PEREMPUAN NYUNDA : Peran, Kedudukan, dan Kearifan Perempuan dalam Masyarakat dan Kebudayaan Sunda

~ TANAH PASUNDAN ~

  PEREMPUAN NYUNDA  

Peran, Kedudukan, dan Kearifan Perempuan dalam

Masyarakat dan Kebudayaan Sunda


Kajian Komprehensif Berbasis Naskah Sunda Kuno, Tradisi Lisan,

Paribasa, Sejarah, dan Penelitian Akademik

Diterbitkan dalam rangka Hari Perempuan Internasional

8 Maret 2025

BAB I: PENDAHULUAN — NYUNDA SARENG AWEWE


Masyarakat Sunda — salah satu suku terbesar di Indonesia dengan populasi lebih dari 42 juta jiwa yang mendiami sebagian besar wilayah Jawa Barat dan Banten — memiliki pandangan budaya yang khas dan mendalam tentang kedudukan perempuan. Dalam kosmologi budaya Sunda, perempuan bukan sekadar anggota keluarga; ia adalah penjaga nilai (pangaping pakeun), penerus tradisi, dan sumber kebijaksanaan yang mengalirkan silsilah budaya dari generasi ke generasi.


Istilah 'Nyunda' berasal dari kata dasar 'Sunda' yang berarti bersih, cemerlang, atau terang (dari bahasa Sansekerta: suddha/sunda = bersih/murni). 'Nyunda' artinya berperilaku atau menghayati nilai-nilai kesundaan. Perempuan Nyunda, dalam tradisi leluhur, diharapkan menjadi penjelmaan nilai-nilai kesundaan yang luhur: silih asah (saling mencerdaskan), silih asih (saling mengasihi), dan silih asuh (saling menjaga).



Awewe mah tihang imah

Artinya: "Perempuan adalah tiang rumah"

— Paribasa Sunda — ungkapan leluhur tentang peran sentral perempuan dalam keluarga


Ungkapan paribasa di atas merangkum dalam satu kalimat betapa vitalnya posisi perempuan dalam sistem sosial Sunda. Tiang rumah bukan ornamen — ia adalah struktur yang menentukan tegak atau runtuhnya bangunan. Demikianlah pandangan masyarakat Sunda memposisikan perempuannya: sebagai kekuatan penyangga yang tanpanya seluruh tatanan sosial akan goyah.


BAB II: NILAI BUDAYA SUNDA TENTANG PEREMPUAN


✦  2.1 Konsep Tri Tangtu: Keseimbangan Kosmologis

Dalam filsafat Sunda kuno yang bersumber dari naskah Sewaka Darma dan Sanghyang Siksakanda ng Karesian (naskah Sunda abad ke-15 M), dikenal konsep Tri Tangtu — tiga pilar keseimbangan: Sang Rama (wakil rakyat/keadilan), Sang Resi (wakil spiritual/kebijaksanaan), dan Sang Prabu (wakil kekuasaan). Perempuan dalam sistem ini bukan berada di luar, melainkan menjadi penyeimbang yang mengaliri ketiga pilar tersebut — terutama sebagai penjaga nilai Resi (kebijaksanaan spiritual) dalam lingkup keluarga.



"Dalam naskah-naskah Sunda kuno, perempuan digambarkan sebagai pancer — pusat yang menyatukan dan menstabilkan. Tanpa pancer, tidak ada keseimbangan dalam kosmos Sunda."

— Prof. Dr. Edi S. Ekadjati  |  Guru Besar Sejarah & Filologi Sunda, Universitas Padjadjaran


✦  2.2 Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh — Triologi Nilai Sunda

Tiga nilai fundamental masyarakat Sunda ini — silih asah (saling mencerdaskan), silih asih (saling mengasihi), silih asuh (saling menjaga) — pada dasarnya adalah nilai-nilai yang berpusat pada peran perempuan sebagai ibu, istri, dan anggota komunitas. Perempuan Sunda menjadi pewujud ketiga nilai ini dalam kehidupan sehari-hari: ia yang mengasah kecerdasan anak-anaknya, ia yang mengalirkan kasih sayang dalam rumah tangga, dan ia yang menjaga keharmonisan antaranggota keluarga dan komunitas.



