Menyoal Ensiklopedia Sunda Repository di Universitas Nottingham: Antara Logika, Komitmen, dan Kedaulatan Kebudayaan
Menyoal Ensiklopedia Sunda Repository di Universitas Nottingham: Antara Logika, Komitmen, dan Kedaulatan Kebudayaan
Sebuah Analisis Kritis atas Lokasi Penyimpanan Digital Warisan Budaya Sunda
Oleh: Rohmandar Asep
Pendahulutan: Sebuah Pertanyaan yang Mengusik
Di tengah euforia kebangkitan intelektual Sunda yang digelorakan oleh kolaborasi antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedi Mulyadi atau KDM) dan akademisi diaspora Prof. Bagus Muljadi dari Universitas Nottingham, muncul sebuah pertanyaan yang tak kalah mengusik: Mengapa warisan digital budaya Sunda—repository Ensiklopedia Sunda—justru disimpan di Inggris, meskipun proyek besar ini secara moral dan sebagian pendanaan didukung oleh pemerintah Jawa Barat? Mengapa tidak disimpan di Jawa Barat saja, sehingga akses bagi warga Sunda menjadi lebih mudah, murah, dan "merdeka" dari ketergantungan pada infrastruktur asing?
Pertanyaan ini bukanlah sebuah tuduhan atau kecurigaan buta terhadap niat baik Prof. Bagus atau Gubernur Dedi Mulyadi. Sebaliknya, ini adalah pertanyaan logis, kritis, dan sehat—jenis pertanyaan yang seharusnya muncul dalam diskursus publik tentang pengelolaan warisan budaya di era digital. Dalam tradisi intelektual Sunda yang mengajarkan tanya ka ditu, walon ka dieu (bertanya ke sana, jawaban akan sampai ke sini), kita perlu menelusuri secara jernih dan berdasarkan fakta, mengapa keputusan strategis ini diambil.
Apakah ini bentuk "pengasingan" budaya Sunda ke negeri asing? Apakah ini kapitulasi intelektual di hadapan hegemoni akademik Barat? Ataukah ini adalah langkah taktis paling cerdas yang mempertimbangkan realitas infrastruktur digital, stabilitas jangka panjang, keterbukaan akses global, dan—ironisnya—nilai-nilai luhur Sunda itu sendiri, seperti sabilulungan dan nyanghulu ka hukum, nyabak ka nu kuwasa (berpegang pada aturan, bersandar pada yang berkuasa)?
Artikel ini akan mengupas secara komprehensif, dengan pendekatan data dan analisis kritis, berbagai logika di balik penyimpanan repository Ensiklopedia Sunda di Universitas Nottingham. Kita akan menelusuri profil dan kapasitas Prof. Bagus Muljadi sebagai motor intelektual proyek ini, dukungan Gubernur Dedi Mulyadi, infrastruktur digital yang tersedia di dalam dan luar negeri, inisiatif pelestarian digital yang sudah ada di Indonesia, serta berbagai dimensi strategis, ekonomi, dan geopolitik yang membentuk keputusan ini. Pada akhirnya, artikel ini akan menyimpulkan bahwa keputusan ini bukanlah pengkhianatan terhadap kedaulatan budaya, melainkan sebuah tindakan peradaban yang visioner dan berani—namun tetap dengan kritik dan rekomendasi yang harus diperhatikan ke depannya.
Bab 1: Melihat Sosok di Balik Layar: Siapa Prof. Bagus Muljadi dan Mengapa Ia?
Sebelum mempertanyakan lokasi, kita harus memahami terlebih dahulu: siapa sebenarnya penggerak utama proyek Ensiklopedia Sunda ini, dan mengapa keterlibatannya begitu sentral.
Bagus Putra Muljadi bukanlah sekadar "orang Sunda yang kebetulan jadi profesor di Inggris." Lahir di Jakarta pada 1 Maret 1983 dari keluarga pengusaha kecil, perjalanan hidupnya adalah narasi kebangkitan intelektual yang menakjubkan. Ia lulus dari Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan IPK yang sangat rendah—hanya 2,69—akibat masa mudanya yang diwarnai kebiasaan bolos, bermain game, dan sering mendapat nilai merah dari dosen. Di titik terendah itulah ia bertekad untuk bangkit, melanjutkan studi ke luar negeri.
Bagus kemudian meraih gelar MSc dan PhD di bidang Mekanika Terapan dari National Taiwan University, disusul dua program post-doctoral: pertama di Institut de Mathématiques de Toulouse (Prancis) di bidang matematika, dan kedua di Imperial College London (Inggris) di bidang Ilmu Bumi dan Teknik Petroleum. Pada tahun 2017, ia menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham, di Departemen Teknik Lingkungan dan Kimia, dengan afiliasi bersama dengan Virginia Tech, Amerika Serikat.
Yang menarik, keahlian utamanya bukanlah di bidang kebudayaan. Reputasi akademiknya dibangun di bidang pemodelan matematika dan komputasi untuk aliran fluida di lingkungan berpori, konsorsium pesawat listrik, hingga penelitian tentang kebakaran lahan gambut tropis. Namun justru dari perspektif ilmuwan multidisipliner lintas bidang inilah ia membawa metode-metode saintifik modern ke dalam dokumentasi dan sistematisasi pengetahuan tradisional Sunda.
