Menjawab Opini H. Tatang Sumarsono : Strategi Memperkuat Kebangsaan Sunda Dari Krisis Identitas Nasional dan Global

Menjawab Opini H. Tatang Sumarsono : Strategi Memperkuat Kebangsaan Sunda Dari Krisis Identitas Nasional dan Global

Oleh: Asep Rohmandar

Pertanyaan tentang identitas Sunda bukan sekadar urusan budayawan atau akademisi. Ia adalah pertanyaan yang menyentuh jantung dari bagaimana sebuah komunitas etnis terbesar kedua di Indonesia mampu menempatkan diri secara bermartabat di tengah arus perubahan nasional dan global yang kian deras. Ketika H. Tatang Sumarsono (sundanews.id, 16/2/2026), menulis tentang krisis identitas Sunda, ia sesungguhnya sedang menyuarakan kegelisahan yang lama tersimpan: mengapa orang Sunda, dengan jumlah puluhan juta jiwa, tampak absen dari panggung kepemimpinan nasional?


Pertanyaan ini tidak boleh dibiarkan menggantung. Ia membutuhkan jawaban berupa strategi nyata — bukan romantisasi masa lalu, bukan pula sekadar nostalgia pada kejayaan Kerajaan Sunda. Yang dibutuhkan adalah peta jalan yang membumi, yang menghubungkan akar budaya Sunda dengan tuntutan zaman.


"Urang Sunda kiwari mah teu bisa dipisahkeun tina ka-Indonésiaan. Malah kudu disawang tina kontéks global deuih. — H. Tatang Sumarsono"


I. Memahami Krisis: Bukan Sekadar Budaya

Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi dalam diskursus Sunda adalah mereduksi krisis identitas hanya pada ranah budaya — soal lunturnya penggunaan bahasa Sunda, memudarnya seni tradisi, atau generasi muda yang tak lagi mengenakan kebaya dan iket. Padahal, sebagaimana Tatang Sumarsono tunjukkan, krisis yang paling mengkhawatirkan justru terletak pada dimensi kepemimpinan dan politik.


Orang Sunda menempati posisi demografis yang strategis: populasinya mencapai sekitar 40 juta jiwa, tersebar di Jawa Barat, Banten, dan sebagian Jakarta. Namun, kehadiran mereka di pusat-pusat pengambilan keputusan nasional — mulai dari kabinet, lembaga legislatif, hingga pimpinan partai politik besar — tidak sebanding dengan besarnya populasi itu. Ini bukan kebetulan; ini adalah gejala struktural yang berakar pada sejarah panjang.


Sejak Mataram menaklukkan wilayah Sunda pada abad ke-17, terjadi pergeseran mentalitas yang dalam: dari merdeka menjadi kumawula — tunduk dan mengabdi. Penjajahan kolonial kemudian memperdalam luka itu. Ketika Indonesia merdeka, orang Sunda tidak memulai dari titik nol — mereka memulai dari defisit historis yang berat.


Memahami krisis ini secara utuh adalah prasyarat untuk menyusun strategi yang tepat. Krisis identitas Sunda bukan sekadar persoalan budaya permukaan; ia adalah krisis kepercayaan diri kolektif, krisis kepemimpinan, dan krisis posisi dalam struktur kekuasaan nasional.

II. Tiga Lapis Tantangan

2.1 Tantangan Lokal: Erosi dari Dalam

Di tataran lokal, tantangan terbesar adalah erosi internal. Bahasa Sunda perlahan kehilangan penutur aktif di kalangan generasi muda perkotaan. Nilai-nilai kasundaan seperti someah (keramahtamahan), silih asah silih asih silih asuh (saling mendidik, mengasihi, menjaga), dan rasa hormat pada alam mulai tergeser oleh individualisme urban.


Yang lebih memprihatinkan adalah fragmentasi internal komunitas Sunda sendiri. Tidak ada satu platform representasi Sunda yang benar-benar inklusif dan dipercaya. Lembaga-lembaga kebudayaan Sunda yang ada sering terjebak pada formalisme dan elitisme, gagal menjangkau akar rumput.


2.2 Tantangan Nasional: Marginalisasi Struktural

Di tingkat nasional, orang Sunda menghadapi marginalisasi yang bersifat struktural. Pusat gravitasi politik Indonesia selama ini berputar di seputar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Partai-partai politik nasional yang besar umumnya berbasis di sana, dan jaringan patronase politik cenderung mengalir mengikuti poros itu.


Ironi terbesar adalah bahwa Jawa Barat — yang menjadi kantong pemilih terbesar di Indonesia — justru tidak menghasilkan pemimpin nasional dalam proporsi yang sepadan. Kekayaan sumber daya alam Tatar Sunda terus dieksploitasi, sementara kesejahteraan masyarakatnya belum setara dengan kontribusinya bagi ekonomi nasional.


