Hari Tatar Sunda (18 Mei 669 – 18 Mei 2026)

Hari Tatar Sunda (18 Mei 669 – 18 Mei 2026)

Hari Tatar Sunda yang ditetapkan pada 18 Mei 2026 melalui Pergub Jawa Barat No. 13 Tahun 2026 adalah sebuah tonggak penting dalam perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat Sunda. Momentum ini menandai 1357 tahun sejak Maharaja Tarusbawa mengganti nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda pada 18 Mei 669 M.  

1. Makna Historis
Penetapan Hari Tatar Sunda bukan sekadar romantisasi masa lalu, melainkan pengakuan atas akar sejarah yang membentuk identitas masyarakat Jawa Barat. Peristiwa Tarusbawa adalah simbol transisi, dari kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha menuju kerajaan yang lebih menekankan identitas lokal Sunda. Dengan demikian, tanggal ini menjadi penanda lahirnya entitas politik dan budaya yang kemudian dikenal sebagai Tatar Sunda.

2. Dimensi Budaya
Hari Tatar Sunda memberi ruang bagi masyarakat untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur seperti silih asah, silih asih, silih asuh. Nilai ini relevan di tengah krisis sosial modern: individualisme, degradasi lingkungan, dan melemahnya solidaritas. Dengan peringatan ini, budaya Sunda tidak hanya dipandang sebagai warisan, tetapi sebagai pedoman hidup yang bisa menjawab tantangan zaman.


3. Persoalan dan Tantangan
Namun, ada beberapa persoalan yang perlu dikritisi:
- Komersialisasi budaya: Risiko peringatan hanya menjadi festival hiburan tanpa makna mendalam.  
- Kesadaran sejarah: Banyak masyarakat yang belum memahami akar peristiwa 18 Mei 669 M.  
- Relevansi di era digital: Tantangan besar adalah bagaimana nilai Sunda bisa diintegrasikan dengan teknologi dan gaya hidup modern.  
- Perbedaan tafsir akademik: Sebagian sejarawan menilai penetapan tanggal masih perlu kajian lebih luas agar tidak menimbulkan bias historis.  

4. Harapan ke Depan
Hari Tatar Sunda seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif, bukan sekadar seremoni. Ia bisa menjadi:
- Platform pendidikan budaya: Memperkuat kurikulum lokal di sekolah-sekolah.  
- Momentum kebangkitan ekonomi kreatif: Seni, kuliner, dan pariwisata berbasis budaya Sunda.  
- Jembatan tradisi-modernitas: Menjadikan nilai Sunda relevan dalam dunia digital dan global.  

5. Kesimpulan
Hari Tatar Sunda adalah simbol kebangkitan identitas, bukan nostalgia semata. Ia mengingatkan bahwa masyarakat Sunda memiliki akar sejarah yang kuat, nilai budaya yang luhur, dan tanggung jawab untuk menata masa depan dengan berlandaskan tradisi.  

📌 Opini saya: Jika Hari Tatar Sunda hanya berhenti pada seremoni tahunan, ia akan kehilangan makna. Tetapi jika dijadikan momentum refleksi, pendidikan, dan inovasi, maka 18 Mei akan menjadi hari yang benar-benar hidup dalam kesadaran masyarakat Sunda—sebuah jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.  



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future

Visi dan Misi Asep Rohmandar sebagai penulis dan peneliti