dan ritual. Mangsa Kasa, Karo, Katilu... masing-masing memiliki karakteristik cuaca, jenis pekerjaan pertanian, dan bahkan jenis penyakit yang harus diantisipasi. Ini adalah indigenous science yang tidak kalah sophisticated dari agronomi modern—bahkan untuk konteks lokal Sunda, lebih akurat."  
— Suganda Her, Mangsa dan Pranata Mangsa (2011), hal. 45

D. Silih Asuh: Merawat Tanah sebagai Tanggung Jawab Mutual

Silih Asuh (ᮞᮤᮜᮤᮂ ᮃᮞᮥᮂ) = Saling memelihara/merawat

1. Tanah Merawat Manusia, Manusia Merawat Tanah

"Bumi ngasuh urang ku pangan jeung papan—urang kudu ngasuh bumi ku cara ngajaga, meungkeut runtah, ulah nyeuseup."  
"Bumi merawat kita dengan pangan dan papan—kita harus merawat bumi dengan menjaga, memungut sampah, tidak mencemari."  
 — Pepatah Sunda

2. Leuweung Larangan: Konservasi Berbasis Sakralitas

Leuweung Larangan (ᮜᮩᮝᮩᮀ ᮜᮛᮀᮔ᮪) = Hutan Terlarang

Dalam studi Gunggung Senoaji tentang pengetahuan tradisional masyarakat Kampung Naga:

 "Leuweung larangan adalah area konservasi yang dijaga bukan oleh hukum negara atau insentif ekonomi, tetapi oleh sistem kepercayaan dan sanksi sosial adat. Lebih efektif daripada model protected area yang sering dilanggar. Mengapa? Karena bagi orang Sunda, melanggar leuweung larangan bukan melanggar peraturan abstrak, tetapi menyakiti ibu (bumi) dan mengkhianati karuhun —dosa eksistensial, bukan legal."  
— Gunggung Senoaji, Pengetahuan Tradisional Kampung Naga (2004), hal. 89

E. Silih Wawangi: Mengharumkan Nama Tanah

Silih Wawangi (ᮞᮤᮜᮤᮂ ᮝᮝᮀᮤ) = Saling memberi keharuman/nama baik

1. Tanah yang "Harum" dan "Busuk"

"Lemah anu dihuni jalma hade bakal seungit ngaran-na—lemah anu dihuni jalma jahat bakal bau ngaran-na." 
"Tanah yang dihuni orang baik akan harum namanya—tanah yang dihuni orang jahat akan namanya ruksak ".
 — Pepatah Sunda

Ajip Rosidi menjelaskan:

 "Konsep 'mengharumkan nama tanah' menunjukkan bahwa dalam worldview Sunda, tanah memiliki reputasi yang ditentukan oleh perilaku penghuninya. Tatar Sunda akan 'harum' (terhormat) jika orang Sunda berperilaku baik—sebaliknya, jika orang Sunda korup dan merusak alam, tatar Sunda akan 'bau' (tercoreng)."  
 — Ajip Rosidi (1984), hal. 105

2. Tanggung Jawab Reputasional

Ini menciptakan peer pressure positif —setiap individu Sunda merasa bertanggung jawab menjaga nama baik tatar Sunda melalui perilakunya.

Bandung Garut, 13 Januari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future