Ferry Latuhihin: Ekonom Nyentrik dengan Prediksi Ngeri dan Kritik Tanpa Kompromi

Ferry Latuhihin: Ekonom Nyentrik dengan Prediksi Ngeri dan Kritik Tanpa Kompromi

Pendahuluan

Di tengah hiruk-pikuk perdebatan ekonomi Indonesia yang kerap didominasi oleh narasi optimistis dari kalangan birokrat dan ekonom mainstream, muncul sosok yang berbeda. Ferry Latuhihin, yang akrab disapa Prof. Ferry, hadir dengan gaya komunikasi yang lugas, blak-blakan, dan—bisa dibilang—nyentrik. Dalam berbagai penampilannya di podcast dan kanal YouTube, ia kerap tampil sederhana tanpa atribut formal yang kaku, namun isi kritiknya selalu tajam dan menusuk. Dari seorang penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran di Pilpres 2024, ia berbalik menjadi kritikus paling vokal terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan yang pernah ia bantu perjuangkan. Perjalanan intelektual dan sikap kritisnya menjadikan Ferry Latuhihin salah satu figur ekonomi yang paling kontroversial sekaligus paling didengar di Indonesia saat ini. Tulisan ini akan mengupas secara komprehensif pemikiran, karya, dan prediksi Ferry Latuhihin, dengan merujuk pada berbagai pernyataan publiknya yang terekam dalam berbagai media.

Latar Belakang dan Perjalanan Intelektual

Pendidikan dan Karier

Ferry Latuhihin menempuh pendidikan tinggi di Erasmus University Rotterdam, Belanda, salah satu universitas terkemuka di Eropa dalam bidang ekonomi dan bisnis. Ia menyelesaikan studi dari jenjang sarjana hingga doktoral di universitas tersebut. Pendidikan formal di Eropa ini memberinya fondasi metodologis yang kuat, terutama dalam analisis fundamental dan pemodelan ekonometrik.

Dunia profesionalnya dimulai dari posisi Chief Economist di Bank Internasional Indonesia (BII), yang membuatnya sangat paham seluk-beluk pasar modal dan perbankan. Saat ini, ia menjabat sebagai Kepala Ekonom di Tanamduit, sebuah platform keuangan digital yang menyediakan berbagai instrumen investasi dan asuransi dalam satu aplikasi.

Pada Pilpres 2024, Ferry dipercaya menjadi penasihat ahli Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran. Berbekal wawasan mendalam tentang ekonomi dan pasar modal, ia membantu merumuskan program-program kampanye yang menjawab tantangan ekonomi bangsa. Namun, setelah pemerintahan terbentuk, Ferry berubah menjadi kritikus paling vokal terhadap berbagai kebijakan yang dinilainya melenceng dari jalur yang benar.

Transformasi dari Orang Dalam Menjadi Kritikus

Salah satu aspek paling menarik dari sosok Ferry adalah transformasinya. Ia bukan sekadar pengamat dari luar yang mudah melontarkan kritik; ia adalah mantan orang dalam yang tahu persis proses perumusan kebijakan dan janji-janji kampanye. Ketika ia mengkritik, ada beban pengetahuan dan kekecewaan di baliknya. Seperti yang diungkap dalam satu profil media, Ferry kini menjadi orang yang paling rajin mengkritik kebijakan ekonomi Presiden Prabowo, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga soal kenaikan dolar. Kritiknya bukan sekadar opini, melainkan lahir dari pemahaman mendalam tentang bagaimana kebijakan seharusnya dirancang dan dijalankan.

Gaya Nyentrik dan Komunikasi Publik

Ferry biasa tampil dengan kaos, celana jeans, serta kacamata gelap yang menarik perhatian—jauh dari citra ekonom konvensional yang berjas dan berdasi. Melalui akun Instagram @jenderal.keuangan dan kanal YouTube-nya, ia rutin memberikan edukasi ekonomi kepada publik dengan gaya komunikasi yang mudah dipahami. Pendekatannya yang nyentrik ini justru menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi investor ritel dan generasi muda yang haus akan pemahaman ekonomi yang jujur dan tidak basa-basi.

