Dari Naskah Kuno menuju Metaverse: Linimasa "Ensiklopedia Sunda" dalam Lanskap Peradaban Nusantara
Esai
Dari Naskah Kuno menuju Metaverse: Linimasa "Ensiklopedia Sunda" dalam Lanskap Peradaban Nusantara
Pendahuluan: Antara Hilang dan Ditemukan
"Entah hilang atau dihilangkan. Entah sembunyi atau disembunyikan." Kalimat pembuka dari sebuah esai kontemporer tentang sejarah Sunda ini seolah merangkum dilema terbesar dalam upaya pendokumentasian peradaban di Tatar Pasundan. Di tengah panggung sejarah Indonesia yang didominasi narasi-narasi dari pusat-pusat kekuasaan Jawa, Sunda kerap diposisikan sebagai "the other", sebuah entitas yang redup dan misterius. Namun, apakah fakta sejarah Sunda benar-benar hilang? Ataukah ia hanya tersebar, tersimpan dalam format-format yang tak lagi mudah diakses oleh generasi modern?
Berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia, Sunda adalah satu-satunya suku bangsa di Indonesia yang memiliki ensiklopedia lengkap yang mendokumentasikan kekayaan budayanya. Namun, sebelum kita mengenal buku setebal 719 halaman itu, telah lebih dahulu hadir sebuah naskah kuno yang berfungsi layaknya sebuah "ensiklopedia kehidupan", yaitu Sang Hyang Siksa Kandang Karesian (SSKK). Pergeseran dari SSKK sebagai ensiklopedia analog di atas daun gebang menuju platform-platform digital abad ke-21 seperti SundaDigi hingga inisiatif Web3, bukan sekadar pergantian media. Ini adalah sebuah proyeksi perjalanan kesadaran kolektif untuk membangun sebuah sistem pengetahuan yang utuh dan terstruktur, sebuah "rumah besar" bagi peradaban Sunda agar tetap relevan di tengah arus globalisasi. Esai ini akan menelusuri linimasa panjang skenario ensiklopedia Sunda, dari masa klasiknya sebagai pengetahuan lisan dan tertulis, hingga evolusinya ke dalam ranah digital dan metaverse sebagai upaya sistematis menjaga warisan budaya.
Babak Pertama: Masa Klasik (1518 M) - Cetak Biru Peradaban Sunda
Pada tahun 1518 Masehi, di tengah pusaran pengaruh Islam yang mulai masuk ke tanah Jawa, Kerajaan Sunda di bawah Prabu Jayadewata (Sri Baduga Maharaja) melahirkan sebuah karya monumentaal: Naskah Sang Hyang Siksa Kandang Karesian (SSKK). Naskah dengan 30 lembar daun gebang ini pada hakikatnya adalah "ensiklopedia budaya Sunda masa lampau" yang pertama.
SSKK bukanlah sekadar teks religius atau legal formal, melainkan sebuah cetak biru komprehensif yang merangkum struktur sosial, ekonomi, dan etika masyarakat Sunda kuno. Ia memuat aturan tata kota cara membuat sumur, tata krama hubungan sosial, formasi perang, hingga pertanda alam untuk pertanian. Yang membuatnya sangat sistematis adalah pembagiannya ke dalam "bab" layaknya sebuah ensiklopedia modern: salah satu pasalnya bahkan secara eksplisit berjudul "Perintah Darma Pitutur" yang berfungsi sebagai bab ensiklopedis.
Dari perspektif lini masa, SSKK adalah fondasi dokumentasi pertama. Ia menjawab pertanyaan mendasar: "Apa itu menjadi Sunda?" dengan cara yang terstruktur dan didaktis. Naskah ini meletakkan tradisi akademis dan dokumentatif yang sudah ada sejak berabad-abad lalu, membuktikan bahwa orang Sunda telah memiliki tradisi kearsipan dan sistematisasi pengetahuan yang kuat jauh sebelum era kolonial.
Babak Kedua: Titik Nadir & Kebangkitan Modern (Abad ke-20)
Runtuhnya Kerajaan Sunda pada tahun 1579 dan masa kolonialisme Belanda membawa era yang disebut sebagai "pareum obor" (padamnya obor), di mana narasi Sunda mulai terpinggirkan dalam historiografi nasional yang berpusat di Jawa. Akibatnya, literatur tentang Sunda dalam korpus keilmuan modern menjadi sangat minim.
Momen penting baru hadir di penghujung abad ke-20, tepatnya pada tahun 2000, dengan diterbitkannya "Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya (Termasuk Budaya Cirebon dan Betawi)" . Dipimpin oleh Ajip Rosidi dan tim yang terdiri dari 40 ilmuwan multidisiplin, proyek ini adalah sebuah proyek identitas modernitas.
Proses penyusunannya yang memakan waktu hampir 10 tahun ini merupakan perwujudan dari kesadaran historis modern bahwa pengetahuan Sunda harus disimpan dalam format yang diakui secara global. Buku setebal 719 halaman yang memuat sekitar 3.500 entri ini disusun dengan struktur tematis yang ambisius: menjawab pertanyaan tentang ruang hidup (alam), aktor utama (manusia), dan hasil ciptaan (budaya/teknologi). Pujian dari akademisi internasional seperti Prof. A. Teeuw dari Universitas Leiden, yang menyebut kualitas ilmiah ensiklopedia ini sangat dalam dan informatif, menandai babak baru: Ensiklopedia Sunda kini telah siap untuk "diperhitungkan" dalam panggung ilmu pengetahuan dunia.
