Tangis Ibrahim: Puisi untuk Dunia yang Tuli
Tangis Ibrahim: Puisi untuk Dunia yang Tuli
Oleh : Asep Rohmandar
I. TRILOGI KELAPARAN
Bagian Pertama: Matematika Kematian
```
Lima puluh lima juta jiwa
menunggu kematian di Afrika
Bukan karena Tuhan kejam
Bukan karena bumi tandus
Tapi karena dunia punya pilihan:
Rudal atau roti
Senjata atau susu
Perang atau perdamaian
Dua koma tujuh triliun dollar
untuk alat-alat pembunuh massal
Tiga ratus delapan belas miliar
untuk akhiri kemiskinan ekstrem
Sembilan kali lipat lebih banyak
kita pilih untuk membunuh
daripada menyelamatkan
Inilah matematika dosa kita
Inilah perhitungan neraka kita
Inilah bukti kita kehilangan kemanusiaan kita
```
"Dunia menghabiskan jauh lebih banyak untuk berperang daripada membangun perdamaian."
```
Di Nigeria, seorang ibu menangis
anaknya mati di pelukannya
Tidak ada susu
Tidak ada roti
Tidak ada harapan
Sementara di Washington, Pentagon tersenyum
Seratus jet tempur baru
Delapan puluh miliar dollar
Cukup untuk beri makan
Lima puluh lima juta jiwa selama setahun lebih
Tapi kita pilih jet tempur
Kita pilih superioritas udara
Di atas kehidupan anak-anak
Di atas tangisan ibu-ibu
Di atas kemanusiaan itu sendiri
Di Eropa, mereka berunding
Delapan ratus miliar euro
untuk senjata, tank, rudal
"Untuk keamanan kita," kata mereka
Tapi apa itu keamanan
jika dibangun di atas tulang-belulang
anak-anak yang mati kelaparan?
Di Afrika, mereka menggali
lubang kecil di tanah keras
setiap hari, setiap jam
untuk anak-anak yang tidak akan pernah
tumbuh, bermain, tertawa, bermimpi
Karena kita terlalu sibuk
menghitung rudal
untuk menghitung kehidupan
```
"Belanja militer yang berlebihan tidak menjamin perdamaian. Seringkali justru merongrong perdamaian—memicu perlombaan senjata, memperdalam ketidakpercayaan, dan mengalihkan sumber daya dari fondasi stabilitas yang sesungguhnya."
— António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB
Bagian Ketiga: Harga Sebuah Nyawa
```
Satu rudal jelajah: tiga juta dollar
Satu kampung terselamatkan: satu tahun
Satu jet tempur: delapan ratus juta dollar
Dua ratus ribu anak terentaskan dari kemiskinan: selamanya
Satu kapal perang: tiga belas miliar dollar
Empat juta keluarga diberi kehidupan bermartabat
Tapi kita pilih rudal
Kita pilih jet tempur
Kita pilih kapal perang
Dan Ibrahim mati
Dan Fatima mati
Dan Hassan mati
Dan Aisha mati
Dan daftar terus bertambah
setiap hari
setiap jam
setiap detik
Anak-anak dengan nama
dengan wajah
dengan mimpi tentang roti putih
dan susu coklat
mati
Sementara kita menghitung keuntungan
dari penjualan senjata
```
II. MONOLOG SANG IBU
```
Aku adalah ibu
yang memeluk jasad anakku
di tenda pengungsi
di bawah langit yang sama
yang menutupi rumahmu
Aku mendengar kalian berkata
"Tidak ada cukup uang untuk bantuan"
Tapi aku lihat kalian beli
pesawat tempur senilai
seratus kali lipat gaji tahunan
seluruh penduduk kampungku
Aku mendengar kalian berkata
"Prioritas nasional"
"Keamanan pertama"
"Ancaman geopolitik"
Tapi apa itu keamanan
ketika jutaan anak mati?
Apa itu prioritas
ketika kehidupan dianggap lebih rendah
dari logam dan mesin?
Apa itu ancaman
jika bukan kejahatan terhadap kemanusiaan ini?