Bagus juga dikenal sebagai salah satu ilmuwan diaspora paling produktif dalam hal pendanaan riset, dengan akses mengadministrasi lebih dari Rp 200 miliar dana riset dari pemerintah Inggris dan Uni Eropa. Ia juga mendirikan Indonesia Doctoral Training Partnership (IDTP), sebuah platform pertukaran pengetahuan dan riset antara pemerintah Indonesia, institusi pendidikan tinggi, dan industri. Fakta ini penting karena menunjukkan bahwa Bagus memiliki jaringan, kredibilitas, dan akses pendanaan yang tidak dimiliki oleh akademisi kebanyakan di Indonesia.
Pertanyaannya: apa hubungannya dengan ensiklopedia Sunda?
Dalam sebuah diskusi santai bersama Dedi Mulyadi di kanal YouTube KDM, Bagus menjelaskan visinya untuk menggabungkan "rasa" dan nalar leluhur Sunda dengan "logika" dan metode saintifik modern. Ia melihat bahwa kearifan lokal Sunda sangat kompatibel dengan prinsip-prinsip sains kontemporer, terutama dalam hal pemahaman tentang alam, siklus kehidupan, dan keberlanjutan.
Jadi, dapat disimpulkan: Bagus Muljadi adalah figur sentral proyek ini bukan hanya karena ia orang Sunda yang berhasil di panggung global, tetapi karena ia memiliki kapasitas teknis, jaringan internasional, akses pendanaan, dan metodologi ilmiah yang dibutuhkan untuk mengangkat Ensiklopedia Sunda ke level peradaban dunia. Lokasi repository di Nottingham adalah konsekuensi alamiah dari keberadaannya sebagai motor penggerak utama proyek—bukan sebuah pilihan tanpa alasan.
Bab 2: Gubernur Dedi Mulyadi: Antara Semangat, Sponsor, dan Batasan Kewenangan
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat yang mulai menjabat pada Februari 2025, dikenal sebagai pemimpin dengan gaya khas Sunda—menggunakan pangsi, iket, dan bahasa Sunda halus dalam berbagai kesempatan, sekaligus aktif sebagai kreator konten YouTube dengan lebih dari 3 juta subscriber. Ia dinilai sebagai tokoh kepemimpinan berbasis nilai budaya dan kearifan lokal, serta konsisten mengangkat nilai-nilai Sunda dalam kebijakan publik.
Dukungan Dedi Mulyadi terhadap proyek Ensiklopedia Sunda sangat jelas. Dalam perayaan ulang tahunnya yang ke-55 pada 11 April 2026, Bagus Muljadi menyerahkan buku Ensiklopedia Ki Sunda kepadanya sebagai hadiah istimewa, disertai kabar gembira bahwa ensiklopedia tersebut akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk memperkenalkan epistemologi Sunda ke panggung dunia. Dedi dengan antusias menyatakan kesiapannya mendukung proyek penerjemahan tersebut.
Lantas, muncul pertanyaan: Jika Gubernur mendukung penuh, mengapa tidak langsung menyuruh tim IT provinsi atau Unpad untuk membuat server lokal di Jawa Barat?
Di sinilah letak kompleksitasnya. Dukungan politik dan moral dari seorang gubernur tidak otomatis berarti kontrol penuh atas infrastruktur dan implementasi teknis. Beberapa batasan penting perlu dipahami:
1. Anggaran yang terbatas untuk proyek spesifik teknologi. Dana APBD Jawa Barat memang besar, tetapi alokasinya untuk membangun dan mengelola data center kelas dunia untuk repository ensiklopedia digital bukanlah prioritas utama ketika sektor lain (pendidikan, kesehatan, infrastruktur fisik) juga membutuhkan. Apalagi, Gubernur Dedi Mulyadi sendiri memiliki komitmen kuat untuk tidak menggunakan uang negara untuk kegiatan-kegiatan pribadinya. Semangat ini mencerminkan sikap bahwa sponsorship proyek semacam ini pun perlu dipertimbangkan secara matang dari sisi APBD.
2. Keterbatasan infrastruktur digital nasional. Indonesia saat ini masih berjuang dalam hal kecepatan internet. Berdasarkan laporan Speedtest Global Index 2025-2026, kecepatan internet seluler Indonesia berada di peringkat ke-83 dunia (rata-rata 45-49 Mbps), dan untuk fixed broadband bahkan lebih rendah lagi di peringkat ke-116. Untuk akses yang stabil ke data besar dan kaya multimedia seperti Ensiklopedia Sunda, infrastruktur ini belum memadai, terutama di luar kota-kota besar.
3. Kewenangan yang berbeda antara mendukung (sebagai pembina) dan mengelola langsung (sebagai pelaksana teknis). Dukungan Dedi terhadap proyek ini bersifat politis dan moral, tetapi implementasi teknisnya tetap ada di tangan para akademisi dan peneliti, dengan Prof. Bagus Muljadi sebagai inisiator utama. Dedi tidak serta-merta bisa "mengambil alih" server dan penyimpanan data ensiklopedia yang digarap oleh tim internasional ini.
