Satu Ekonom yang Percaya Dunia Bisa Diperbaiki : Menelusuri Pemikiran, Gagasan, dan Karya Jeffrey D. Sachs

OPINI

Satu Ekonom yang PercayaD unia Bisa Diperbaiki : Menelusuri Pemikiran, Gagasan, dan Karya Jeffrey D. Sachs

Oleh: Asep Rohmandar 

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar naif: bisakah kemiskinan di dunia benar-benar dihapuskan? Bagi kebanyakan orang, ini terdengar seperti mimpi yang terlalu indah. Tapi bagi Jeffrey D. Sachs, pertanyaan itu bukan sekadar retorika. Ia adalah program kerja. Gambar Jeffrey D. Sachs (Tengah). 


Sachs adalah ekonom asal Detroit yang pernah mendapat gelar B.A., M.A., dan Ph.D. dari Harvard sebelum mengajar di sana selama lebih dari dua puluh tahun. Hari ini ia menjabat sebagai University Professor di Columbia — gelar akademis tertinggi di kampus itu — sekaligus menjadi salah satu suara paling nyaring dalam perdebatan global tentang kemiskinan, iklim, dan perdamaian dunia.


The New York Times pernah menyebutnya “mungkin ekonom paling penting di dunia.” Time magazine memasukkannya dua kali dalam daftar 100 orang paling berpengaruh. Ia pun menjadi penasihat khusus tiga Sekretaris Jenderal PBB berturut-turut: Kofi Annan, Ban Ki-moon, dan António Guterres. Tapi yang paling menarik dari Sachs bukanlah deretan jabatan atau penghargaannya — melainkan keyakinannya yang teguh bahwa dunia yang lebih baik bukan hanya mungkin, tapi memang sudah seharusnya terjadi.


“Generasi kita bisa menjadi generasi yang mengakhiri kemiskinan ekstrem.” — Jeffrey D. Sachs


Kemiskinan Bukan Takdir


Gagasan paling mendasar Sachs bisa diringkas dalam satu kalimat: kemiskinan ekstrem bukanlah kutukan alam, bukan kemalasan, dan bukan takdir. Ia adalah sebuah perangkap sistemik yang bisa dipatahkan.


Ia menyebutnya “poverty trap” — perangkap kemiskinan. Bayangkan sebuah desa di Afrika yang ingin membangun sekolah, membeli pupuk, atau memasang pompa air. Mereka tidak bisa — bukan karena malas, tapi karena mereka terlalu miskin untuk menabung, dan terlalu miskin untuk berinvestasi. Tanpa investasi, mereka tetap miskin. Tanpa keluar dari kemiskinan, mereka tidak bisa berinvestasi. Lingkaran itu berputar dan berputar, turun dari generasi ke generasi.


“Tantangan terbesar pembangunan adalah membantu negara-negara termiskin mendapatkan pijakan pertama di tangga. Negara-negara kaya tidak perlu menginvestasikan cukup banyak untuk membuat mereka kaya — mereka hanya perlu menginvestasikan cukup agar negara-negara itu bisa menginjak anak tangga pertama.”
— The End of Poverty (2005)


Solusi Sachs? Apa yang ia sebut “Big Push” — dorongan besar yang terkoordinasi. Bukan satu intervensi kecil di sana-sini, tapi investasi simultan di enam bidang sekaligus: pertanian, kesehatan dasar, pendidikan, infrastruktur, air bersih, dan pemberdayaan perempuan. Semua saling bergantung. Memperbaiki satu tanpa yang lain seperti mengisi ember yang bocor.


Untuk membuktikan idenya, Sachs mendirikan Millennium Villages Project — proyek yang beroperasi di lebih dari selusin negara Afrika dan menyentuh kehidupan ratusan ribu orang. Hasilnya tidak sempurna — dan kritik pun bermunculan — tapi proyek itu setidaknya membuktikan bahwa kemiskinan bisa bergerak, bisa diubah, bukan sesuatu yang diam tak berdaya.


Dokter yang Merawat Negara


Ada momen menarik dalam perjalanan intelektual Sachs: istrinya adalah dokter anak. Dan dari dunia medis itulah Sachs mengambil analogi yang paling menggambarkan pendekatannya terhadap ekonomi pembangunan.


