Gerakan Sunda bagi Kemajuan Anti-Manipulatif: Revitalisasi Kesadaran Kolektif Masyarakat Sundaland

Gerakan Sunda bagi Kemajuan Anti-Manipulatif: Revitalisasi Kesadaran Kolektif Masyarakat Sundaland

Abstrak

Di tengah krisis mentalitas yang membuat Indonesia rentan terhadap penipuan—sebagaimana tercermin dalam peringkat kedua Global Fraud Index 2025—masyarakat Sunda memiliki peluang historis untuk melahirkan gerakan kebudayaan yang menjadi penawar. Esai ini mengajukan gagasan tentang "Gerakan Sunda bagi Kemajuan Anti-Manipulatif" sebagai bentuk kesadaran berjamaah yang berakar pada nilai-nilai autentik masyarakat Sunda sekaligus responsif terhadap tantangan kekinian. Dengan merujuk pada warisan etis dari naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian, filosofi hidup seperti silih asah-silih asih-silih asuh, serta praktik kearifan lokal dalam menjaga kepercayaan dan keadilan, esai ini merumuskan kerangka gerakan yang tidak sekadar nostalgia masa lalu, melainkan reaktualisasi nilai untuk membentuk karakter baru masyarakat Sundaland yang rasional, kritis, dan berintegritas.


Pendahuluan: Sundaland sebagai Ruang Peradaban Baru

Sundaland, dalam pengertian geologis, merujuk pada landas benua yang pernah menyatukan Kepulauan Indonesia dengan Asia Tenggara daratan . Namun dalam konteks kebudayaan, Sundaland adalah ruang peradaban tempat nilai-nilai Sunda tumbuh, berkembang, dan berdialog dengan dunia. Masyarakat Sunda, sebagai etnis terbesar kedua di Indonesia dengan populasi lebih dari 40 juta jiwa , memiliki tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjadi objek dalam pusaran krisis nasional, tetapi menjadi subjek yang melahirkan solusi.

Data Sumsub tentang rentannya Indonesia terhadap penipuan adalah cermin buram yang menunjukkan bahwa ada yang salah dengan mentalitas kolektif bangsa. Namun bagi masyarakat Sunda, ini juga bisa menjadi momentum untuk bertanya: di manakah warisan luhur karuhun dalam menghadapi problem kebobrokan moral ini? Jawabannya tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia tersimpan dalam naskah kuno, terpelihara dalam praktik adat, dan masih berbisik dalam filosofi hidup yang diwariskan turun-temurun. Tugas kita sekarang adalah membangunkannya kembali, bukan sebagai museum nilai, melainkan sebagai gerakan hidup yang relevan dengan karakter baru masyarakat Sundaland di era digital.


Nilai-Nilai Anti-Manipulatif dalam Warisan Leluhur Sunda

1. Ajaran Etis Sanghyang Siksa Kandang Karesian: Fondasi Anti-Tipu

Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, yang ditulis pada tahun 1518 Masehi semasa pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), adalah bukti bahwa masyarakat Sunda kuno telah memiliki sistem etika yang kompleks dan mendalam . Naskah yang oleh penyusunnya disebut sebagai "Sabda Sang Rumuhun" atau "Ajaran Para Leluhur" ini memuat panduan hidup yang sangat relevan dengan persoalan kita hari ini.

Salah satu ajaran paling fundamental dalam naskah ini adalah Panca Gati atau lima larangan. Yang pertama dan utama adalah larangan menipu—baik menipu diri sendiri maupun menipu orang lain. Naskah ini dengan brilian merinci apa yang dimaksud dengan menipu diri sendiri: "yang ada dikatakan tidak ada, yang benar dikatakan salah, dan yang salah dikatakan benar" . Ini adalah definisi tentang kebohongan epistemik, tentang pengkhianatan terhadap kebenaran yang dilakukan pertama-tama kepada diri sendiri sebelum dilakukan kepada orang lain.

Lebih jauh, naskah ini juga merinci bentuk-bentuk menipu orang lain: "memetik tanpa izin, mengambil tanpa meminta, memungut tanpa memberi tahu, mencuri, merampas, merampok, menyamun, mengecoh, merogoh kantong orang lain, mencopet, merebut, dan menggerayangi harta orang yang sedang tidur" . Detailnya daftar ini menunjukkan betapa seriusnya leluhur Sunda memandang persoalan kejujuran dan hak milik.