Sebagai seorang negarawan yang paham batas-batas kewenangan, Dedi Mulyadi memilih pendekatan yang lebih strategis dan tidak intervensif: mendukung dari belakang. Ia menyediakan legitimasi politik, semangat publik, dan platform kanal YouTube-nya yang masif untuk menyebarkan gagasan ini, tetapi tidak secara gegabah memaksakan agar semua infrastruktur digital dibangun di Jawa Barat jika belum memungkinkan secara teknis.
Dengan kata lain, Dedi Mulyadi menyadari sepenuhnya bahwa menyelamatkan dan mengangkat peradaban Sunda ke level global bukanlah proyek yang bisa diselesaikan hanya dengan menggandeng kontraktor lokal atau membuat server di Bandung. Ia membutuhkan pakem global—dan infrastruktur global. Dan untuk itu, tidak ada pilihan selain memanfaatkan fasilitas terbaik yang ada, yang saat ini tersedia di Universitas Nottingham melalui jaringan Prof. Bagus Muljadi.
Bab 3: Infrastruktur Digital di Indonesia: Antara Kondisi Nyata dan Harapan
Untuk memahami mengapa "membuat server di Jawa Barat" bukanlah pilihan yang mudah, kita harus jujur melihat realitas infrastruktur digital Indonesia saat ini.
3.1 Kecepatan dan Stabilitas Internet: Masih Jauh dari Ideal
Berdasarkan data terkini, Indonesia masih berada di peringkat bawah untuk kecepatan internet, baik untuk koneksi seluler maupun kabel. Laporan Speedtest Global Index Agustus 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-83 dunia untuk internet seluler dengan kecepatan unduh median sekitar 45,01 Mbps, hanya unggul satu peringkat dari Laos di kawasan ASEAN. Untuk fixed broadband, posisi Indonesia bahkan lebih rendah, yaitu peringkat ke-116 dengan kecepatan unduh median sekitar 39,88 Mbps, sementara Singapura (tetangga terdekat) sudah mencapai 324,46 Mbps.
Apa artinya ini bagi akses ke repository ensiklopedia Sunda yang akan menyimpan ribuan halaman dokumen, gambar, dan mungkin juga rekaman audio-visual? Artinya, warga Sunda di berbagai daerah—terutama di perdesaan, pegunungan, dan kawasan dengan infrastruktur digital terbatas—akan mengalami kesulitan besar untuk mengakses konten tersebut dengan lancar jika servernya disimpan di dalam negeri sekalipun. Lagi-lagi, masalahnya bukan hanya lokasi server, tetapi juga infrastruktur jaringan nasional.
3.2 Biaya Pembangunan Data Center dan Operational Server
Data center atau server kelas dunia membutuhkan investasi yang sangat besar. Berdasarkan laporan riset pasar 2025-2026, biaya pembangunan data center di Indonesia berkisar antara 8 hingga 9 juta dolar AS per megawatt (MW) kapasitas. Untuk menyimpan ensiklopedia Sunda yang diperkirakan setara dengan jutaan halaman dokumen digital plus multimedia, minimal diperlukan server dengan spesifikasi enterprise-grade yang biaya investasi awalnya bisa mencapai miliaran rupiah. Itu belum termasuk biaya operasional tahunan: listrik (data center adalah pemakan listrik terbesar), pendinginan (server harus di ruang bersuhu dan kelembaban terkontrol), bandwidth (koneksi internet berkecepatan tinggi, yang di Indonesia lebih mahal daripada di negara maju), keamanan siber, dan tenaga ahli untuk maintenance 24/7.
Sementara itu, repository Universitas Nottingham sudah memiliki infrastruktur yang mapan, didanai oleh sistem pendidikan tinggi Inggris yang telah berinvestasi besar-besaran dalam bidang digitalisasi. Menggunakan fasilitas yang sudah ada jelas jauh lebih efisien secara biaya daripada membangun dari nol.
3.3 Keberadaan Inisiatif Digital di Indonesia: Banyak, tetapi Terfragmentasi
Bukan berarti Indonesia tidak punya inisiatif digitalisasi budaya Sunda. Justru sebaliknya. Banyak pihak telah bergerak, tetapi sayangnya terfragmentasi dan tidak terintegrasi.
Pertama, ada SundaDigi, platform digitalisasi budaya Sunda yang dikembangkan oleh Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda (PDP-BS) Universitas Padjadjaran di bawah pimpinan Prof. Ganjar Kurnia. Platform ini memiliki 13 fitur utama termasuk kamus, pelajaran bahasa, aksara Sunda, permainan tradisional, dan lain-lain. Ini adalah inisiatif yang sangat baik, tetapi fokusnya lebih pada pembelajaran dan revitalisasi bahasa, belum menjadi repository ensiklopedia komprehensif.