Ia menyebutnya “Clinical Economics” — ekonomi klinik. Idenya sederhana namun revolusioner: setiap negara, seperti setiap pasien, memiliki kondisi yang unik. Seorang dokter yang baik tidak langsung memberikan resep yang sama untuk semua pasien. Ia mendiagnosis dulu. Ia bertanya, memeriksa, memahami riwayat pasiennya. Baru kemudian ia meresepkan obat yang tepat.


“Ekonomi pembangunan yang baru perlu muncul, yang lebih berakar pada sains — sebuah ‘clinical economics’ yang analog dengan kedokteran modern. Seperti halnya seorang dokter memahami bahwa penyakit muncul dari berbagai faktor yang saling berinteraksi, para ekonom pembangunan membutuhkan keterampilan diagnostik yang lebih baik.”
— Jeffrey Sachs, Scientific American, 2005


Menurut Sachs, ada tujuh “gejala” yang bisa menjebak sebuah negara dalam kemiskinan: perangkap kemiskinan itu sendiri, kebijakan ekonomi yang buruk, utang yang menumpuk, keterbatasan geografis (bayangkan negara yang terkurung daratan tanpa akses laut), kegagalan pemerintahan, hambatan budaya seperti diskriminasi gender, dan dampak geopolitik seperti perang dan sanksi internasional.


Pendekatan ini sebenarnya adalah kritik halus terhadap kebanyakan ekonom barat yang datang ke negara berkembang dengan satu resep — biasanya berupa liberalisasi pasar dan pengurangan peran negara — tanpa benar-benar memahami konteks lokal. Sachs mengusulkan diagnosis sebelum resep. Dengarkan sebelum berbicara. Pahami sebelum memutuskan.


“Seperti seorang dokter, ekonom harus mendiagnosis sebelum meresepkan.”


Bumi Ini Milik Kita Bersama


Pada 2008, Sachs menerbitkan Common Wealth: Economics for a Crowded Planet. Judulnya sengaja dipilih dengan makna ganda: “common wealth” bisa berarti kesejahteraan bersama, atau persemakmuran — aset-aset bumi yang kita miliki bersama.


Pesannya adalah peringatan: planet ini semakin sesak, sumber daya alam semakin terkuras, dan negara-negara kaya mengonsumsi jauh melampaui kapasitas bumi. Sementara itu, negara-negara miskin yang justru paling sedikit berkontribusi pada kerusakan lingkungan, merekalah yang paling menanggung akibatnya.


Sachs melihat krisis kemiskinan dan krisis lingkungan bukan sebagai dua masalah terpisah, melainkan dua sisi dari kegagalan yang sama: kegagalan kita sebagai umat manusia untuk hidup dalam harmoni dengan bumi dan satu sama lain. Dan solusinya pun harus datang bersama — tidak bisa kita pilih satu dan mengabaikan yang lain.


Iklim: Batas yang Tidak Bisa Kita Abaikan


Jika ada satu isu yang semakin menguasai pemikiran Sachs di dekade terakhir, itu adalah perubahan iklim. Ia bukan hanya komentator — ia adalah salah satu pendiri Deep Decarbonization Pathways Project, sebuah upaya ilmiah untuk memetakan bagaimana dunia bisa mencapai nol emisi karbon sambil tetap tumbuh secara ekonomi.


“Kita sangat dekat dengan kehilangan kemungkinan untuk menghindari bencana iklim. Ekonomi dunia telah tumbuh begitu cepat, dan kelalaian lingkungan kita begitu parah, sehingga manusia sedang melintasi batas keselamatan planet ini.”
— Jeffrey Sachs, Pontifical Academy of Social Sciences, 2014


Bagi Sachs, transisi energi bukan sekadar soal mengganti batu bara dengan panel surya. Ia adalah kesempatan untuk menciptakan lapangan kerja baru, membangun infrastruktur yang lebih adil, dan memberikan akses energi bersih kepada miliaran orang yang selama ini hidup dalam kegelapan. Tapi ini hanya bisa terjadi jika ada kerja sama internasional yang serius — bukan retorika konferensi iklim yang diikuti dengan kebijakan yang sama saja.