Di sinilah letak kekuatan fondasional bagi gerakan anti-manipulatif: masyarakat Sunda tidak perlu menciptakan nilai baru untuk melawan penipuan, karena nilai itu sudah ada dan telah diwariskan selama lebih dari lima abad. Yang diperlukan adalah menghidupkannya kembali dalam kesadaran kolektif.

2. Filosofi Sabeungkeutan, Sauyunan: Ikatan Kolektif sebagai Perisai Sosial

Masyarakat adat Kampung Banceuy menyimpan filosofi yang sangat kuat tentang kebersamaan. Seperti diungkapkan Abah Darso selaku sesepuh adat, filosofi iket kepala (totopong) adalah tentang "saiketan, sabeungkeutan, sauyunan—satu ikatan, satu kesatuan, dan seirama" . Filosofi ini bukan sekadar simbol, tetapi diwujudkan dalam praktik gotong royong yang masih terjaga hingga kini.

Dalam konteks melawan penipuan, ikatan kolektif ini menjadi perisai sosial yang ampuh. Masyarakat yang terikat dalam sabeungkeutan akan saling melindungi, saling mengingatkan, dan tidak membiarkan anggotanya menjadi korban manipulasi. Praktik ngabengketkeun kegotong-royongan atau mengikat rasa gotong royong yang dilakukan melalui ritual tahunan Ngaruat Bumi  adalah contoh bagaimana nilai kebersamaan dirawat secara ritual dan dihidupkan dalam keseharian.

Yang menarik, semangat gotong royong di Banceuy tidak diatur secara kaku, melainkan "mengalir sebagai kebutuhan sosial yang murni" . Inilah yang membedakannya dari kolektivisme paksaan ala rezim otoriter. Ini adalah kesadaran sukarela yang lahir dari pemahaman bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Dalam konteks gerakan anti-manipulatif, kesadaran seperti inilah yang dibutuhkan: kesadaran bahwa melindungi sesama dari penipuan adalah kebutuhan sosial, bukan beban.

3. Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Trilogi Perlindungan Komunal

Prinsip silih asah, silih asih, silih asuh adalah warisan filosofis yang sangat dikenal masyarakat Sunda . Abah Darso menjelaskan ketiganya sebagai: saling menajamkan pikiran (membantu dalam ide/ilmu), saling mengasihi (berbagi kepedulian), dan saling mengasuh (membimbing dan menjaga) .

Dalam konteks gerakan anti-manipulatif, trilogi ini bisa diterjemahkan menjadi:

1. Silih Asah (Saling Menajamkan Pikiran): Masyarakat saling mengedukasi tentang modus-modus penipuan terkini, berbagi informasi tentang investasi bodong, dan bersama-sama mengasah kemampuan literasi digital. Ini adalah bentuk pertahanan kognitif kolektif.
2. Silih Asih (Saling Mengasihi): Kepedulian aktif terhadap sesama yang rentan menjadi korban, seperti orang tua yang kurang melek digital, atau tetangga yang sedang mengalami tekanan ekonomi sehingga mudah tergiur tawaran instan. Kasih sayang di sini diwujudkan dalam kewaspadaan bersama.
3. Silih Asuh (Saling Membimbing dan Menjaga): Ketika ada anggota komunitas yang hampir terjebak penipuan, yang lain tidak tinggal diam. Ada mekanisme sosial untuk "mengasuh" atau membimbing kembali ke jalan yang benar, tanpa menghakimi.

Dengan trilogi ini, gerakan anti-manipulatif tidak akan terasa sebagai beban moral atau kewajiban yang dipaksakan, melainkan sebagai perwujudan alami dari kasih sayang dan kepedulian komunal.


Kearifan Lokal dalam Menjaga Kepercayaan dan Keadilan

1. Mitos Kayu Jengkol: Kesadaran Spiritual akan Keamanan

Masyarakat Sunda memiliki cara unik dalam menciptakan kesadaran kolektif tentang keamanan. Mitos kayu jengkol yang dipercaya dapat membuat pencuri kehilangan arah dan gelap pandangan jika dipasang sebagai bagian konstruksi rumah  adalah contoh bagaimana nilai kejujuran diinternalisasi melalui pendekatan spiritual-kultural.