Anakku tidak pernah minta banyak
Dia hanya ingin makan
Sesuap nasi
Seteguk air bersih
Sedikit obat saat demam
Tapi itu terlalu mahal untuk dunia
Itu terlalu banyak untuk diminta
dari peradaban yang menghabiskan
dua koma tujuh triliun
untuk alat pembunuh
Aku tidak mengerti
ekonomi kalian
politik kalian
strategi pertahanan kalian
Yang aku mengerti:
Anakku seharusnya hidup
Tapi kalian pilih dia mati
dengan memilih membeli senjata
daripada mengirim makanan
Dan sekarang kalian bertanya
kenapa ada pengungsi?
Kenapa ada terorisme?
Kenapa ada ketidakstabilan?
Karena kalian menanam kematian
dan heran menuai keputusasaan
Karena kalian memilih kekerasan
dan bingung menuai konflik
Karena kalian membiarkan kami mati
dan terkejut kami melawan
Ini bukan politik
Ini kemanusiaan
Ini keadilan
Ini hak untuk hidup
Yang kalian tolak
setiap kali kalian pilih
rudal daripada roti
```
"Setiap kenaikan 1% dalam belanja militer sebagai bagian dari GDP dikaitkan dengan pengurangan hampir setara dalam pengeluaran kesehatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah."
— Analisis Statistik Global 2024
III. SURAT DARI KUBUR
```
Namaku Ibrahim
Aku mati ketika umurku lima tahun
Di makamku yang tidak bertanda
aku ingin kalian tahu:
Aku tidak paham apa itu NATO
atau perlombaan senjata
atau strategi nuklir
atau keseimbangan kekuatan
Yang aku paham:
Perutku sakit
Kepalaku pusing
Tubuhku lemah
Dan tidak ada yang datang
Aku dengar
di negara kalian
anak-anak buang makanan
karena tidak suka
Aku tidak bisa bayangkan itu
Aku tidak pernah punya cukup
untuk bisa pilih
Aku bahkan tidak pernah kenyang
satu kali pun
dalam lima tahun hidupku
Aku dengar
satu rudal yang kalian beli
bisa beri makan kampungku
satu tahun penuh
Tapi kalian pilih rudal itu
Dan aku mati
Kakakku Amina bilang
aku anak baik
Aku tidak pernah sakiti siapa-siap
Aku cuma ingin main
dan tertawa
dan makan roti
Tapi dunia bilang
kehidupanku tidak cukup bernilai
untuk menyelamatkan
Dunia bilang
rudal lebih penting
daripada aku
Sekarang aku di bawah tanah
bersama ribuan anak lain
yang mati karena alasan sama:
Kalian pilih perang daripada kami
Dan besok
akan ada anak lain
dengan nama lain
dengan wajah lain
tapi dengan cerita sama:
Mati karena dunia tidak peduli
Kapan ini akan berhenti?
Ketika kalian memutuskan
kehidupan kami
sama berharganya
dengan kehidupan anak kalian
Tapi aku tidak akan hidup
untuk melihat hari itu
Karena hari itu
tidak pernah datang
untuk anak-anak seperti aku
```
IV. PARADOKS PERADABAN
```
Ini adalah abad dua puluh satu
Abad teknologi
Abad kemajuan
Abad peradaban
Tapi ini juga abad di mana:
Kita bisa kirim manusia ke luar angkasa
Tapi tidak bisa kirim makanan
ke kampung-kampung kelaparan
Kita bisa buat jet tempur
yang terbang lebih cepat dari suara
Tapi tidak bisa buat sistem
yang menyelamatkan anak dari kelaparan
Kita bisa habiskan delapan puluh miliar
untuk seratus pesawat perang
Tapi tidak bisa habiskan
tiga ratus miliar
untuk angkat tujuh ratus juta orang
dari kemiskinan ekstrem
Kita bisa bayar CEO perusahaan senjata
dua puluh juta setahun
Tapi tidak bisa bayar
untuk vaksin yang menyelamatkan
jutaan anak
Amerika Serikat: sembilan ratus sembilan puluh tujuh miliar
untuk militer
Hampir sembilan kali lipat
dari yang dibutuhkan
untuk akhiri kemiskinan global
selama tiga tahun
China: tiga ratus empat belas miliar
naik tujuh persen
untuk tahun ketiga puluh tiga berturut-turut
Rusia: seratus empat puluh sembilan miliar
naik tiga puluh delapan persen
di tengah perang
Eropa: tiga ratus tujuh puluh miliar
naik tujuh belas persen
tingkat tertinggi sejak Perang Dingin
Dan Afrika?