Ketika Demokrasi Dijual


Pada 2011, Sachs menerbitkan The Price of Civilization — bukunya yang paling reflektif dan paling personal. Di sini ia tidak berbicara tentang Afrika atau Asia. Ia berbicara tentang negaranya sendiri: Amerika Serikat.


Diagnosisnya keras: Amerika telah membiarkan sistem politiknya dibajak oleh donor besar dan lobi korporasi. Akibatnya, kebijakan yang dibuat bukan untuk kepentingan publik, melainkan untuk kepentingan segelintir orang kaya. Ketimpangan melebar, kepercayaan sosial merosot, dan budaya konsumerisme telah menggerus nilai-nilai yang seharusnya menjadi fondasi demokrasi.


“Sachs menawarkan diagnosis yang tajam tentang penyakit ekonomi negaranya, dan seruan mendesak bagi warga Amerika untuk memulihkan kebajikan-kebajikan inti: kejujuran, keadilan, dan wawasan jauh ke depan.”
— Deskripsi Buku, jeffsachs.org


Tapi Sachs bukan pesimis. Ia percaya bahwa “harga peradaban” — pajak yang adil, investasi publik dalam pendidikan dan infrastruktur, dan keterlibatan aktif warga dalam demokrasi — adalah harga yang layak dan mampu dibayar. Persoalannya adalah kemauan, bukan kemampuan.


Dunia Butuh Perdamaian, Bukan Lebih Banyak Senjata


Di usia kariernya yang matang, Sachs semakin lantang berbicara tentang kebijakan luar negeri, khususnya kecenderungan Amerika Serikat untuk menyelesaikan masalah dunia dengan kekuatan militer.


Dalam A New Foreign Policy (2018), ia menyerukan apa yang ia sebut sebagai diplomasi berbasis kerja sama — sebuah pendekatan yang menempatkan hukum internasional, Piagam PBB, dan dialog multilateral di atas dominasi militer.


“Pengejaran keunggulan telah menyeret Amerika ke dalam perang yang tidak bijak dan tidak bisa dimenangkan, dan sudah saatnya beralih dari membuat perang menjadi membuat perdamaian serta merangkul peluang yang ditawarkan kerja sama internasional.”
— A New Foreign Policy (2018)


Sachs berpendapat bahwa dunia multipolar yang sejahtera hanya bisa lahir dari kepercayaan timbal balik antarnegara, bukan dari hegemoni satu kekuatan. Pandangan ini membuatnya sering berseberangan dengan arus utama kebijakan luar negeri Amerika — dan itu tampaknya bukan sesuatu yang ia sesali.


“Dunia tidak butuh polisi tunggal. Dunia butuh meja perundingan yang lebih besar.”


SDGs: Ketika Mimpi Jadi Agenda Global


Salah satu warisan terbesar Sachs adalah perannya dalam merancang Sustainable Development Goals — 17 tujuan pembangunan global yang diadopsi PBB pada 2015 dan kini menjadi peta jalan bagi hampir seluruh negara di dunia.


Sebagai kepala UN Sustainable Development Solutions Network (SDSN), Sachs memimpin jaringan ribuan ilmuwan, akademisi, dan praktisi pembangunan dari seluruh dunia untuk menghasilkan solusi konkret dan berbasis bukti. Bukan sekadar dokumen aspiratif, tapi benar-benar blueprint untuk perubahan.


The Age of Sustainable Development (2015) — buku teksnya yang kini dipakai di ratusan universitas — adalah upaya paling sistematis Sachs untuk merangkum semua pemikirannya dalam satu kerangka: bagaimana ekonomi, sosial, dan lingkungan bisa tumbuh bersama, bukan saling mengorbankan.


“Dunia ini memiliki alat untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam segala bentuknya pada tahun 2030 dan untuk mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan yang kita hadapi bersama.”
— Jeffrey Sachs, Project Syndicate, 2013


Etika adalah Fondasinya


Pada 2022, Sachs menerbitkan apa yang mungkin menjadi bukunya yang paling tidak biasa: Ethics in Action for Sustainable Development. Ini bukan buku ekonomi dalam pengertian konvensional. Ini adalah undangan untuk berdialog — sebuah percakapan lintas agama, lintas budaya, lintas tradisi — tentang fondasi moral dari upaya membangun dunia yang lebih baik.