Saat ditanya soal tudingan yang menyebutnya sebagai "agen Soros" atau "antek asing", Ferry merespons dengan santai. Ia bahkan melontarkan seloroh: "Gue agen koran, haha!". Menurutnya, narasi konspirasi semacam itu hanya obrolan warung kopi, bukan substansi yang perlu ditanggapi serius. Ia menjelaskan bahwa figur seperti George Soros tidak membutuhkan agen untuk memengaruhi pasar, karena hedge fund besar seperti Soros bergerak berdasarkan analisis celah kebijakan ekonomi suatu negara.

Pemikiran: Kerangka Kritis Ferry Latuhihin

Konsep "Koplaknomics"

Istilah paling terkenal yang dipopulerkan Ferry adalah "Koplaknomics"—sebuah sindiran untuk kebijakan ekonomi yang serampangan, tidak terukur, retorikanya pro-rakyat tetapi implementasinya kehilangan arah. Dalam berbagai kesempatan, Ferry mendefinisikan Koplaknomics sebagai praktik ekonomi di mana kebijakan diluncurkan dengan semangat populis yang tinggi namun minim perhitungan matang, sehingga pada akhirnya hanya menjadi pemborosan anggaran negara secara masif.

Kritiknya bukan ditujukan pada niat baik di balik suatu program, melainkan pada cara pelaksanaannya. Seperti diungkapnya dalam podcast bersama Rhenald Kasali: "Kebijakan ini sangat berbeda dengan rezim sebelumnya, sangat ultra populis, menghabiskan uang for nothing".

Konsep ini mencerminkan kegelisahan Ferry terhadap hilangnya disiplin fiskal dan rasionalitas dalam pengambilan kebijakan ekonomi. Baginya, ekonomi bukanlah sekadar urusan angka dan proyeksi optimistis, melainkan soal keberanian mengakui realitas dan mengambil keputusan berdasarkan data—bukan berdasarkan keinginan politik sesaat.

Kritik terhadap Kebijakan Fiskal

Ferry sangat vokal dalam mengkritik kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai tidak sinkron dengan kondisi sektor keuangan. Ia mencontohkan penarikan utang dan belanja pemerintah yang terus membengkak tanpa diimbangi peningkatan produktivitas. Secara spesifik, ia menyoroti:

1. Defisit Anggaran yang Melebar: Ferry mencatat defisit pada Januari sekitar Rp54,6 triliun, lalu meningkat tajam menjadi sekitar Rp135,7 triliun pada Februari, yang menurutnya menunjukkan tekanan fiskal mulai terasa lebih awal dalam tahun anggaran berjalan.
2. Penurunan Outlook Rating Indonesia: Moody’s dan Fitch menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil menjadi negatif. Bagi Ferry, ini adalah sinyal nyata bahwa kondisi ekonomi domestik tengah menghadapi tekanan yang tidak kecil, dan lembaga pemeringkat tidak semata mengandalkan data pemerintah, melainkan model independen berbasis indikator riil.
3. Kebijakan yang Tidak Sinkron: Ia mengkritik Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang terus menyuntik likuiditas ke pasar padahal dunia usaha sudah kelebihan dana yang tidak terpakai. "Orang sudah kelebihan likuiditas, dikasih lagi likuiditas," protes Ferry, menggambarkan betapa tidak terarahnya kebijakan moneter dan fiskal saat itu.

Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

Salah satu sasaran kritik paling tajam Ferry adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Baginya, program ini adalah lambang Koplaknomics: bermula dari niat mulia, tetapi perencanaannya sangat buruk. Dengan anggaran mencapai sekitar Rp335 triliun—seperti yang ia sebut dalam podcast Hendri Satrio—program ini dinilai terlalu besar dan tidak efisien.