Lima puluh lima juta jiwa menunggu mati
Bantuan dipotong
Karena "tidak ada anggaran"
Inilah paradoks peradaban kita:
Kita punya uang untuk membunuh
Tapi tidak untuk menyelamatkan
Kita punya kehendak untuk perang
Tapi tidak untuk perdamaian
Kita punya teknologi untuk menghancurkan
Tapi tidak hati untuk merawat
```
"Dunia menghabiskan $2,7 triliun untuk militer pada 2024—750 kali anggaran reguler PBB, dan hampir 13 kali lipat dari total bantuan pembangunan yang diberikan oleh negara-negara OECD."
— Data SIPRI & PBB 2024
V. TANGISAN AMINA
```
Namaku Amina
Aku sebelas tahun
Aku masih hidup
Tapi aku harap aku tidak
Karena hidup berarti
menyaksikan adikku mati
Menyaksikan ibuku mati
Menyaksikan ratusan anak mati
Setiap hari
Setiap minggu
Setiap bulan
Aku menulis nama mereka
di batu-batu kecil
Hassan, enam tahun
Aisha, empat tahun
Mohammed, delapan tahun
Fatima, tiga tahun
Yusuf, tujuh tahun
Daftar terus bertambah
Dan dunia terus tidak peduli
Aku dengar kalian bicara
tentang statistik
tentang angka
tentang "krisis kemanusiaan"
Tapi kami bukan angka
Kami bukan statistik
Kami anak-anak
dengan nama
dengan wajah
dengan mimpi
Adikku Ibrahim punya mimpi
Dia ingin jadi guru
Dia ingin ajarkan anak-anak lain
membaca dan menulis
Sekarang dia di bawah tanah
di makam tanpa nama
Dan kalian?
Kalian sibuk
menghitung berapa banyak rudal
yang perlu kalian beli
untuk "keamanan nasional"
Keamanan untuk siapa?
Tidak untuk kami
Tidak untuk Ibrahim
Tidak untuk jutaan anak
yang mati karena kalian pilih
senjata daripada kehidupan
Aku ingin tanya:
Apa kalian punya anak?
Apa kalian punya adik?
Apa kalian punya keponakan?
Bayangkan mereka lapar
tiga hari tidak makan
tubuh lemah
mata cekung
bibir pecah
perut kosong
Bayangkan kalian memeluk mereka
ketika mereka mati
karena dunia pilih
beli jet tempur
daripada kirim makanan
Apa kalian akan terima itu?
Apa kalian akan bilang
"Itu prioritas nasional"
"Itu kebutuhan pertahanan"
"Itu ancaman geopolitik"
Tidak
Kalian akan marah
Kalian akan melawan
Kalian akan tuntut keadilan
Tapi kenapa standar berbeda
untuk anak-anak seperti kami?
Kenapa kehidupan kami
dianggap kurang bernilai?
Kenapa kematian kami
dianggap "tidak dapat dihindari"?