Kedua, ada Gapura Project (Gala Pustaka Nusantara), inisiatif Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung bersama Aryadhara Foundation (Singapura) yang menggunakan teknologi Web3 dan blockchain untuk digitalisasi lebih dari satu juta halaman literatur Sunda. Target pendanaannya mencapai 1,4 juta dolar AS atau sekitar Rp22 miliar. Gapura bersifat lebih ambisius dan global, tetapi juga berbasis blockchain yang bersifat tersebar (desentralisasi) sehingga secara teknis servernya tidak terpusat di satu tempat.
Ketiga, Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) juga memiliki koleksi naskah manuskrip Sunda terbanyak di dunia, dengan 536 naskah Sunda yang sudah didigitalkan melalui proyek Dreamsea (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia).
Keempat, ada Kairaga.com yang mengelola KANDAGA, katalog naskah Sunda online yang dapat diakses secara gratis.
Ini menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya punya kapasitas, tetapi sayangnya tersebar di berbagai institusi dengan fokus masing-masing. Ensiklopedia Ki Sunda yang diinisiasi Bagus Muljadi justru hadir untuk menyatukan kekayaan pengetahuan Sunda ke dalam satu kerangka yang sistematis dan komprehensif—bukan sekadar kumpulan naskah, tetapi sebuah epistemologi (sistem pengetahuan) utuh. Karena itu, menyimpannya di satu tempat yang terjamin stabilitasnya menjadi prioritas.
Bab 4: Mengapa Universitas Nottingham Menjadi Pilihan Strategis
Setelah memahami keterbatasan infrastruktur di dalam negeri serta keberadaan banyak inisiatif yang belum terintegrasi, kini kita dapat melihat sisi lain: keuntungan strategis menyimpan repository di Universitas Nottingham.
4.1 Fasilitas dan Infrastruktur Digital Berkelas Dunia
University of Nottingham adalah universitas riset yang masuk dalam 1% universitas terbaik dunia dengan peringkat global yang sangat tinggi (masuk dalam jajaran 100-150 besar dunia di berbagai pemeringkatan). Mereka memiliki investasi besar dalam infrastruktur cloud computing, pusat data, keamanan siber, dan sistem digital repository yang diakui secara internasional.
Melalui Nottingham Repository yang dikelola oleh tim profesional, semua karya ilmiah dosen, peneliti, dan kolaborator institusi dapat disimpan dalam format digital dengan standar pengarsipan arsip ilmiah yang ketat. Untuk proyek seperti Ensiklopedia Sunda yang akan digunakan sebagai rujukan akademik global, standar semacam ini wajib dipenuhi.
4.2 Jaminan Keamanan, Stabilitas, dan Keberlanjutan Jangka Panjang
Salah satu risiko terbesar pelestarian digital di negara berkembang adalah perubahan prioritas pemerintah. Sebuah server yang dibangun dengan APBD hari ini, bisa saja tidak terawat tahun depan jika anggaran dipotong atau ada pergantian kepemimpinan. Proyek digitalisasi sering mati di tengah jalan karena keterbatasan dana operasional.
Di Nottingham, repository didanai oleh sistem pendidikan Inggris yang sangat stabil dan mandiri. Universitas tidak akan tiba-tiba mematikan server karena masalah anggaran. Ditambah lagi, Inggris memiliki undang-undang tentang Legal Deposit untuk karya ilmiah dan warisan budaya yang mengharuskan lembaga seperti perpustakaan nasional dan universitas untuk melestarikan koleksi digital mereka dalam jangka panjang. Ini memberikan kepastian bahwa 50 atau 100 tahun dari sekarang, Ensiklopedia Sunda masih bisa diakses.
4.3 Visi "Membawa Sunda ke Panggung Dunia"
Salah satu visi utama Gubernur Dedi Mulyadi dalam mendukung proyek ini adalah untuk membawa filosofi Sunda keluar dari "kungkungan" lokal dan menjadi referensi global dalam mengatasi krisis iklim, krisis moral, dan krisis peradaban. Untuk mencapai itu, Ensiklopedia Sunda harus bisa diakses oleh para akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan di seluruh dunia.
Dengan menyimpannya di server Inggris—yang diakses melalui alamat domain .ac.uk yang dikenal dunia—Ensiklopedia Sunda secara otomatis mendapatkan kredibilitas akademik global. Seorang peneliti di Amerika, Eropa, atau Jepang akan lebih mudah mengutip dan merujuk ke repository di universitas kelas dunia dibandingkan ke server pemerintah daerah di Indonesia yang mungkin tidak dikenal.
Tentu, ada akses terbuka (open access) yang memungkinkan siapa pun di dunia—termasuk warga Sunda di Kampung Naga atau Cigugur—mengaksesnya secara gratis selama terhubung internet. Jadi, meskipun servernya di Inggris, secara teknis tidak ada halangan bagi warga Sunda untuk membacanya. Ironisnya, yang sering menjadi kendala justru koneksi internet domestik yang lambat, bukan lokasi server.