Ferry bahkan memprediksi bahwa program MBG kemungkinan akan dihentikan pada Juni atau Juli 2026 akibat defisit keuangan negara. Menurutnya, jika anggaran sebesar itu dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, dosen, dan sektor pendidikan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan.

Karya: Memahami Pasar Modal dari Akar Rumput

Edukasi Keuangan untuk Investor Ritel

Salah satu kontribusi terpenting Ferry bagi masyarakat Indonesia adalah karya edukasinya di bidang pasar modal. Melalui akun-akun media sosialnya dan berbagai seminar, ia secara aktif mengajarkan investor ritel cara membaca laporan keuangan, melakukan valuasi saham, dan membedakan antara saham yang murah dan saham yang mahal.

Dalam salah satu workshop-nya, seperti yang diangkat dalam sebuah artikel, para investor yang hadir berebut kursi hingga tidak satu pun yang tertidur. Mereka memanggilnya "Prof" bukan karena gelar, melainkan karena cara ia membedah emiten dengan Excel, valuasi real-time, dan laporan keuangan yang disobek lapis demi lapis. "Ini yang kalian enggak dapat di kampus," ujarnya.

Kritik atas "Monkey Business" di Pasar Modal

Selain edukasi, Ferry juga berperan sebagai alarm bagi publik tentang praktik-praktik tidak sehat di pasar modal Indonesia. Ia dengan lantang mengkritik maraknya praktik goreng-menggoreng saham, yang disebutnya sebagai "Monkey Business". Istilah ini merujuk pada strategi bisnis kotor dan manipulatif, di mana pelaku mengejar keuntungan instan tanpa memedulikan kerugian investor lain.

Ia menunjuk pada fenomena saham-saham yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu yang memiliki rasio Price to Earnings (PER) mencapai 400-500—sebuah angka yang menurutnya mengerikan dan tidak mencerminkan fundamental perusahaan. "Basicly, karena pasar modal di Indonesia ditunjang saham-saham gorengan... sementara emiten-emiten yang memiliki fundamental kuat, seperti saham perbankan, malah nyungsep," jelasnya.

Ferry juga mengkritik kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan menaikkan ketentuan free float saham menjadi 15 persen. Menurutnya, persoalan mendasar bukan pada besaran saham yang dilepas ke publik, melainkan pada siapa yang benar-benar membeli saham tersebut. Ia mengkhawatirkan saham-saham yang dilepas ke publik justru kembali dikuasai pemilik perusahaan melalui mekanisme nominee, kemudian digoreng di pasar.

Kritik terhadap Danantara

Ferry juga menyuarakan kritik keras terhadap pembentukan Badan Pengelola Investasi Danantara (BPI Danantara). Ia mengaku khawatir bahwa jika dipaksakan, kehadiran BPI Danantara justru akan membuat ekonomi Indonesia bangkrut karena memiliki pengaruh besar terhadap kondisi pasar saham yang saat itu sedang bearish. Lebih dari itu, ia menyoroti banyaknya orang-orang politik yang mengelola Danantara, yang menurutnya membuat lembaga itu berbau politik dan berpotensi menjadi sarang korupsi baru.

Prediksi-Prediksi Ngeri yang Terbukti

Salah satu alasan mengapa Ferry Latuhihin begitu diperhatikan publik adalah track record-nya yang luar biasa dalam meramalkan berbagai peristiwa ekonomi. Bukan sekadar tebakan, prediksinya didasarkan pada analisis fundamental data ekonomi riil yang dikumpulkan selama puluhan tahun.