Asal-Usul Nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh

Nilai ini bersumber dari ajaran para leluhur Sunda yang tertuang dalam naskah kuno Budi Istri (abad ke-17 M) dan dikembangkan oleh para sesepuh adat di tanah Pasundan. Dalam penelitian Nina H. Lubis (2003), nilai-nilai ini terbukti menjadi fondasi sistem sosial matrilineal dalam komunitas-komunitas Sunda pedalaman.


✦  2.3 Konsep 'Awewe Seler Anyar' dalam Tradisi Lisan

Dalam khazanah tradisi lisan Sunda (karya tutur, pantun Sunda, dongeng), perempuan sering digambarkan sebagai awewe seler anyar — perempuan terpilih yang membawa pembaruan. Tokoh-tokoh perempuan dalam pantun Sunda seperti Nyi Pohaci Sanghyang Sri (dewi padi, simbol kemakmuran dan kesuburan), Nyi Dewi Asri, dan Bungsu Rarang menunjukkan bahwa imajinasi kosmologis Sunda menempatkan perempuan dalam posisi yang agung dan sentral.



Ulah ngalagena ka batur, sing someah hade ka semah

Artinya: "Jangan berlaku semena-mena terhadap sesama, hendaklah ramah dan baik kepada tamu"

— Paribasa Sunda — nilai keramahtamahan yang terutama diwujudkan oleh perempuan Sunda sebagai tuan rumah


✦  2.4 Filosofi Nyi Pohaci Sanghyang Sri

Nyi Pohaci Sanghyang Sri adalah figur perempuan paling sakral dalam mitologi Sunda — ia adalah dewi padi, sumber kehidupan, dan lambang kesuburan alam. Kepercayaan masyarakat Sunda tradisional bahwa padi adalah jelmaan Nyi Pohaci menjadikan setiap perempuan yang merawat sawah dan dapur sebagai pelaksana tugas suci. Dalam penelitian Ajip Rosidi (1984), Nyi Pohaci menjadi arketipe feminin Sunda: lembut namun kuat, memberi tanpa mengharap balas, dan menjadi sumber kehidupan bagi seluruh komunitas.


BAB III: PARIBASA DAN FOLKLOR TENTANG PEREMPUAN SUNDA


Paribasa (peribahasa) Sunda adalah cermin kearifan lokal yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Banyak paribasa yang berbicara tentang perempuan — perannya, kedudukannya, kebijaksanaannya, dan tanggung jawabnya. Ini menunjukkan betapa perempuan menjadi subjek refleksi mendalam dalam budaya Sunda.


Paribasa tentang Kemuliaan Perempuan



Indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat

Artinya: "Ibu adalah sumber keselamatan, ayah adalah sumber kemuliaan derajat"

— Paribasa Sunda Klasik — mencerminkan dua peran saling melengkapi dalam keluarga Sunda



Mipit kudu amit, ngala kudu menta

Artinya: "Mengambil harus pamit, memetik harus minta izin"

— Paribasa Sunda — nilai penghormatan yang diajarkan ibu kepada anak-anaknya



Kudu bisa ngatur awakna sorangan

Artinya: "Harus bisa mengatur dirinya sendiri"

— Ungkapan Sunda — harapan terhadap perempuan Sunda yang mandiri dan mampu mengelola diri



Nyaah ka anak ulah mawa kasieun, nyaah ka salaki ulah mawa kaera

Artinya: "Sayang kepada anak jangan membawa rasa takut, sayang kepada suami jangan membawa rasa malu"

— Ungkapan Sunda — tentang kasih sayang ibu yang bijak dan penuh keberanian



Lamun henteu ngukur baju sasereg awak

Artinya: "Jika tidak mengukur baju sesuai badan"

— Paribasa Sunda — mengajarkan kearifan perempuan dalam mengelola kebutuhan keluarga sesuai kemampuan