Kami sama seperti kalian
Kami tertawa ketika senang
Kami menangis ketika sakit
Kami cinta keluarga kami
Kami ingin hidup
Tapi kalian membiarkan kami mati
Dan kalian tidur nyenyak
Dan kalian makan enak
Dan kalian hidup normal
Seolah-olah kematian kami
tidak ada kaitannya dengan kalian
Padahal:
Setiap dollar untuk rudal
adalah dollar yang tidak untuk kami
Setiap jet tempur yang dibeli
adalah seribu anak yang tidak diselamatkan
Setiap tank yang dipesan
adalah sepuluh ribu keluarga
yang dibiarkan kelaparan
Kalian tidak memegang pisau
Tapi kalian membunuh kami
dengan pilihan-pilihan kalian
dengan prioritas-prioritas kalian
dengan ketidakpedulian kalian
Dan suatu hari
kalian harus menjawab
di hadapan Tuhan
atau sejarah
atau anak-cucu kalian
Mereka akan tanya:
"Kenapa kalian membiarkan ini terjadi?"
"Kenapa kalian tidak berbuat sesuatu?"
"Kenapa kalian pilih senjata daripada kehidupan?"
Apa jawaban kalian?
```
"Menyeimbangkan kembali prioritas global bukan pilihan—ini imperatif untuk kelangsungan hidup umanitas."
— António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB
VI. DOSA KOLEKTIF
```
Jangan bilang ini bukan salahmu
Jangan bilang kau tidak tahu
Jangan bilang kau tidak bisa berbuat apa-apa
Setiap kali kau diam
ketika pemerintahmu naikkan anggaran militer
dan potong bantuan kemanusiaan
kau memilih
Setiap kali kau tidak protes
ketika triliunan dihabiskan untuk senjata
sementara jutaan mati kelaparan
kau memilih
Setiap kali kau lihat statistik kematian
dan terus hidup normal
seolah tidak ada yang terjadi
kau memilih
Kita semua memilih
Dengan suara kita
Dengan diam kita
Dengan ketidakpedulian kita
Dan pilihan itu membunuh
Ibrahim
Fatima
Hassan
Aisha
Mohammed
Dan ribuan anak lainnya
Setiap hari
Ini bukan takdir
Ini bukan kehendak Tuhan
Ini bukan bencana alam
Ini pilihan manusia
Ini keputusan politik
Ini prioritas ekonomi
Dan kita semua bertanggung jawab
Karena kita semua punya suara
Dan kebanyakan dari kita memilih
untuk tidak menggunakannya
Kita lebih suka
hidup nyaman
tidak peduli
tidak tahu
tidak bertindak
Dan anak-anak terus mati
Karena kenyamanan kita
Karena ketidakpedulian kita
Karena keheningan kita
Inilah dosa kolektif kita
Inilah warisan kita
Inilah yang akan dinilai sejarah
Bukan teknologi kita
Bukan kemakmuran kita
Bukan kekuatan militer kita
Tapi bagaimana kita membiarkan
jutaan anak mati
ketika kita punya kekuatan
untuk menyelamatkan mereka
```
"Saat ini dunia menghabiskan jauh lebih banyak untuk mesin perang daripada untuk membangun fondasi perdamaian yang berkelanjutan. Kita harus bertanya pada diri sendiri: keamanan seperti apa yang kita ciptakan dengan pilihan ini?"
— Izumi Nakamitsu, Kepala Urusan Perlucutan Senjata PBB
VII. JIKA IBRAHIM BISA BICARA
```
Jika Ibrahim bisa bicara dari kuburnya
Dia akan bilang:
"Ibu tidak bersalah
Ayah tidak bersalah
Kakak tidak bersalah
Negara kami tidak bersalah
Yang bersalah adalah sistem
Yang menghargai senjata lebih dari kehidupan
Yang mengutamakan keuntungan daripada kemanusiaan
Yang memilih perang daripada perdamaian
Yang bersalah adalah dunia
Yang punya cukup untuk semua
Tapi tidak cukup untuk keserakahan
Yang punya kekuatan untuk menyelamatkan
Tapi tidak kehendak untuk bertindak
Yang bersalah adalah kau
Yang tahu tapi diam
Yang lihat tapi tidak peduli
Yang dengar tapi tidak bertindak
Aku tidak minta maaf
Karena aku tidak bersalah
Aku hanya anak kecil
Yang ingin hidup
Tapi aku minta kalian
Jangan biarkan kematianku sia-sia
Jangan biarkan adik-adikku yang lain
mengalami nasib yang sama
Ubahlah sistem ini
Ubahlah prioritas ini
Ubahlah dunia ini
Sebelum terlambat
Sebelum semua anak-anak Afrika
menjadi hantu seperti aku
Sebelum kalian harus menghadap Tuhan
Dan menjawab pertanyaan:
'Aku beri kalian kekayaan, kekuatan, dan teknologi—
Kenapa kalian tidak gunakan untuk menyelamatkan anak-anak-Ku?'"