Yang menarik dari mitos ini adalah penekanannya bahwa "orang harus tetap waspada dan tidak lupa mengunci pintu" . Mitos tidak dimaksudkan untuk menggantikan kewaspadaan rasional, tetapi melengkapinya dengan dimensi spiritual. Dalam konteks gerakan anti-manipulatif, kita bisa belajar bahwa pendekatan kultural dan spiritual bisa menjadi pintu masuk untuk menanamkan kesadaran, selama tidak menggantikan nalar kritis.

2. Kolenjer: Teknologi Tradisional untuk Keadilan

Masyarakat Baduy di Banten, sebagai bagian dari rumpun Sunda, masih mempertahankan penggunaan kolenjer, alat kayu bergurat dan bertitik yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk melacak pencuri . Meskipun cara kerjanya bersifat supranatural dan hanya dikuasai oleh Puun (tetua adat), yang menarik adalah adanya institusi dan mekanisme untuk menegakkan keadilan ketika terjadi pencurian.

Dalam kolenjer, kita melihat bahwa masyarakat Sunda kuno memiliki kesadaran bahwa kejahatan seperti pencurian (dan dalam konteks modern, penipuan) harus ditangani, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ada mekanisme—meskipun dalam bentuk yang berbeda dengan hukum modern—untuk memulihkan keadilan. Semangat inilah yang perlu direvitalisasi: masyarakat tidak boleh pasif ketika kejahatan terjadi, harus ada respons kolektif.

3. Pamali Barang Temuan: Etika Kepemilikan dan Kerja Keras

Di beberapa daerah Sunda seperti Cirebon dan Kuningan, terdapat pamali (larangan) untuk mengambil dan memiliki barang temuan secara pribadi, terutama di bulan Mulud . Mitos yang menyertainya—bahwa uang tersebut adalah uang media tumbal pesugihan—bisa dilihat sebagai strategi budaya untuk menanamkan nilai bahwa sesuatu yang diperoleh tanpa usaha keras patut dicurigai.

Dalam penjelasannya, mitos ini berfungsi "mendidik mental anak dalam proses kerja keras untuk mendapatkan sesuatu" . Inilah nilai yang sangat relevan dengan konteks penipuan hari ini. Masyarakat yang mudah tergiur tawaran instan adalah masyarakat yang telah kehilangan pemahaman tentang nilai kerja keras. Gerakan anti-manipulatif harus menghidupkan kembali etos bahwa "hasil yang instan dan tidak wajar patut dicurigai sebagai tipu daya."


Kepemimpinan Sunda Modern: Jembatan antara Tradisi dan Kekinian

1. Tokoh-Tokoh sebagai Teladan

Prof. Mochtar Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri dan perancang hukum laut internasional, adalah representasi bagaimana kearifan Sunda bisa berdialog dengan dunia. Konsep rule of law yang ia kembangkan menunjukkan bahwa "intelektualitas dan profesionalisme adalah wajah modern dari etika Sunda-Islami—tenang, rasional, dan berprinsip" .

Bersama tokoh seperti Oto Iskandar di Nata, Ir. Juanda, dan Umar Wirahadikusumah, mereka menunjukkan bahwa "kepemimpinan Sunda tidak bersandar pada karisma atau garis keturunan, tetapi pada integritas, kemampuan, dan tanggung jawab moral" . Ini adalah antitesis dari budaya feodal dan oligarkis yang selama ini menjadi akar masalah.

Dalam konteks Indonesia masa kini, "ketika politik sering dikuasai patronase dan oligarki, semangat mereka menjadi sangat relevan" . Masyarakat Sunda memiliki warisan kultural untuk menumbuhkan kembali kepemimpinan berbasis prestasi, seperti pepatah Sunda "ulah ngukur baju batur kana awak sorangan" (jangan menilai sesuatu dari kepentingan pribadi).

2. Kepemimpinan Berbasis Etika untuk Tantangan Digital

Kepemimpinan Sunda modern yang direvitalisasi di tengah masyarakat demokratis dan digital saat ini harus mampu menjawab tantangan yang bukan lagi perang fisik, tetapi "perang nilai—antara integritas dan oportunisme, antara meritokrasi dan nepotisme" .