4.4 Dukungan terhadap Bahasa dan Sistem Pengetahuan Lokal
Salah satu argumen utama yang sering dilontarkan adalah: "Mengapa menggunakan server di Inggris jika aksara Sunda dan metadata-nya tidak dikenali di sana?" Namun, Bagus Muljadi justru memanfaatkan kehadirannya di Nottingham untuk memastikan aksara dan terminologi Sunda masuk ke dalam sistem metadata global seperti Dublin Core, standar internasional untuk deskripsi sumber daya digital. Dengan cara ini, naskah Sunda tidak hanya tersimpan, tetapi juga terindeks secara global sehingga bisa ditemukan oleh mesin pencari akademik di seluruh dunia.
Di sisi lain, jika servernya di Indonesia dengan sistem metadata lokal yang tidak terstandarisasi, ensiklopedia ini berisiko menjadi "pulau terisolasi" dalam samudra digital global—sulit ditemukan oleh peneliti luar, meskipun kontennya brilian.
Bab 5: Biaya Akses, Logika, dan Kesalahpahaman Publik
Warga Sunda yang mempertanyakan keputusan ini pada dasarnya khawatir dengan akses: "Apakah kami bisa mengaksesnya dengan mudah dan gratis jika servernya di Inggris?" Kekhawatiran ini wajar, tetapi perlu diluruskan secara teknis.
Pertama, dalam model digital repository modern, lokasi fisik server hampir tidak relevan dengan aksesibilitas. Yang penting adalah bandwidth server dan bandwidth pengguna. Jika server Nottingham memiliki koneksi internet berkecepatan tinggi (yang pasti dimiliki universitas top dunia), dan pengguna di Indonesia memiliki koneksi memadai, maka akses akan lancar. Jika koneksi pengguna lemot, bukan server di luar negeri yang salah—melainkan kualitas infrastruktur dalam negeri yang perlu diperbaiki.
Kedua, akses ke repository Ensiklopedia Sunda dirancang untuk gratis dan terbuka (open access). Ini bukan database berlangganan berbayar. Dedi Mulyadi sendiri telah menyatakan komitmen untuk mendukung penerjemahan dan penyebarluasan ke warga Sunda. Dengan kata lain, secara niat, proyek ini inklusif untuk semua.
Ketiga, tentang biaya akses internet bagi warga Sunda di pedesaan atau pegunungan: itu adalah masalah kebijakan nasional tentang pemerataan infrastruktur digital, yang sama sekali tidak tergantung pada di mana servernya disimpan. Bahkan jika server Ensiklopedia Sunda berada di Bandung sekalipun, seorang warga di pelosok Tasikmalaya tetap membutuhkan paket data untuk mengaksesnya. Biaya internet tetap muncul karena tergantung pada operator seluler, bukan jarak ke server.
Lalu, apakah warga Sunda yang ingin membaca ensiklopedia di perpustakaan desa atau sekolah akan mengalami kesulitan teknis karena servernya di Inggris? Jawabannya: tidak. Domain dan protokol internet bersifat global. Begitu seseorang mengetik alamat url repository (misal: sunda-encyclopedia.nottingham.ac.uk), peramban akan secara otomatis mengambil data dari server di Inggris, sama persis seperti saat Anda membuka google.com (server di Amerika) atau youtube.com (server di berbagai negara).
Jadi, kekhawatiran bahwa server di Inggris akan membuat akses "susah" dan "mahal" sebenarnya kurang tepat secara teknis. Yang benar adalah: akses akan sesulit dan semahal koneksi internet Indonesia secara umum. Jika koneksi internet Indonesia buruk, semuanya akan terasa mahal dan sulit—terlepas dari di mana servernya berada.
Bab 6: Dari Segi Biaya: Siapa Membayar dan Mengapa Ini Lebih Hemat?
Salah satu kekhawatiran publik lainnya adalah: "Apakah ini berarti uang rakyat Jawa Barat mengalir ke Inggris untuk membayar server?" Jawabannya tidak sederhana.
Pertama, sumber pendanaan utama proyek ini tampaknya bukan dari APBD Jawa Barat. Bagus Muljadi, dengan rekam jejaknya mengelola dana riset internasional hingga ratusan miliar rupiah, cenderung menggunakan dana hibah riset dari lembaga Inggris dan Eropa untuk mendukung proyek ini. Dalam beberapa diskusi, ia menekankan pentingnya matching grant dan kolaborasi internasional, yang berarti pendanaan tidak sepenuhnya dari Indonesia.
Kedua, dukungan Gubernur Dedi Mulyadi lebih bersifat in kind: berupa platform komunikasi (kanal YouTube KDM dengan jutaan subscriber), legitimasi politik, serta dukungan birokrasi untuk penerjemahan dan publikasi. Bukan berarti Dedi Mulyadi menggelontorkan dana APBD dalam jumlah besar ke Nottingham.
Ketiga, biaya menyimpan data di repository Nottingham jauh lebih murah daripada membangun dan mengelola server sendiri. Mengapa? Karena Nottingham sudah memiliki infrastruktur, listrik, pendingin, keamanan, dan tenaga ahli yang dibiayai oleh sistem pendidikan Inggris. Memanfaatkan fasilitas yang sudah ada adalah praktik umum dalam kolaborasi riset global, menghemat biaya besar yang seharusnya dikeluarkan Indonesia untuk membangun dari nol.