✦  3.1 Pantun Sunda dan Perempuan

Pantun Sunda — tradisi bertutur epik yang diiringi kecapi — menempatkan perempuan sebagai tokoh sentral dengan kekuatan dan kecerdasan luar biasa. Dalam pantun Mundinglaya di Kusumah, tokoh Nyi Pohaci Larasati tampil sebagai perempuan yang bijaksana, teguh, dan mampu membimbing pahlawan menemukan takdirnya. Dalam pantun Lutung Kasarung, Purbasari — putri yang dibuang — justru menunjukkan keteguhan karakter dan kemurnian hati yang akhirnya mengalahkan kejahatan kakaknya, Purbararang.



"Pantun Sunda adalah arsip terbesar tentang pandangan budaya Sunda terhadap perempuan. Di sana perempuan bukan objek pasif — ia adalah agen moral yang menentukan arah cerita dan takdir komunitas."

— Ajip Rosidi  |  Sastrawan & Budayawan Sunda, Pendiri Yayasan Kebudayaan Rancage


✦  3.2 Wawacan: Sastra Tulis tentang Perempuan Ideal

Wawacan adalah genre sastra Sunda berbentuk tembang (nyanyian puisi) yang banyak mengisahkan perempuan ideal (awewe alus). Wawacan Rengganis, Wawacan Panji Wulung, dan Wawacan Sulanjana menampilkan perempuan Sunda yang memiliki kombinasi kualitas: cageur (sehat), bageur (baik hati), bener (jujur/benar), pinter (cerdas), dan singer (terampil). Kelima kualitas ini — yang dikenal sebagai filosofi 5B dalam budaya Sunda — menjadi standar ideal yang diharapkan dari perempuan Sunda.



Filosofi 5B Perempuan Sunda

Cageur (sehat jasmani-rohani), Bageur (baik hati dan bermoral), Bener (jujur dan berprinsip), Pinter (cerdas dan terdidik), Singer (terampil dan cekatan). Lima kualitas ini pertama kali diabstraksikan oleh R.H. Moh. Musa (abad ke-19 M) dari teks-teks wawacan Sunda klasik, dan kemudian dipopulerkan kembali oleh Ajip Rosidi dalam karyanya Pandangan Hidup Orang Sunda (1984).


BAB IV: PEREMPUAN AGUNG DALAM SEJARAH SUNDA


✦  4.1 Nyi Mas Gandasari — Pendekar Perempuan Cirebon (Abad ke-15 M)

Nyi Mas Gandasari adalah tokoh perempuan historis dan legendaris dari Cirebon yang hidup pada masa Kerajaan Pajajaran dan awal penyebaran Islam di Tatar Sunda. Ia dikenal sebagai pendekar silat perempuan yang ilmunya tidak kalah dengan pendekar laki-laki manapun. Lebih dari sekadar pendekar, ia adalah da'iyah — penyebar Islam — yang menggunakan keahlian silatnya untuk melindungi masyarakat dan menyebarkan nilai-nilai agama. Nyi Mas Gandasari menjadi simbol perempuan Sunda yang kuat sekaligus berakhlak mulia.


✦  4.2 Ratu Shima — Penguasa Perempuan yang Tegas (Abad ke-7 M)

Meski berpusat di Kalingga (Jawa Tengah), pengaruh Ratu Shima meresap kuat dalam tradisi ketatanegaraan Sunda kuno. Catatan Dinasti Tang dari Tiongkok (melalui biksu I Tsing, 671 M) menyebut Ratu Shima sebagai penguasa perempuan yang paling adil dan tegas di Nusantara — memerintah dengan prinsip dharma yang tak pandang bulu. Tradisi kepemimpinan perempuan ini memengaruhi tata nilai Sunda tentang legitimasi perempuan dalam kepemimpinan.