Generasi muda Sunda harus belajar bahwa "kesuksesan sejati bukan hasil kedekatan politik, melainkan hasil kerja keras, keahlian, dan ketulusan" . Prinsip silih asah, silih asih, silih asuh dapat menjadi panduan etis bagi generasi pemimpin baru yang berhadapan dengan tantangan digitalisasi, disrupsi sosial, dan polarisasi politik .


Membaca Masa Lalu dengan Benar: Menghindari Jebakan Nostalgia

1. Bahaya Konstruksi Sejarah yang Keliru

Salah satu tantangan terbesar dalam gerakan kebudayaan adalah jebakan nostalgia yang berlebihan. Seperti diungkap dalam diskusi ilmiah tentang Sunda kuno, "setelah kerajaan-kerajaan Sunda runtuh sekitar abad ke-16, tidak ada lagi kekuatan politik lokal yang menjadi kebanggaan. Kekosongan ini... menciptakan semacam 'trauma kolektif' dan rasa inferior, yang lalu memunculkan nostalgia berlebihan dan klaim-klaim kebesaran masa lalu yang seringkali dilebih-lebihkan" .

Kita juga harus waspada terhadap kecenderungan "mengait-ngaitkan Sunda dengan Atlantis atau Lemuria" . Teori-teori sensasional seperti ini justru menjauhkan dari upaya serius memahami sejarah Sunda berdasarkan data arkeologis dan filologis yang sahih. Seperti analogi yang tepat: "sedang menyusun puzzle dengan kepingan yang salah karena terburu-buru, dipaksakan, dan akhirnya menghasilkan gambar yang distortif" .

2. Kemajuan Peradaban yang Berbeda, Tidak Harus Sama

Kita juga harus membebaskan diri dari cara pandang yang menjadikan kebudayaan Jawa sebagai patokan utama. "Jika suatu peradaban tidak memiliki candi sebesar Borobudur atau Prambanan serta prasasti sebanyak di Jawa, maka sering dianggap 'kurang maju'" . Padahal, "Sunda bisa memiliki jalur dan pencapaian peradabannya sendiri yang berbeda, tidak harus sama dengan Jawa. Kemajuan sebuah peradaban bisa terlihat dari sistem pemerintahan, jaringan perdagangan, sastra, atau adaptasi terhadap alam" .

Dalam konteks gerakan anti-manipulatif, pemahaman ini penting: kita tidak perlu meniru model gerakan dari budaya lain. Kita memiliki kekayaan nilai sendiri yang bisa diaktualisasikan dengan cara kita sendiri.


Kerangka Gerakan: Menuju Kesadaran Berjamaah Masyarakat Sundaland

1. Landasan Filosofis

Gerakan Sunda bagi Kemajuan Anti-Manipulatif harus berlandaskan pada:

· Ajaran Panca Gati, khususnya larangan menipu diri sendiri dan orang lain 
· Filosofi Sabeungkeutan, Sauyunan, bahwa kekuatan terletak pada ikatan kolektif 
· Trilogi Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh sebagai metode interaksi sosial 
· Etos kerja keras yang tercermin dalam pamali terhadap barang temuan 
· Kepemimpinan berbasis meritokrasi dan integritas 

2. Pilar-Pilar Gerakan

Pertama: Revitalisasi Pendidikan Berbasis Nilai. Kurikulum muatan lokal di Tatar Sunda harus dihidupkan kembali tidak sekadar sebagai hafalan, tetapi sebagai internalisasi nilai. Anak-anak Sunda harus mengenal ajaran Panca Gati, memahami filosofi silih asah, dan menghayati bahwa menipu adalah dosa warisan leluhur yang tercatat dalam naskah kuno.

Kedua: Jaringan Komunitas Sadar Manipulasi. Mengaktifkan kembali mekanisme sabeungkeutan dalam bentuk jaringan komunitas di tingkat RT/RW, tempat ibadah, dan perkumpulan pemuda. Jaringan ini berfungsi untuk berbagi informasi tentang modus penipuan, saling mengingatkan, dan melindungi anggota yang rentan.

Ketiga: Digitalisasi Nilai Sunda. Membuat konten-konten kreatif di media sosial yang menyebarkan nilai anti-manipulasi dengan kemasan kekinian. Memanfaatkan bahasa Sunda dalam peringatan dini terhadap penipuan digital. Menjadikan platform digital sebagai ruang silih asah di era modern.