Prediksi Social Unrest Terbukti

Sekitar lima bulan sebelum terjadi demo rusuh besar akhir Agustus 2025, Ferry sudah meramalkan akan terjadi social unrest—ketidakpuasan publik yang memanifestasikan diri dalam berbagai bentuk aksi kolektif seperti protes atau kerusuhan. Ramalannya itu terbukti, dan Rhenald Kasali secara terbuka mengakui hal tersebut dalam podcast-nya. Ketika ditanya dasar dari ramalannya, Ferry menjawab: "pertama kebijakannya, sangat berbeda dengan rezim-rezimnya sebelumnya. Sangat ultra populis ya. Dan yang kedua, ultra populis ini, dalam arti adalah menghabiskan uang for nothing".

Prediksi Resesi 2026

Setelah ramalan social unrest-nya terbukti, Ferry kembali mengeluarkan peringatan keras: Indonesia terancam resesi pada kuartal ketiga tahun 2026. Dasar prediksinya adalah serangkaian data ekonomi yang mengkhawatirkan, yang menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional sedang terancam oleh kebijakan Koplaknomics.

Ia memaparkan bukti-bukti yang mengerikan: tabungan kelas menengah anjlok drastis dari 3 juta orang pada 2019 menjadi hanya 1,2 juta pada 2025, dan diprediksi akan habis sama sekali. Fenomena ini diperkuat dengan lonjakan aktivitas pinjaman online (pinjol) dan omzet pegadaian yang naik tajam—indikasi bahwa masyarakat mulai "makan utang" karena tabungannya sudah habis.

Lebih lanjut, Ferry mempertanyakan klaim pertumbuhan ekonomi yang dirilis pemerintah. "Kalau pertumbuhan benar 5,11 persen, pertumbuhan kredit semestinya di atas 11 persen, bukan hanya 7,5 persen. Pemudik turun 24 persen, deflasi terus berlanjut, pegadaian melonjak, angka-angka itu tidak mendukung klaim 5,11 persen," tegasnya.

Ia mengidentifikasi tiga fakta yang terjadi sebelum krisis Timur Tengah meledak, yang mencerminkan pola yang sama dengan kondisi menjelang krisis 1998: pertama, nilai tukar rupiah tertekan mendekati Rp17.000 per dolar AS; kedua, IHSG ambruk jauh dari proyeksi; ketiga, outlook kredit Indonesia diturunkan oleh tiga lembaga pemeringkat internasional. "Krisis ekonomi 1998 bisa saja kembali terulang," pungkasnya.

Prediksi Pelemahan IHSG

Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat meroket hingga level 9.000 bahkan diimpikan menembus 10.000, Ferry sudah memperingatkan bahwa ini adalah bubble (gelembung) yang berbahaya. Menurutnya, kenaikan IHSG lebih didorong oleh spekulasi ketimbang fundamental perusahaan. Ia menghitung bahwa dengan kondisi ekonomi saat itu, IHSG seharusnya tidak berada di atas 6.000.

Prediksinya pun terbukti. IHSG kemudian terjun bebas, dan pada pertengahan 2026 sudah berada di kisaran 6.700-an dan terus turun—bahkan ketika seluruh pasar modal Asia naik, Indonesia menjadi satu-satunya yang minus.

Prediksi Pelemahan Rupiah Ekstrem

Prediksi yang paling "ngeri" dari Ferry adalah tentang nilai tukar Rupiah. Ia memprediksi bahwa dolar AS dapat menembus Rp20.000 pada Juni 2026, bergerak ke Rp22.000 pada Juli, bahkan dalam skenario tertentu dapat menyentuh Rp25.000 pada periode Juli hingga Desember. Ia bahkan lebih spesifik lagi, menyebut potensi tembus Rp22.000 hingga Rp25.000 pada semester kedua 2026.

Keyakinannya didasarkan pada analisis bahwa pelemahan Rupiah bukan semata-mata faktor global, tetapi terutama karena menurunnya kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi dalam negeri. "Currency negara ASEAN lain masih bisa menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah terus melemah. Artinya ada sesuatu yang salah di dalam negeri," ujarnya.

