Board of Peace: Perdamaian Gaza atau Panggung Nobel Trump?

Board of Peace: Perdamaian Gaza atau Panggung Nobel Trump?

Ketika Donald Trump meluncurkan Board of Peace (BoP) pada Februari 2026, ia menyebut forum ini sebagai “jalan baru menuju rekonstruksi Gaza dan perdamaian dunia.” Namun, di balik retorika diplomasi, banyak pengamat menilai BoP lebih menyerupai panggung politik yang dirancang untuk kepentingan citra pribadi, bukan semata-mata demi rakyat Palestina.

Gaza sebagai Alibi Diplomasi
BoP hadir dengan janji dana rekonstruksi miliaran dolar. Tetapi bagi Palestina, forum ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Gaza benar-benar menjadi pusat perhatian, atau sekadar alibi untuk agenda yang lebih besar?  
Pertama, Pengalihan legitimasi: BoP berpotensi menggeser peran PBB sebagai arena utama diplomasi, sehingga Palestina kehilangan pijakan tradisionalnya.  
Kedua, Normalisasi terselubung: Kehadiran Israel bersama negara-negara Arab di forum ini dianggap sebagai langkah menuju normalisasi, meski isu utama—hak rakyat Palestina—belum terselesaikan.  
Ketiga, Kontrol rekonstruksi: Dengan BoP, AS dan sekutunya mengatur arus dana dan proyek, membuat Palestina semakin bergantung pada mekanisme eksternal.  

Seorang analis Timur Tengah menulis, “BoP lebih mirip instrumen geopolitik daripada wadah perdamaian. Ia menata ulang siapa yang berhak bicara atas nama Gaza.”

Ambisi Nobel: Perdamaian sebagai Panggung Politik
Trump tampak sadar akan simbolisme BoP. Ia pernah menyatakan bahwa forum ini adalah “model baru untuk menyelesaikan konflik global.” Pernyataan ini dibaca oleh banyak pengamat sebagai strategi membangun citra internasional yang layak dianugerahi Nobel Peace Prize 2026/2027.  

Pertama, Citra internasional: Dengan mempertemukan Indonesia dan Israel, Trump ingin menunjukkan kapasitas diplomasi yang luar biasa.  
Kedua, Momentum politik: Keberhasilan BoP bisa dijadikan modal kampanye domestik, sekaligus memperkuat klaim bahwa ia layak menerima Nobel.  
Ketiga, Tradisi Nobel: Nobel Peace Prize sering diberikan pada tokoh yang dianggap membawa terobosan diplomasi. Trump tampaknya ingin menempatkan dirinya dalam tradisi itu, meski skeptisisme tetap tinggi.  

Seorang diplomat Eropa berkomentar, “Trump ingin dikenang bukan hanya sebagai presiden, tetapi sebagai arsitek perdamaian dunia. Nobel adalah mahkota yang ia incar.”

Skeptisisme Global
Meski BoP berhasil mengumpulkan 26 negara, Uni Eropa menolak bergabung. Penolakan ini menunjukkan bahwa legitimasi BoP masih diperdebatkan. Tanpa dukungan Eropa, BoP berisiko dianggap sebagai forum partisan yang lebih menguntungkan AS daripada Palestina.  

Jika BoP gagal memberikan hasil nyata bagi Gaza, ia akan dikenang sebagai panggung politik semata. Namun, jika berhasil menyalurkan dana besar dan membangun infrastruktur perdamaian, Trump bisa mengklaim dirinya sebagai tokoh yang membawa solusi nyata. Di sinilah ambisi Nobel menjadi jelas: BoP bukan hanya forum diplomasi, tetapi juga panggung simbolik untuk mengukir nama Trump dalam sejarah.


Kesimpulan
Board of Peace adalah forum penuh paradoks: menjanjikan rekonstruksi Gaza, tetapi sarat agenda politik. Bagi Palestina, BoP bisa berarti keterikatan baru pada mekanisme yang dikendalikan pihak luar. Bagi Trump, BoP adalah panggung besar untuk membuktikan dirinya layak menyandang Nobel Peace Prize.  

Seperti kata seorang pengamat politik Amerika, “BoP adalah cermin ambisi Trump: perdamaian sebagai proyek politik, Nobel sebagai hadiah akhir.”


Bandung, 20 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future