2.3 Tantangan Global: Homogenisasi Budaya

Di tataran global, budaya Sunda menghadapi tekanan homogenisasi yang dimotori oleh globalisasi digital. Platform media sosial, konten hiburan internasional, dan gaya hidup konsumeris mengikis kekhasan identitas lokal di seluruh dunia — dan Sunda tidak terkecuali. Bahasa, seni, dan nilai-nilai lokal bersaing dalam arena yang sama dengan konten global berbujet raksasa.


Namun, tantangan global ini bukan hanya ancaman; ia juga membawa peluang. Ekonomi digital menciptakan pasar baru bagi produk budaya lokal. Gerakan global untuk merayakan keberagaman memberikan panggung bagi identitas-identitas yang selama ini terpinggirkan. Pertanyaannya: apakah orang Sunda siap memanfaatkan peluang itu?

III. Lima Strategi Memperkuat Kebangsaan Sunda

Memperkuat kebangsaan Sunda bukanlah proyek separatisme — melainkan sebaliknya: memperkuat kontribusi Sunda bagi Indonesia yang lebih adil dan berbudaya. Berikut lima strategi yang perlu dijalankan secara simultan dan terpadu.


Strategi 1: Revitalisasi Kepemimpinan Berbasis Karakter

Akar krisis kepemimpinan Sunda adalah hilangnya tradisi melahirkan pemimpin yang berkarakter — berani menyuarakan kebenaran, berintegritas, dan berwawasan luas. Sosok seperti Oto Iskandar di Nata tidak muncul dari ruang kosong; ia lahir dari ekosistem yang menghargai keberanian intelektual dan komitmen pada keadilan.


Strategi pertama adalah membangun kembali ekosistem kepemimpinan itu. Ini berarti:

Pertama, Mendirikan lembaga pendidikan kepemimpinan berbasis nilai kasundaan — bukan sekadar pelatihan manajerial, tetapi pembentukan karakter yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan kompetensi global.

Kedua,  Mendokumentasikan dan menyebarluaskan sejarah kepemimpinan Sunda yang selama ini terpinggirkan dari narasi nasional, agar generasi muda memiliki teladan yang relevan.

Ketiga, Mendorong kalangan muda Sunda berprestasi untuk masuk ke arena politik, birokrasi, dan lembaga-lembaga strategis nasional — dengan dukungan jaringan dan sumber daya yang terorganisir.


Strategi 2: Diplomasi Budaya yang Cerdas

Identitas Sunda perlu dipromosikan bukan sebagai artefak museum, melainkan sebagai peradaban yang hidup dan relevan. Ini membutuhkan diplomasi budaya yang cerdas — yang memanfaatkan kekayaan seni, kuliner, filosofi, dan bahasa Sunda sebagai modal lunak dalam percaturan nasional dan global.


Contoh konkretnya: gamelan dan kacapi suling Sunda memiliki potensi besar di pasar musik dunia yang semakin haus akan bunyi-bunyian otentik. Batik Sunda, wayang golek, dan tari Jaipong bisa menjadi duta budaya di panggung internasional jika didukung oleh infrastruktur promosi yang memadai. Gastronomi Sunda — dengan kekayaan lalapan, sayuran, dan sambal yang beragam — berpotensi masuk ke gelombang global food movement yang mengedepankan kesehatan dan kelestarian alam.


Diplomasi budaya ini juga harus menyasar narasi digital: konten kasundaan dalam bentuk yang menarik bagi generasi Z, mulai dari podcast berbahasa Sunda, kanal YouTube tentang filosofi Sunda, hingga game berbasis legenda Sunda.


Strategi 3: Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Komunitas

Identitas yang kuat selalu bertumpu pada fondasi ekonomi yang kokoh. Selama masyarakat Sunda — terutama di pedesaan — masih bergulat dengan kemiskinan struktural, krisis identitas akan terus berlanjut. Strategi ketiga adalah membangun ekonomi komunitas yang berakar pada kekayaan lokal Tatar Sunda.


Ini mencakup:

Pertama, Pengembangan agribisnis berbasis komoditas unggulan Sunda: teh, kopi, rempah, dan tanaman obat tradisional yang memiliki pasar global.

Kedua,  Penguatan UMKM pengrajin kerajinan tangan, batik, dan produk budaya Sunda melalui platform e-commerce dan marketplace global.

Ketiga, Pembentukan koperasi dan ekosistem ekonomi solidaritas yang mengedepankan prinsip silih asih — saling membantu — sebagai nilai ekonomi, bukan sekadar slogan.


Ketika orang Sunda berdaya secara ekonomi, mereka memiliki kapasitas untuk berinvestasi dalam pendidikan, kebudayaan, dan kepemimpinan politik — siklus keberdayaan yang saling menguatkan.