Dengan kata lain, dengan menggunakan server Nottingham, Indonesia mendapatkan layanan penyimpanan digital kelas dunia secara efektif tanpa harus membangun data center sendiri. Ini bukan "membuang uang ke luar negeri"—ini adalah strategi cerdas untuk mendapatkan nilai lebih dengan investasi minimal.
Bab 7: Kritik dan Catatan Penting: Jangan Sampai Terjadi Pengasingan Budaya
Meskipun secara teknis dan strategis keputusan ini dapat dibenarkan, bukan berarti tidak ada kritik yang perlu didengar. Ada beberapa risiko penting yang harus diwaspadai agar proyek ini tidak berubah menjadi "pengasingan budaya Sunda" di tanah asing.
Pertama, risiko ketergantungan pada infrastruktur asing. Apa yang terjadi jika suatu saat terjadi konflik diplomatik antara Indonesia dan Inggris? Atau jika kebijakan akses terbuka Nottingham berubah menjadi berbayar? Meskipun skenario ini sangat kecil kemungkinannya, kita harus memiliki mekanisme backup—salinan cadangan Ensiklopedia Sunda yang disimpan di dalam negeri, misalnya di Perpustakaan Nasional atau di server Unpad. Gapura Project yang menggunakan teknologi blockchain sebenarnya bisa menjadi salah satu bentuk cadangan ini, karena blockchain bersifat desentralisasi dan tidak bergantung pada satu server.
Kedua, risiko minimnya pelibatan akademisi dan teknisi lokal dalam proses kurasi dan pemeliharaan. Jika semua data dan metadata dikelola dari Nottingham tanpa transfer pengetahuan ke anak muda Sunda, maka proyek ini hanya akan menjadi monumen kebanggaan sementara, bukan warisan hidup yang terus dikembangkan. Prof. Bagus Muljadi harus memastikan bahwa ada program capacity building bagi pustakawan, arsiparis, dan teknisi informasi di Jawa Barat.
Ketiga, risiko bahwa aksara dan bahasa Sunda "tenggelam" dalam antarmuka berbahasa Inggris yang tidak ramah pengguna. Meskipun metadata mengikuti standar global, antarmuka publik untuk mengakses repository harus tersedia dalam bahasa Sunda juga, tidak hanya Inggris dan Indonesia. Warga Sunda awam—apalagi generasi tua yang mungkin tidak fasih berbahasa Indonesia atau Inggris—harus bisa menavigasi ensiklopedia ini dengan nyaman.
Keempat, risiko simbolik. Menyimpan warisan budaya di luar negeri, bagi sebagian orang, terasa seperti "menjual" atau "mengasingkan" identitas, meskipun secara digital aksesnya terbuka. Pemerintah Provinsi Jawa Barat harus secara eksplisit menyatakan bahwa repository digital ini hanyalah cadangan dan pusat akses global, sementara hak kepemilikan intelektual dan otoritas moral sepenuhnya berada di tangan masyarakat Sunda dan pemerintah Jawa Barat.
Gubernur Dedi Mulyadi, dalam berbagai kesempatan, telah menunjukkan komitmennya terhadap kedaulatan budaya. Ia secara konsisten menyuarakan bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika rakyat berdaulat atas tanah dan budayanya. Karenanya, sangat diharapkan bahwa ia juga akan mendorong pembangunan kapasitas digital di dalam negeri sebagai backup dan pusat akses alternatif, sehingga narasi "menyimpan di Inggris" tidak menjadi simbol ketergantungan, melainkan strategi yang seimbang.
Bab 8: Masa Depan: Menuju Kedaulatan Digital dengan Tetap Merangkul Dunia
Pertanyaan terakhir yang perlu dijawab adalah: Apa langkah selanjutnya setelah repository ini beroperasi dari Nottingham?
Jawabannya tidak boleh berhenti di situ. Idealnya, proyek Ensiklopedia Sunda adalah awal dari sebuah gerakan peradaban digital, bukan sekadar satu kali unggah data ke server asing.
Langkah strategis ke depan yang perlu dipertimbangkan:
1. Membangun mirror server di Indonesia. Setelah konten ensiklopedia selesai dan teruji, harus ada upaya untuk membuat salinan cermin (mirror) di server dalam negeri, misalnya di Pusat Data dan Informasi Jawa Barat atau di Universitas Padjadjaran. Dengan begitu, jika terjadi gangguan akses ke server Nottingham, warga Sunda masih bisa mengakses dari dalam negeri.
2. Memanfaatkan Gapura Project dan teknologi blockchain. Gapura Project yang didukung Pusat Studi Sunda dan Aryadhara Foundation telah menargetkan digitalisasi lebih dari satu juta halaman literatur Sunda menggunakan blockchain. Dengan sifat blockchain yang terdesentralisasi, maka warisan digital Sunda akan tersimpan di ribuan komputer di seluruh dunia, tidak hanya satu server di Nottingham. Ini adalah bentuk "kebebasan sejati" dari ketergantungan pada satu pihak.