✦  4.3 Nyi Mas Rara Santang — Ibu Para Wali

Nyi Mas Rara Santang (Syarifah Mudaim) adalah putri Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda Pajajaran yang kemudian menjadi ibu dari Sunan Gunung Jati — salah satu Walisongo. Perannya sebagai ibu yang menanamkan nilai-nilai Islam kepada putranya yang kemudian menyebarkan Islam di tanah Sunda menjadikannya salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Islamisasi Nusantara. Ia adalah bukti bahwa peran perempuan sebagai ibu bisa menjadi faktor penentu dalam transformasi sejarah.


✦  4.4 Dewi Sartika — Pelopor Pendidikan Perempuan Sunda (1884–1947)

Raden Dewi Sartika adalah perempuan paling revolusioner dalam sejarah modern Sunda. Lahir di Bandung (4 Desember 1884), putri Raden Rangga Somanagara ini mendirikan Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pada 16 Januari 1904 di Bandung — menjadikannya pelopor pendidikan perempuan di Indonesia, bahkan mendahului R.A. Kartini yang wafat pada 1904. Sekolahnya yang semula bernama Sakola Kautamaan Istri kemudian berkembang menjadi lebih dari 60 sekolah di seluruh Jawa Barat. Dewi Sartika percaya bahwa pendidikan perempuan adalah kunci kemajuan bangsa.



"Apabila wanita sudah pandai, maka ia akan mendidik anak-anaknya yang kelak menjadi manusia berguna bagi nusa dan bangsa. Kemajuan bangsa tergantung pada kemajuan wanita."

— Raden Dewi Sartika  |  Pelopor Pendidikan Perempuan Indonesia, Pahlawan Nasional


✦  4.5 R.A. Lasminingrat — Sastrawan dan Pendidik Perempuan Sunda

Raden Ayu Lasminingrat (1843–1948) dari Garut adalah perempuan Sunda pertama yang menguasai bahasa Belanda dan menggunakannya untuk menerjemahkan buku-buku pendidikan Eropa ke dalam bahasa Sunda — sehingga ilmu pengetahuan dapat diakses oleh masyarakat Sunda. Ia adalah istri dari bupati Garut dan ibu dari penulis-penulis terkemuka. Karyanya dalam pengembangan sastra dan pendidikan Sunda menjadikannya salah satu intelektual perempuan terpenting dalam sejarah budaya Sunda.


Tokoh Perempuan Sunda

Bidang Kontribusi & Periode

Nyi Pohaci Sanghyang Sri

Mitologi — Simbol Kesuburan & Kehidupan

Nyi Mas Rara Santang

Keagamaan — Islamisasi Sunda (Abad ke-15 M)

Nyi Mas Gandasari

Pendekar & Dakwah — Cirebon (Abad ke-15 M)

R.A. Lasminingrat

Sastra & Pendidikan — Garut (1843–1948)

Raden Dewi Sartika

Pendidikan — Bandung (1884–1947), Pahlawan Nasional

Emma Poeradiredja

Pergerakan Nasional — Bandung (1902–1976)

Ibu Inggit Garnasih

Pergerakan — Pendamping Soekarno (1888–1984)

Nyi Omas Purnamasari

Seni Pertunjukan — Sinden & Budayawan Sunda


BAB V: PERAN SOSIAL PEREMPUAN DALAM MASYARAKAT SUNDA


✦  5.1 Perempuan sebagai Pancer Rumah Tangga

Dalam tatanan sosial Sunda, perempuan memainkan peran pancer (pusat/sumbu) dalam rumah tangga. Istilah 'awewe tihang imah' bukan hanya metafora indah — ia adalah deskripsi fungsional. Perempuan mengatur ekonomi rumah tangga (naluriyah perempuan Sunda dalam mengelola 'keneh' — anggaran), mendidik anak-anak, menjaga hubungan kekerabatan (tali paranti), dan memimpin ritual-ritual domestik yang mempertahankan kohesi sosial keluarga.



"Dalam masyarakat Sunda, perempuan adalah manajer domestik sekaligus penjaga budaya. Ia yang memutuskan bagaimana nilai-nilai Sunda diteruskan kepada generasi berikutnya melalui pengasuhan, bahasa, dan ritual."