```
VIII. PERBANDINGAN YANG MENCENGANGKAN
```
Dengan uang untuk SATU jet tempur F-35
($80 juta)
Kau bisa:
- Beri makan 26.000 anak selama setahun
- Vaksinasi 1.6 juta anak
- Bangun 200 sekolah
- Sediakan air bersih untuk 100.000 keluarga
Dengan uang untuk SATU kapal perang USS Gerald R. Ford
($13 miliar)
Kau bisa:
- Akhiri kelaparan di Afrika Barat selama 2 tahun
- Bangun 32.000 sekolah
- Vaksinasi seluruh anak di Afrika
- Sediakan air bersih untuk 100 juta orang
- Dan masih sisa miliaran
Dengan anggaran militer AS tahun 2024
($997 miliar)
Kau bisa:
- Akhiri kemiskinan ekstrem global selama 3 tahun
- Sediakan pendidikan gratis untuk semua anak dunia
- Sediakan layanan kesehatan universal di semua negara berkembang
- Selesaikan krisis iklim
- Bangun infrastruktur untuk seluruh Afrika
- Dan masih sisa ratusan miliar
Tapi kita tidak pilih itu
Kita pilih jet tempur
Kita pilih kapal perang
Kita pilih rudal
Dan Ibrahim mati
Dan lima puluh lima juta jiwa lainnya menunggu mati
```
"Mengentaskan kemiskinan ekstrem global membutuhkan sekitar $318 miliar per tahun—atau hanya 0,3% dari GDP global. Jumlah ini dapat menyelamatkan hampir 700 juta orang dari garis kemiskinan $2,15 per hari."**
— Center for Effective Global Action (CEGA), 2024
IX. PERTANYAAN UNTUK DUNIA
```
Dunia yang terhormat
Dunia yang beradab
Dunia yang modern
Aku punya pertanyaan:
Berapa harga kehidupan anak Afrika?
Apakah kurang dari harga satu rudal?
Apakah kurang dari harga satu jet tempur?
Apakah kurang dari harga satu tank?
Jika anak yang mati itu berkulit putih
Jika anak yang mati itu dari negara kaya
Jika anak yang mati itu anak pejabat tinggi
Apakah kalian masih akan diam?
Apakah kalian masih akan bilang
"Tidak ada anggaran"
Sementara kalian habiskan triliunan untuk senjata?
Apakah kalian masih akan bilang
"Itu bukan prioritas kita"
Sementara kalian prioritaskan perang?
Jujurlah pada dirimu sendiri:
Apakah ini tentang ketidakmampuan?
Atau tentang ketidakpedulian?
Apakah ini tentang tidak punya uang?
Atau tentang tidak menganggap kehidupan mereka cukup berharga?
Dan jika jawabannya yang terakhir
Maka kita sudah kehilangan kemanusiaan kita
Maka kita tidak lebih baik
Dari mesin pembunuh yang kita beli
Karena apa bedanya?