3. Pelibatan generasi muda melalui program beasiswa. Bagus Muljadi, melalui IDTP, sudah memiliki program untuk melatih mahasiswa Indonesia dalam riset kolaboratif. Ini harus diperluas ke bidang digitalisasi warisan budaya, sehingga ada regenerasi ahli yang bisa mengelola sendiri repository Sunda di masa depan.
4. Mendorong standardisasi metadata budaya Indonesia. Kehadiran Ensiklopedia Sunda di repository internasional harus dimanfaatkan untuk mendorong pengakuan global terhadap sistem pengetahuan lokal. Metadata tentang konsep "rasa", "sauyunan", "sabilulungan", dan lain-lain harus masuk dalam taksonomi pengetahuan global.
5. Dukungan kebijakan dari Pemerintah Pusat dan UNESCO. Karena Ensiklopedia Sunda adalah proyek percontohan yang potensial direplikasi untuk budaya lain di Indonesia, pemerintah pusat perlu membuat kebijakan khusus tentang digitalisasi warisan budaya yang membuka ruang kolaborasi internasional, sekaligus melindungi hak kekayaan intelektual komunal.
Kesimpulan: Bukan Tentang "Dalam Negeri vs Luar Negeri", Tetapi Tentang "Bagaimana Melestarikannya dengan Sebaik-baiknya"
Setelah menelusuri berbagai dimensi—dari latar belakang Prof. Bagus Muljadi, dukungan Gubernur Dedi Mulyadi, realitas infrastruktur digital Indonesia, hingga logika teknis dan strategis—kita sampai pada sebuah kesimpulan yang mungkin tidak populer di kalangan nasionalis sempit, tetapi jujur secara faktual:
Keputusan menyimpan repository Ensiklopedia Sunda di Universitas Nottingham bukanlah pengkhianatan terhadap kedaulatan budaya Sunda. Sebaliknya, ini adalah langkah pragmatis, visioner, dan hemat biaya untuk memastikan bahwa warisan peradaban Sunda tidak hanya selamat dari ancaman kepunahan, tetapi juga dapat diakses oleh seluruh dunia dengan standar kelas internasional.
Logika di balik keputusan ini sangat sederhana:
1. Sumber daya manusia yang menggerakkan proyek ini, Prof. Bagus Muljadi, sudah menetap dan memiliki jabatan di Nottingham. Menggunakan fasilitas yang sudah tersedia di tempatnya bekerja adalah efisiensi tertinggi.
2. Infrastruktur digital di Indonesia belum memadai untuk menjamin stabilitas dan kecepatan akses jangka panjang. Biaya membangun data center kelas dunia dari nol sangat mahal dan tidak sebanding dengan menggunakan fasilitas yang sudah ada di Nottingham.
3. Akses global ke Ensiklopedia Sunda akan lebih mudah melalui domain bereputasi .ac.uk, yang dikenal dunia akademik. Ini penting untuk visi "membawa Sunda ke panggung dunia".
4. Secara teknis, lokasi server tidak memengaruhi aksesibilitas bagi warga Sunda di Indonesia selama koneksi internet dalam negeri memadai. Masalah sesungguhnya bukanlah di mana servernya, melainkan kualitas infrastruktur telekomunikasi nasional.
5. Dukungan Gubernur Dedi Mulyadi bersifat politis dan moral, bukan berarti ia mengendalikan penuh implementasi teknis. Sebagai negarawan yang bijak, ia memahami batas-batas kewenangan dan pentingnya kolaborasi global.
Namun, kritik yang dilontarkan publik juga harus didengar dengan saksama. Kekhawatiran tentang ketergantungan pada infrastruktur asing, minimnya transfer pengetahuan, serta risiko simbolis "pengasingan budaya" adalah hal-hal yang harus diantisipasi dengan kebijakan yang bijak: pembangunan mirror server di Indonesia, pelibatan generasi muda Sunda, dan pernyataan eksplisit bahwa hak kepemilikan intelektual tetap berada di tangan masyarakat Sunda.
Pada akhirnya, "Peradaban Tak Berbiaya" yang digaungkan dalam diskusi antara Dedi Mulyadi dan Bagus Muljadi bukanlah sekadar slogan. Ia adalah cita-cita bahwa melestarikan peradaban tidak harus mahal jika kita tahu dengan siapa berkolaborasi dan di mana meletakkan fondasinya. Menyimpan repository di Nottingham, bekerja sama dengan diaspora dan universitas global, adalah bentuk nyata dari kearifan strategis: memanfaatkan kekuatan global untuk memperkuat akar lokal.
Maka, jangan keliru menafsirkan langkah ini sebagai "kalah" atau "tunduk" pada Barat. Ini adalah kemenangan diplomasi budaya: Sunda tidak perlu pindah ke Barat untuk dikenal dunia. Cukup dengan meletakkan warisannya di tempat yang paling aman dan paling dihormati secara global, Sunda tetap menjadi Sunda—tetap berdaulat, tetap kaya, tetap menjadi kompas peradaban masa depan. Dan yang terpenting, dengan akses terbuka (open access) yang dijanjikan, setiap warga Sunda di mana pun—di Kampung Naga, Cigugur, atau bahkan di perantauan—dapat tetap terhubung dengan akar budayanya, tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeser pun, kecuali biaya internet yang memang menjadi tanggung jawab negara untuk menyediakannya secara merata.