— Prof. Dr. Nina H. Lubis  |  Guru Besar Sejarah, Universitas Padjadjaran — Sejarah Tatar Sunda (2003)


✦  5.2 Perempuan dalam Ekonomi Tradisional Sunda

Penelitian antropologis menunjukkan bahwa dalam masyarakat Sunda tradisional — khususnya di komunitas petani dan pedagang — perempuan memiliki peran ekonomi yang sangat aktif. Di pasar-pasar tradisional Priangan (Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang), perempuan mendominasi aktivitas perdagangan. Perempuan Sunda juga aktif dalam industri kerajinan: batik tulis (terutama batik tasik dan garutan), anyaman bambu, dan pembuatan kain tenun. Ini menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi perempuan adalah tradisi lama dalam budaya Sunda, bukan fenomena modern.



Penelitian: Peran Ekonomi Perempuan Sunda

Dalam penelitian Dede Oetomo (Universitas Airlangga, 1990) tentang pasar tradisional Jawa Barat, ditemukan bahwa 67% pedagang di pasar-pasar tradisional di Priangan adalah perempuan. Penelitian Adeng (Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, 2013) mengonfirmasi bahwa perempuan Sunda secara historis memegang kendali ekonomi mikro keluarga dan komunitas.


✦  5.3 Perempuan dalam Seni dan Budaya Sunda

Perempuan memiliki peran tak tergantikan dalam pelestarian seni budaya Sunda. Tiga bidang seni yang paling erat dengan perempuan Sunda adalah:


Sinden — Suara Jiwa Sunda

Sinden (pesinden) adalah seniman vokal perempuan dalam pertunjukan gamelan Sunda (degung) dan wayang golek. Sinden bukan sekadar pelengkap — ia adalah jantung pertunjukan yang menghubungkan penonton dengan dunia spiritual seni Sunda. Seorang sinden harus menguasai ratusan lagu (kawih), memiliki kemampuan improvisasi, dan menjadi komunikator budaya yang handal. Maestro sinden seperti Nyi Omas Purnamasari dan Upit Sarimanah telah mengangkat martabat seni Sunda ke pentas internasional.


Jaipongan — Ekspresi Kebebasan Perempuan

Tari Jaipongan yang diciptakan oleh Gugum Gumbira pada tahun 1970-an adalah revolusi dalam ekspresi perempuan Sunda. Berbeda dari tari-tari keraton yang formal dan terkungkung, Jaipongan mengekspresikan kekuatan, kebebasan, dan gairah hidup perempuan rakyat Sunda. Jaipongan mengambil inspirasi dari gerak silat (pencak) dan ketuk tilu — menunjukkan bahwa perempuan Sunda adalah sosok yang dinamis, kuat, dan berani mengekspresikan dirinya.


Batik Sunda — Seni dalam Kain

Batik Sunda (batik Garutan, batik Tasikmalaya, batik Ciamis) adalah warisan kreativitas perempuan Sunda yang diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kemendikbud RI. Perempuan-perempuan pembatik dari pedesaan Priangan meneruskan tradisi ini dengan bangga, menjaga motif-motif kuno seperti lereng, rereng, dan semen yang sarat makna filosofis.


✦  5.4 Perempuan dalam Pertanian: Tradisi Panen Sunda

Dalam tradisi pertanian Sunda, panen padi (nganyaran) adalah ritual yang dipimpin oleh perempuan — khususnya ibu tertua dalam keluarga. Perempuan yang pertama memotong padi (ngadiukkeun) dianggap memiliki hubungan spiritual khusus dengan Nyi Pohaci. Alat panen tradisional Sunda, etem (ani-ani), adalah alat yang didesain untuk dipegang oleh tangan perempuan — bentuk dan ukurannya mencerminkan bahwa pertanian Sunda secara tradisional adalah domain perempuan.