Strategi 4: Penguatan Ekosistem Pengetahuan dan Literasi

Krisis identitas sebagian besar juga adalah krisis narasi. Orang Sunda belum cukup menghasilkan karya-karya intelektual yang mendokumentasikan, menganalisis, dan merayakan peradaban mereka sendiri dalam bahasa yang dapat diakses dunia. Padahal, naskah Carita Parahiyangan, Siksa Kandang Karesian, dan berbagai prasasti Sunda menyimpan kekayaan filosofi yang setara dengan tradisi intelektual besar dunia.


Strategi keempat adalah membangun ekosistem pengetahuan Sunda yang kuat:

Pertama, Investasi dalam kajian akademis tentang bahasa, sastra, sejarah, dan filsafat Sunda — dengan mendorong kolaborasi antara universitas di Jawa Barat dengan lembaga riset internasional.

Kedua,  Digitalisasi dan terjemahan naskah-naskah Sunda kuno ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris, agar bisa diakses oleh peneliti dan publik dunia.

Ketiga, Penerbitan karya-karya sastra, fiksi, dan jurnalisme berkualitas dalam bahasa Sunda dan tentang Sunda, yang mampu bersaing dalam ekosistem literasi nasional.


Tanpa ekosistem pengetahuan yang kuat, identitas hanya menjadi sentimen tanpa substansi — mudah dimanipulasi oleh politik identitas yang dangkal.


Strategi 5: Membangun Platform Representasi yang Inklusif

Strategi kelima dan mungkin yang paling mendesak adalah membangun platform representasi Sunda yang benar-benar inklusif — menjangkau seluruh lapisan masyarakat Sunda, lintas kelas, gender, dan generasi. Selama ini, representasi Sunda sering didominasi oleh kalangan elite budayawan dan birokrat, sementara suara petani, nelayan, perempuan, dan generasi muda belum terakomodasi secara memadai.


Platform ini tidak harus berbentuk partai politik atau lembaga formal. Ia bisa hadir sebagai:

Pertama, Koalisi masyarakat sipil yang menghubungkan organisasi-organisasi Sunda di berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, seni budaya, dan lingkungan hidup.

Kedua,  Forum deliberatif yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat Sunda secara rutin untuk merumuskan agenda bersama.                                                                                     Ketiga, Jaringan diaspora Sunda yang menjembatani komunitas Sunda di dalam dan luar negeri, mengalirkan sumber daya, jaringan, dan gagasan.


IV. Sunda dan Indonesia: Bukan Dikotomi

Penting untuk ditegaskan: memperkuat identitas Sunda bukanlah sikap anti-nasionalisme atau primordialisme sempit. Sebaliknya, Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang mengakui dan merayakan keberagaman etnis dan budayanya — bukan Indonesia yang seragam dan monokultur.


Orang Sunda tidak perlu memilih antara menjadi Sunda dan menjadi Indonesia. Keduanya bukan dikotomi — melainkan dua lapis identitas yang saling memperkaya. Semakin kuat identitas Sunda, semakin kaya warna Indonesia. Semakin berdaya orang Sunda, semakin kokoh fondasi Indonesia sebagai bangsa.


"Identitas yang sehat bukan yang menutup diri dari dunia, melainkan yang tahu di mana ia berpijak, sehingga dapat berdialog dengan dunia dari posisi yang setara dan percaya diri."


Dalam konteks global, keunikan identitas lokal justru menjadi keunggulan kompetitif — bukan beban. Di era di mana homogenisasi budaya mengancam keberagaman umat manusia, komunitas yang mampu mempertahankan identitas otentiknya sambil tetap relevan secara global adalah komunitas yang paling siap menghadapi masa depan.

V. Menuju Kebangkitan: Dari Kegelisahan ke Gerakan

H. Tatang Sumarsono mengakhiri tulisannya dengan catatan yang penuh harapan: generasi muda Sunda mulai kembali menoleh pada tradisi leluhurnya. Meski masih sebatas aksesori — menggunakan batik, belajar gamelan, atau berbicara bahasa Sunda di media sosial — proses itu adalah benih dari sesuatu yang lebih dalam.


Benih itu perlu disiram dengan strategi yang sadar dan terencana. Kegelisahan harus bertransformasi menjadi gerakan — gerakan yang mengintegrasikan pemajuan budaya, pemberdayaan ekonomi, penguatan kepemimpinan, dan partisipasi politik dalam satu visi yang koheren.


Sunda pernah berdaulat. Sunda memiliki peradaban yang kaya dan filosofi yang dalam. Dan Sunda, dengan segala potensinya, layak untuk kembali cumarita — kembali bersuara — di panggung nasional dan global. Bukan dengan nostalgia, tetapi dengan visi. Bukan dengan mengeluh, tetapi dengan bergerak.


Urang Sunda, haneut moyan — saatnya kita hangatkan kembali cahaya peradaban itu.


Bandung, 20 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future