Rudal membunuh dengan ledakan
Kita membunuh dengan ketidakpedulian
Rudal menghancurkan dalam sekejap
Kita menghancurkan perlahan, hari demi hari
Rudal membunuh secara langsung
Kita membunuh melalui pilihan-pilihan kita
Dan pada akhirnya
Hasilnya sama:
Anak-anak mati
Ibu-ibu menangis
Masa depan hilang
```
X. PENUTUP: PILIHAN KITA
```
Lima puluh lima juta jiwa
Bukan angka
Bukan statistik
Tapi manusia
Dengan nama, wajah, dan kehidupan
Dua koma tujuh triliun dollar
Bukan investasi untuk perdamaian
Tapi taruhan untuk perang
Yang kita semua akan kalah
Tiga ratus delapan belas miliar
Bukan jumlah yang mustahil
Tapi harga untuk menyelamatkan umat manusia
Yang kita tolak bayar
Ini adalah pilihan kita:
Rudal atau roti
Senjata atau kehidupan
Perang atau kemanusiaan
Dan sejauh ini
Kita pilih rudal
Kita pilih senjata
Kita pilih perang
Dan anak-anak mati
Tapi masih ada waktu
Masih ada kesempatan
Masih ada harapan
Jika kita berubah
Jika kita bertindak
Jika kita peduli
Pertanyaannya bukan
"Bisakah kita menyelamatkan mereka?"
Tapi
"Maukah kita menyelamatkan mereka?"
Pertanyaannya bukan
"Apakah kita punya cukup sumber daya?"
Tapi
"Apakah kita punya cukup kemanusiaan?"
Dan jawaban untuk pertanyaan itu
Akan menentukan
Bukan hanya nasib lima puluh lima juta jiwa di Afrika
Tapi nasib jiwa kita sendiri
Karena peradaban tidak diukur
Dari seberapa banyak senjata yang kita punya
Tapi dari seberapa baik kita merawat
Yang paling lemah di antara kita
Dan jika kita gagal Ibrahim
Jika kita gagal Amina
Jika kita gagal jutaan anak di Afrika
Maka kita sudah gagal sebagai umat manusia
Maka kita tidak layak disebut beradab
Maka kita tidak lebih dari barbar
Dengan teknologi canggih
Pilihan ada di tangan kita
Waktu terus berjalan
Anak-anak terus mati
Sampai kapan?
```
EPILOG: PANGGILAN UNTUK BERTINDAK
Kutipan Terakhir dari Mereka yang Harus Kita Dengar:
António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB:
"Bukti sudah jelas: belanja militer yang berlebihan tidak menjamin perdamaian. Seringkali justru merongrong perdamaian—memicu perlombaan senjata, memperdalam ketidakpercayaan, dan mengalihkan sumber daya dari fondasi stabilitas yang sesungguhnya. Menyeimbangkan kembali prioritas global bukan pilihan—ini imperatif untuk kelangsungan hidup umanitas."
Haoliang Xu, Wakil Kepala UNDP:
"Ketika kehidupan masyarakat membaik, ketika mereka memiliki akses ke pendidikan, layanan kesehatan, peluang ekonomi, dan ketika mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penentuan nasib sendiri, kita akan memiliki masyarakat yang lebih damai dan dunia yang lebih damai."
Laëtitia Sedou, Advokat Eropa untuk Perdamaian:
"Antara eksaserbasi perlombaan senjata global dan pertahanan hegemoni yang diperebutkan, militarisasi juga mengancam perdamaian dan keamanan warga. Rencana belanja militer tambahan akan mengurangi pengeluaran publik untuk layanan esensial."
```
Untuk Ibrahim yang tidak akan pernah tumbuh besar
Untuk Amina yang harus menyaksikan kematian terlalu dini
Untuk lima puluh lima juta jiwa yang menunggu keadilan
Untuk tujuh ratus juta orang dalam kemiskinan ekstrem
Untuk kemanusiaan yang kita hampir kehilangan
Kiranya puisi ini mengubah hati
Menggerakkan tangan
Membangkitkan suara
Dan menuntut perubahan
Sebelum terlambat
Sebelum semua anak-anak menjadi hantu
Sebelum kita kehilangan jiwa kita sepenuhnya
Pilih kehidupan
Bukan kematian
Pilih roti
Bukan rudal
Pilih kemanusiaan
Bukan barbarisme
Karena pada akhirnya
Kita semua akan dinilai
Bukan dari berapa banyak senjata yang kita miliki
Tapi dari berapa banyak kehidupan yang kita selamatkan
```
— Untuk setiap anak yang seharusnya hidup — Bandung, Jawa Barat, 27 Januari 2026
Komentar
Posting Komentar