Keempat: Penghargaan untuk Integritas. Menciptakan apresiasi publik bagi tokoh-tokoh Sunda yang menunjukkan integritas tinggi, seperti teladan para tokoh terdahulu. Ini untuk melawan narasi bahwa kesuksesan harus ditempuh dengan jalan pintas.

Kelima: Riset dan Dokumentasi. Mendukung riset-riset tentang kearifan lokal Sunda yang berbasis data ilmiah, bukan mitos sensasional. Menggali lebih dalam naskah-naskah kuno seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian untuk menemukan nilai-nilai lain yang relevan dengan tantangan kontemporer.

3. Karakter Baru Masyarakat Sundaland

Masyarakat Sundaland yang menjadi tujuan gerakan ini adalah masyarakat yang:

· Kritis namun santun, sebagaimana ajaran tentang tutur kata yang baik, hormat, sopan, pantas, merendah 
· Mandiri namun solidar, tidak tergantung pada patron tetapi tetap terikat dalam sabeungkeutan
· Modern namun berakar, mampu menggunakan teknologi digital tanpa kehilangan nilai-nilai luhur
· Cerdas secara finansial, tidak mudah tergiur tawaran instan karena memahami nilai kerja keras
· Berani menegakkan kebenaran, karena menyadari bahwa membiarkan penipuan adalah bentuk pengkhianatan terhadap sabeungkeutan. 

Kesimpulan: Dari Warisan Menuju Gerakan

Masyarakat Sunda tidak perlu memulai dari nol. Warisan leluhur telah memberikan fondasi yang kokoh: larangan menipu dalam Panca Gati, ikatan kolektif dalam sabeungkeutan, metode interaksi dalam silih asah-silih asih-silih asuh, etos kerja dalam pamali, dan teladan kepemimpinan dalam sosok-sosok seperti Mochtar Kusumaatmadja.

Tugas kita adalah mentransformasi warisan ini menjadi gerakan hidup. Gerakan yang tidak hanya berbicara di seminar-seminar budaya, tetapi meresap dalam kesadaran berjamaah masyarakat Sunda di mana pun mereka berada—di Tatar Pasundan, di perantauan, atau di ruang digital.

Seperti pesan dari Kampung Adat Banceuy: "Pami ngarapkeun atar sadidinten beres, beres" (Jika mengerjakan bersama, sehari selesai, selesai) . Masalah penipuan yang mengakar di negeri ini tidak akan selesai jika dikerjakan sendiri-sendiri. Tapi jika kita, sebagai masyarakat Sunda, bersatu dalam gerakan kolektif yang berakar pada nilai luhur dan relevan dengan tantangan kekinian, maka kita bisa menjadi bagian dari solusi.

Inilah saatnya gerakan Sunda bagi kemajuan anti-manipulatif. Gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa melawan penipuan bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi panggilan budaya dan spiritual. Gerakan yang tidak terjebak dalam nostalgia masa lalu, tetapi berani membaca warisan dengan benar untuk membangun masa depan yang lebih beradab.

"Ulah ngukur baju batur kana awak sorangan." Jangan mengukur kebajikan dengan standar orang lain. Kita punya standar sendiri. Kini saatnya kita hidupkan kembali.


Daftar Pustaka

1. Ramdani, D. N. (2025). Mengenal Mitos Kayu Jengkol Anti-Maling ala Orang Sunda. detikJabar. 
2. Septiani, S. (2025). Banceuy: Jejak Kampung yang Dilahirkan Ulang oleh Angin dan Musyawarah. National Geographic Indonesia. 
3. Wikipedia. (2004). Sundanese people. 
4. Ramdani, D. N. (2024). Mengenal Kolenjer dan Cara Orang Sunda Melacak Pencuri. detikJabar. 
5. Pikiran Rakyat Koran. (2025). Kepemimpinan Sunda Modern. 
6. FlipBuilder. (n.d.). Sanghyang Siksa Kandang Karesian. 
7. Septiani, S. (2025). Krisis Identitas Sunda dan Kegagalan dalam Membaca Masa Lalu. National Geographic Indonesia. 
8. Kabar Banten. (2023). Pamali! Mitos Larangan Orangtua Sunda Jaman Dulu yang Masih Ada Hingga Saat Ini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future