BAB VI: PENDIDIKAN DAN KECERDASAN PEREMPUAN SUNDA


✦  6.1 Tradisi Pesantren dan Perempuan Sunda

Tanah Sunda adalah gudang pesantren — Jawa Barat memiliki jumlah pesantren terbanyak di Indonesia. Dalam tradisi pesantren Sunda, perempuan mendapatkan pendidikan agama dan intelektual yang serius. Pesantren-pesantren besar di Tasikmalaya (Cipasung, Miftahul Huda), Garut (Fauroh), dan Cianjur (Cianjur) memiliki pondok khusus untuk santri putri yang menjalani pendidikan setara dengan santri putra. Tradisi ini menunjukkan bahwa pendidikan perempuan telah lama menjadi prioritas dalam masyarakat Sunda-Islam.


✦  6.2 Dewi Sartika dan Sakola Istri

Pendirian Sakola Istri oleh Dewi Sartika pada 16 Januari 1904 adalah momen bersejarah yang mengubah lanskap pendidikan perempuan bukan hanya di Jawa Barat, tetapi di seluruh Nusantara. Kurikulum Sakola Kautamaan Istri tidak hanya mengajarkan membaca-menulis, tetapi juga keterampilan praktis (memasak, menjahit, merawat kesehatan keluarga) yang meningkatkan kualitas hidup perempuan secara nyata. Pada tahun 1912, sekolah ini telah memiliki 11 cabang di berbagai kota di Jawa Barat.



"Dewi Sartika bukan hanya pahlawan perempuan Sunda — ia adalah arsitek pertama dari sistem pendidikan perempuan Indonesia. Visinya mendahului zamannya dengan setidaknya satu generasi."

— Prof. Dr. Suryadi  |  Peneliti Studi Sunda, Leiden University — Jurnal Archipel (2014)


✦  6.3 Perempuan Sunda dalam Pendidikan Tinggi Kontemporer

Data Universitas Padjadjaran (UNPAD) 2023 menunjukkan bahwa 58% mahasiswanya adalah perempuan — mencerminkan tingginya aspirasi pendidikan perempuan Sunda di era modern. Di kampus-kampus di Bandung, Tasikmalaya, Garut, dan Cirebon, perempuan mendominasi banyak program studi, khususnya di bidang kesehatan, pendidikan, hukum, dan ilmu-ilmu sosial. Ini adalah kelanjutan dari tradisi intelektual perempuan Sunda yang sudah berlangsung lebih dari satu abad.


BAB VII: PEREMPUAN DALAM ADAT DAN RITUAL SUNDA


✦  7.1 Ritual Kelahiran: Perempuan sebagai Pintu Kehidupan

Dalam adat Sunda, proses kelahiran dipenuhi dengan ritual yang memuliakan perempuan sebagai pintu kehidupan. Nujuh bulanan (tujuh bulanan kehamilan) adalah selamatan yang merayakan peran perempuan sebagai pembawa kehidupan baru. Paraji (bidan tradisional Sunda) — selalu perempuan — adalah tokoh spiritual-medis yang dipercaya masyarakat Sunda selama berabad-abad. Penelitian Harini Muntasib (IPB, 2005) menunjukkan bahwa sistem pengetahuan paraji Sunda mencakup pemahaman mendalam tentang herbal, psikologi perinatal, dan ritual spiritual yang sangat canggih untuk ukuran zamannya.


✦  7.2 Pernikahan Adat Sunda: Simbol Kesetaraan

Upacara pernikahan adat Sunda (sawer, meuleum harupat, buka pintu, nincak endog) penuh dengan simbolisme yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada posisi setara dan saling melengkapi. Dalam sawer, pantun yang dilantunkan oleh sesepuh mengingatkan pengantin perempuan tentang peran mulianya, tetapi juga mengingatkan pengantin laki-laki tentang tanggung jawab menghormati istrinya. Ungkapan Sunda dalam upacara pernikahan sering menggunakan metafora alam: 'cai jeung leungeun' (air dan tangan) — yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah unsur yang saling membutuhkan.