Buku ini mendapat kata pengantar dari Paus Fransiskus dan Patriark Ekumenis Bartholomew — sebuah sinyal bahwa Sachs percaya perubahan dunia tidak bisa hanya diserahkan kepada ekonom dan teknokrat. Ia butuh resonansi moral yang lebih dalam, yang berakar dalam nilai-nilai kemanusiaan universal.


“Buku ini menyajikan percakapan mendalam di antara para pemimpin agama lintas iman dan akademisi interdisipliner dalam mengejar konsensus etis yang dapat menjadi fondasi upaya pembangunan berkelanjutan.”
— Columbia University Press, 2022


Ini adalah Sachs yang paling manusiawi: ekonom yang mengakui bahwa angka-angka dan model saja tidak cukup. Pada akhirnya, mengapa kita harus peduli pada sesama — itulah pertanyaan yang benar-benar harus dijawab.


Tapi Sachs Bukan Tanpa Kritik


Tentu saja, tidak ada pemikir besar yang luput dari sanggahan. William Easterly, ekonom NYU dan salah satu kritikus paling vokal Sachs, berpendapat bahwa rencana pengentasan kemiskinan yang terlalu ambisius dan top-down justru bisa kontraproduktif. Ia mengingatkan pentingnya insentif lokal dan kepemilikan komunitas atas proses pembangunan mereka sendiri.


Jurnalis Nina Munk, dalam bukunya The Idealist (2013), mendokumentasikan realitas lapangan Millennium Villages Project yang tidak selalu seindah teorinya. Ada desa yang tidak berhasil, ada program yang tidak berkelanjutan setelah pendanaan eksternal berhenti. “Terkadang niat baik justru membuat orang lebih buruk dari sebelumnya,” tulisnya.


Sachs menerima sebagian kritik itu, memperbaiki pendekatannya, dan terus melangkah. Barangkali itulah yang membedakan seorang pemikir sejati dari seorang ideolog: kemampuan untuk tetap bergerak bahkan setelah dihadapkan dengan kenyataan yang rumit.


Pada Akhirnya: Soal Kemauan


Ada pertanyaan yang selalu muncul setelah membaca dan mendengarkan Sachs: jika solusinya ada, jika teknologinya tersedia, jika dananya — secara teori — bisa dihimpun, mengapa dunia masih seperti ini?


Jawaban Sachs konsisten dan tidak berubah dari dekade ke dekade: karena kita memilih untuk tidak melakukannya. Bukan karena tidak mampu, tapi karena kemauan politik tidak cukup kuat. Karena kepentingan jangka pendek mengalahkan visi jangka panjang. Karena kelompok yang diuntungkan oleh status quo lebih banyak memiliki kekuasaan daripada mereka yang menginginkan perubahan.


“Kita memiliki sarana teknologi dan ekonomi untuk mengakhiri kemiskinan. Itu telah terbukti selama 20 tahun terakhir. Namun kita gagal memanfaatkan kesempatan ini. Orang-orang kaya terlalu serakah dan berpikiran sempit, dan para politisi memilih perang daripada pembangunan berkelanjutan.”
— Jeffrey Sachs, Moscow Circular, Juli 2023


Itu bukan kalimat yang nyaman. Tapi mungkin itulah kontribusi terbesar Sachs — bukan satu buku, bukan satu proyek, bukan satu kebijakan. Melainkan keberaniannya untuk terus berkata: kita bisa melakukan lebih baik. Dan kita harus.


“Generasi kita bisa menjadi generasi yang mengakhiri kemiskinan ekstrem,memastikan semua orang diperlakukan setara, dan menghilangkan selamanyarisiko iklim yang berbahaya bagi planet kita.”

— Jeffrey D. Sachs, Project Syndicate, 2013


Sumber: jeffsachs.org • Columbia University • Scientific American • Project Syndicate • The Lancet • BORGEN Magazine • Amazon Books

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future