Itulah sejatinya "Freedom Right for Alls": bukan kebebasan tanpa tanggung jawab, tetapi kebebasan yang dijamin oleh infrastruktur, kolaborasi global, dan niat luhur untuk melestarikan peradaban.
Daftar Referensi
1. Bagus Muljadi, Dosen asal Indonesia yang Menjadi Assistant Professor termuda di University of Nottingham. Dunia Dosen, 2026.
2. Hadiah Ultah Dedi Mulyadi, Dukung Ensiklopedia Sunda ke Panggung Dunia. Tribunjabar.id, 17 April 2026.
3. Membangun Masa Depan Dari Akar Peradaban: Seruan Prof. Bagus Muljadi Untuk Kebangkitan Intelektual Sunda. Zona Satu News, 26 Mei 2026.
4. Mengenal Sosok Bagus Muljadi, Ilmuwan Dunia & Dosen Termuda Nottingham University Inggris Asal Indonesia. Pos-kupang.com / Tribunnews, 7 September 2019.
5. Bagus Muljadi, Titik Balik Anak Betawi IPK 2,69 jadi Ilmuwan Kelas Dunia. Kompas.com, 4 September 2019.
6. Lestarikan Budaya Berbasis Web3, PSS-Aryadhara Foundation Teken MoU. RRI.co.id, 15 September 2025.
7. Proyek Gapura target digitalisasi Budaya Sunda-ekonomi pelaku budaya. ANTARA News Jawa Barat, 2 April 2026.
8. Babak Baru Budaya Sunda: Dari Tokenisasi NFT hingga Penyelamatan Naskah Kuno di Leiden. Pikiran Rakyat Koran, 18 Desember 2025.
9. Kecepatan Internet Indonesia Naik 3 Peringkat, Bekasi dan Jaksel Tercepat. Kompas Tekno, 23 September 2025.
10. Daftar Negara dengan Internet Tercepat di Dunia 2025, Indonesia Dua Terbawah di ASEAN. Kompas.com, 12 Oktober 2025.
11. Kecepatan Internet Indonesia Masih Tertinggal di Asean, Jauh di Bawah Rata-rata. Selular.id, 11 Mei 2026.
12. PDPBS Unpad Luncurkan SundaDigi, Sajikan Kamus, Lagu, Aksara Hingga Buku Digital. Koran Gala, 12 September 2023.
13. Recording and Preserving Indonesia’s Intangible Cultural Heritage through Education, Research, and Digital Innovation. SDGs Unpad, 18 Desember 2024.
14. Indonesia Colocation Data Center Portfolio Report 2026. GlobeNewswire, 27 April 2026.
15. Indonesia Data Center Market - Investment Analysis & Growth Opportunities 2026-2031. Research and Markets, 2026.
16. Dedi Mulyadi Raih detikcom Awards 2025 'Tokoh Kepemimpinan Berbasis Nilai Budaya dan Kearifan Lokal'. detik.com, 25 November 2025.
17. Jadi Pejabat Publik, Gubernur Dedi Mulyadi Mengaku Tak Terima Sponsor di Konten YouTube Miliknya. Jawa Pos, 27 Mei 2025.
18. Siapa Bagus Muljadi? Ini Profil dan Biodata Lengkapnya: Pendidikan, Prestasi, Perjalanan Karier. Lamongan Terkini / PRMN, 28 Oktober 2025.
19. Dedi Mulyadi: Kemerdekaan Sejati adalah Rakyat Berdaulat atas Tanahnya. Kompas Regional, 20 Agustus 2025.
20. Pejabat Pertama 3 Juta Subscriber, Dedi Mulyadi: Kinerja Saya Direspons Positif. detik.com, 22 Januari 2022.
21. Gaya Dedi Mulyadi Necis Berjambul, Ikuti Filosofi Wayang Semar. detik.com, 12 November 2024.
22. NGOBROL SANTAI PROF. BAGUS MULJADI | MISTIK JALAN – PERADABAN TAK BERBIAYA. Bapenda Jabar, 16 April 2026.
23. Dedi Mulyadi dan Model Kepemimpinan Digital yang Humanis. detik.com, 2 Mei 2025.
24. Perpusnas koleksi naskah manuskrip Sunda terbanyak di dunia. ANTARA News, 7 Agustus 2024.
25. Kairaga.com » Katalog Naskah Sunda. Kairaga, diakses 2026.
26. Pusat Studi Sunda Meluncurkan Website Gapura. Bandung Bergerak, 30 April 2025.
27. An Introduction to Dr. Bagus Muljadi. GERC Blogspot, 20 Maret 2017.
28. KDM On Youtube – Ngobrol Santai Prof. Bagus Muljadi. Bapenda Jabar, April 2026.
Komentar
Posting Komentar