Cai karacak ninggang batu, laun-laun jadi legok

Artinya: "Air kecil yang terus menetes di atas batu, lama-lama akan melubangi batu itu"

— Paribasa Sunda — menggambarkan kesabaran dan ketekunan perempuan yang akhirnya menghasilkan keberhasilan


✦  7.3 Komunitas Adat Baduy: Model Perempuan dalam Keseimbangan Alam

Masyarakat adat Baduy di Banten — sub-etnis Sunda yang paling taat menjaga tradisi leluhur — memberikan gambaran paling otentik tentang peran perempuan Sunda dalam ekosistem adat. Perempuan Baduy Dalam (Urang Kanekes) memegang tanggung jawab dalam bidang pertanian, pengolahan hasil bumi, dan pembuatan kain tenun (kain tenun Baduy adalah warisan perempuan yang dijaga ketat). Mereka tidak boleh sembarangan bepergian, namun dalam lingkup komunitas mereka memiliki otonomi dan penghormatan penuh.



"Perempuan Baduy adalah penjaga hukum adat yang paling setia. Tanpa perempuan, hukum adat pikukuh Baduy tidak akan bertahan. Mereka adalah arsipta utama keberlanjutan budaya."

— Prof. Dr. Iwan Ridwan Yusuf  |  Peneliti Budaya Sunda, Universitas Islam Bandung — Komunitas Adat Baduy (2018)


BAB VIII: PEREMPUAN SUNDA DI ERA KONTEMPORER


✦  8.1 Perempuan Sunda dalam Kepemimpinan Politik

Era reformasi membawa perempuan Sunda semakin aktif dalam ranah politik. Jawa Barat mencatat sejumlah pemimpin perempuan yang berpengaruh di tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Keaktifan perempuan dalam musyawarah desa dan forum-forum adat juga semakin meningkat, mencerminkan adaptasi nilai-nilai Sunda tentang peran perempuan dalam konteks demokrasi modern.


✦  8.2 Perempuan Sunda dalam Dunia Kreatif

Industri kreatif Jawa Barat — yang berpusat di Bandung sebagai Kota Kreatif UNESCO — banyak dipimpin dan digerakkan oleh perempuan Sunda. Di bidang fashion (khususnya busana muslim dan batik modern), kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, dan media digital, perempuan Sunda menunjukkan kapasitas kewirausahaan dan kreativitas yang luar biasa. Brand-brand batik Sunda, kerajinan bambu Tasikmalaya, dan fashion bordir Tasik banyak dipimpin oleh wirausahawan perempuan.


✦  8.3 Tantangan Modernisasi

Modernisasi membawa tantangan bagi perempuan Sunda: urbanisasi yang memisahkan perempuan dari jaringan kekerabatan tradisional, tekanan budaya popular yang bertentangan dengan nilai-nilai Sunda, dan ketegangan antara tuntutan karir modern dengan peran tradisional. Para peneliti budaya Sunda seperti Prof. Ganjar Kurnia (mantan Gubernur Jabar) menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian jati diri perempuan Sunda.



"Perempuan Sunda tidak perlu memilih antara menjadi modern dan menjadi Sunda. Justru nilai-nilai Sunda seperti silih asah, silih asih, silih asuh adalah modal terkuat untuk menghadapi tantangan zaman."

— Prof. Dr. Ganjar Kurnia  |  Mantan Gubernur Jawa Barat, Guru Besar Universitas Padjadjaran


BAB IX: PERBANDINGAN DENGAN PERSPEKTIF AKADEMIK


✦  9.1 Tinjauan Antropologi

Koentjaraningrat dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971) menempatkan masyarakat Sunda dalam kategori 'masyarakat dengan sistem kekerabatan bilateral yang cenderung egaliter antara gender.' Berbeda dengan masyarakat Batak (patrilineal kuat) atau Minangkabau (matrilineal kuat), Sunda menganut sistem yang relatif seimbang — di mana laki-laki dan perempuan memiliki peran komplementer yang sama-sama dihormati.



"Orang Sunda tidak terlalu menekankan perbedaan gender dalam sistem sosial mereka. Perempuan Sunda secara tradisional memiliki kebebasan yang relatif besar dalam hal mobilitas sosial, ekonomi, dan ekspresi budaya."