Validasi Track Record

Sebuah akun media sosial merangkum tiga prediksi Ferry yang terbukti benar: (1) prediksi bahwa outlook rating Indonesia akan di-downgrade—terjadi perubahan dari stabil menjadi negatif; (2) prediksi bahwa dolar akan ke Rp17.000—terjadi, bahkan sudah di Rp17.600; (3) prediksi bahwa IHSG akan ambruk—terjadi, di 6.700-an dan terus turun. Ketiga-tiganya benar, menjadikan reputasinya sebagai peramal yang kredibel.

Kontroversi dan Kritik atas Kritik

Tidak dapat dipungkiri, kritik tajam dan prediksi gelap Ferry Latuhihin menuai kontroversi. Ada yang menyebutnya sebagai "pengganggu stabilitas" atau "pembawa kabar buruk". Namun, bagi para pendukungnya, Ferry adalah sosok yang berani mengatakan kebenaran di tengah budaya birokrasi yang lebih nyaman dengan narasi positif palsu (toxic positivity).

Tudingan bahwa ia adalah "agen asing" atau "agen Soros" adalah bentuk serangan paling personal yang harus dihadapinya. Namun, dengan gaya khasnya, ia merespons dengan kelakar dan logika ekonomi: "Orang kita tuh senang hal-hal yang sensasional, jadi nyari-nyari sensasi. Agen Soros-lah, agen beras-lah, agen pulsa-lah, gak ada lah," katanya.

Ia juga dengan tegas menyanggah klaim beberapa influencer bahwa pelemahan Rupiah justru baik bagi Indonesia. Menurutnya, klaim itu menyesatkan karena Indonesia bukan negara export-led seperti China, melainkan negara pengimpor besar berbagai komoditas strategis seperti kedelai, gula, dan BBM. "Nah, makanya saya bingung juga ini belajarnya gimana," ucapnya dengan nada prihatin bercampur geli.

Penutup

Ferry Latuhihin adalah fenomena unik dalam kancah perekonomian Indonesia. Ia bukan sekadar ekonom dengan gelar doktor dari universitas terkemuka Eropa, tetapi juga seorang komunikator publik yang berhasil menjembatani dunia akademik yang rumit dengan pemahaman publik awam. Dari seorang penasihat ahli tim kampanye, ia bertransformasi menjadi kritikus yang paling ditakuti sekaligus paling didengar oleh pemerintah yang pernah ia bela.

Konsep "Koplaknomics" yang dicetuskannya telah menjadi alat analisis yang ampuh untuk membedah kebijakan-kebijakan populis yang tidak terukur. Kritiknya terhadap "Monkey Business" di pasar modal telah menyadarkan banyak investor ritel akan bahaya praktik goreng saham. Dan yang paling penting, prediksi-prediksinya yang "ngeri" memiliki validitas yang tidak bisa diabaikan karena berbasis data dan pengalaman puluhan tahun.

Pada akhirnya, kontribusi terbesar Ferry Latuhihin mungkin bukanlah pada kemampuannya meramalkan krisis, melainkan pada keberaniannya untuk terus bersuara di tengah budaya yang seringkali lebih menghargai kepatuhan daripada kebenaran. Ia adalah pengingat bahwa dalam ekonomi—seperti dalam kehidupan—mengetahui kapan harus berhenti dan membalikkan arah sering kali lebih berharga daripada terus melaju dengan keyakinan yang keliru. Di tengah janji-janji pertumbuhan 8 persen dan optimisme berlebihan dari para pejabat, suara Ferry Latuhihin adalah alarm yang sulit diabaikan. Entah prediksinya benar atau tidak di kemudian hari, satu hal yang pasti: ia telah memaksa kita semua untuk berpikir kritis, bertanya lebih dalam, dan tidak mudah terjebak dalam euforia sesaat yang menyesatkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Fiscal Guardians Under Pressure and Social Safety Nets: Reconciling Debt Sustainability with Poverty and Inequality in ASEAN

Article : Humanizing Education in Sundaland: Integrating Religious Values and Global Citizenship for a Better Future