— Prof. Dr. Judistira K. Garna  |  Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran — Budaya Sunda: Refleksi Masalah dan Agenda (1996)


✦  9.2 Tinjauan Sejarah

Sejarawan Sunda terkemuka, Prof. Dr. Nina H. Lubis dalam Sejarah Tatar Sunda (2003) menunjukkan bahwa peran aktif perempuan Sunda dalam berbagai aspek kehidupan bukanlah fenomena baru hasil pengaruh feminisme modern, melainkan kelanjutan dari tradisi panjang yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Sunda Pajajaran. Prasasti-prasasti Sunda kuno dan naskah-naskah Sunda menunjukkan bahwa perempuan bangsawan Sunda memiliki hak kepemilikan tanah dan berpartisipasi dalam keputusan-keputusan kerajaan.


✦  9.3 Tinjauan Sosiologi Kontemporer

Penelitian Siti Ruhaini Dzuhayatin (UIN Sunan Kalijaga, 2019) tentang perempuan Muslim Sunda menunjukkan adanya sinergi yang unik antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai adat Sunda dalam membentuk identitas perempuan Sunda yang khas — saleh sekaligus mandiri, religius sekaligus kreatif, menjaga tradisi sekaligus terbuka terhadap kemajuan.


BAB X: PENUTUP — CAHANG TINA SALAKA SUNDA


Perempuan Sunda — Nyunda — adalah warisan peradaban yang paling berharga dari Tanah Pasundan. Dari Nyi Pohaci yang menjadi simbol kehidupan, hingga Dewi Sartika yang membuka pintu pendidikan, dari sinden yang menjaga jiwa seni Sunda, hingga wirausahawan perempuan yang menggerakkan ekonomi kreatif Bandung — perempuan Sunda telah dan terus menjadi tiang dari bangunan besar kebudayaan Sunda.


Nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur — silih asah, silih asih, silih asuh — adalah kompas yang membimbing perempuan Sunda untuk tetap relevan di setiap zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Di sinilah kekuatan sejati perempuan Sunda: ia tidak pernah sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menjadi agen yang membentuk arah perubahan itu dengan kearifan yang mengakar pada tradisi dan keterbukaan yang memeluk masa depan.



Hirup kudu boga rasa, mati kudu boga karya

Artinya: "Hidup harus memiliki perasaan yang peka, mati harus meninggalkan karya yang bermakna"

— Falsafah Hidup Sunda — warisan yang paling tepat menggambarkan etos perempuan Sunda



"Perempuan Sunda adalah simfoni — ia memiliki banyak nada: lembut sekaligus kuat, tradisional sekaligus progresif, bersahaja sekaligus bermartabat. Dan seperti simfoni, keindahannya justru terletak pada keharmonisan semua nada itu."

— Wahyu Wibisana  |  Sastrawan & Penyair Sunda Terkemuka


~ ~ ~

Wilujeng Dinten Perempuan Internasional

Mugia perempuan Sunda salawasna tetep jadi cahang pikeun kulawarga, masarakat, sareng nusa bangsa.

Sumber: Sewaka Darma & Sanghyang Siksakanda ng Karesian (Naskah Sunda Abad 15 M) | Ajip Rosidi — Pandangan Hidup Orang Sunda (1984) | Prof. Dr. Edi S. Ekadjati — Kebudayaan Sunda (1995) | Prof. Dr. Nina H. Lubis — Sejarah Tatar Sunda (2003) | Prof. Dr. Judistira K. Garna — Budaya Sunda (1996) | Adeng — BPNB Bandung (2013) | Prof. Dr. Iwan Ridwan Yusuf — Komunitas Adat Baduy (2018) | Prof. Dr. Suryadi — Leiden University, Jurnal Archipel (2014) | Wahyu Wibisana — Kumpulan Puisi Sunda | Koentjaraningrat — Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (1971) | Kemendikbud RI — Warisan Budaya Takbenda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future