Babak Ketiga: Era Digital dan Revolusi Pengetahuan
Dua dekade setelah ensiklopedia fisik terbit, gelombang digital mengubah cara manusia mengakses informasi. Lini masa ensiklopedia Sunda memasuki fase paling disruptif. Tidak lagi berpusat pada satu buku, pengetahuan Sunda mulai menyebar ke berbagai inisiatif digital dan kolaboratif:
1. Wikipedia Basa Sunda (2004): Bermula pada Maret 2004, proyek ensiklopedia daring bebas ini menjadi bukti bahwa bahasa Sunda bisa mengikuti kemajuan zaman. Hingga saat ini, Wikipedia Sunda memiliki puluhan ribu artikel yang terus berkembang.
2. SundaDigi oleh Unpad (2023): Dibangun sebagai "perpustakaan digital", SundaDigi merupakan upaya sistematis untuk mengkonsolidasi materi budaya Sunda yang tersebar. Hingga September 2023, platform ini telah menghimpun sekitar satu juta halaman materi, termasuk buku, aksara Sunda, hingga lagu daerah.
3. Proyek Ensiklopedia Ki Sunda (2026): Inisiatif terkini (2026) oleh Prof. Bagus Muljadi dari University of Nottingham ini menunjukkan puncak dari skenario lini masa: internasionalisasi epistemologi Sunda. Proyek ambisius yang didukung Gubernur Jawa Barat ini membedah filosofi Sunda dalam klaster: alam, manusia, dan teknologi/buah pikir, dengan rencana penerjemahan ke dalam Bahasa Inggris.
Babak Baru: Dari Digital ke Blockchain
Masa depan skenario ensiklopedia Sunda tampaknya akan melampaui sekadar teks. Gapura Project (2025), sebuah proyek pelestarian berbasis teknologi Web3, Blockchain, dan DAO (Decentralized Autonomous Organization), menandai lompatan kuantum dari "catatan" menjadi "pengalaman" dan "aset". Proyek ini menargetkan digitalisasi lebih dari satu juta halaman literatur Sunda ke dalam rantai blok (blockchain).
Teknologi tokenisasi aset nyata (RWA) dan penerbitan NFT budaya di dalam proyek ini, yang berpotensi pendanaan hingga 1,4 juta Dolar AS, merupakan sebuah skenario baru. Warisan budaya Sunda tidak hanya "dicadangkan" dan "dilindungi," tetapi juga diekonomikan dan diabadikan dalam bentuk kepemilikan digital yang abadi. Jika fase sebelumnya adalah tentang pelestarian pasif (menulis, membukukan), maka fase Web3 adalah tentang pelestarian aktif dan partisipatif global, di mana setiap orang di dunia dapat memiliki "saham" dalam pelestarian budaya Sunda.
Penutup: Garis Masa yang Tak Terputus
Linimasa Ensiklopedia Sunda adalah cermin dari pertarungan sebuah peradaban melawan kelupaan zaman. Dimulai dari Sang Hyang Siksa Kandang Karesian yang merangkum etika pada abad ke-16, kemudian bangkit kembali melalui buku monumental Ajip Rosidi di ambang milenium, dan kini melesat ke ranah artificial intelligence serta algoritma blockchain.
Skenario ini tidak pernah bersifat linear semata; ia adalah proses akumulasi dan transformasi. Setiap era melahirkan format "ensiklopedia" sesuai dengan tantangan zamannya: dari lontar untuk moralitas kuno, buku untuk standarisasi ilmiah, hingga cloud dan kode kriptografi untuk keabadian digital. Dengan referensi-referensi yang semakin valid dan terstruktur, masa depan "Ensiklopedia Sunda" bukan hanya akan melestarikan masa lalu, tetapi juga akan menjadi kompas bagi generasi mendatang untuk menapaki jejak peradaban Sunda di tengah ketidakpastian peradaban global.
Daftar Referensi (Sumber yang dikutip)
1. Edi ES. (2023, 10 Oktober). Sunda: Satu-satunya Suku yang Punya Ensiklopedia Lengkap. Ide Jabar. (menyajikan data bahwa hanya suku Sunda yang memiliki ensiklopedia lengkap dari 465 suku di Indonesia, serta detail tim penyusun di bawah Ajip Rosidi).
2. Toto Izul Fatah. (2026, 18 Mei). Ensiklopedi Sunda: Menjawab Sejarah Sunda yang Hilang. Hatipena. (mengangkat problem minimnya referensi sejarah Sunda di arus utama pengetahuan).
3. Zaki Zamzami. (2026, 29 Mei). Menjaga Peradaban Lewat "Ensiklopedia Ki Sunda". Kompasiana. (menjelaskan inisiasi Prof. Bagus Muljadi dan pembagian tiga klaster alam, manusia, teknologi).
4. Hilda Rubiah. (2026, 17 April). Hadiah Ultah Dedi Mulyadi, Dukung Ensiklopedia Sunda ke Panggung Dunia. Tribun Jabar. (memuat rencana penerjemahan Ensiklopedia Sunda ke Bahasa Inggris).
5. (2025, 24 Agustus). Ensiklopedia Hidup Masyarakat Sunda Kuno. Cerita Sejarah Kita. (menganalisis Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian sebagai ensiklopedia budaya masa lampau).
6. (2020, 14 Januari). Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Pedoman Masyarakat Sunda. Historia.id. (membahas isi dan fungsi naskah SSKK sebagai pedoman masyarakat Sunda abad ke-16).
7. (2025, 15 September). Lestarikan Budaya Berbasis Web3, PSS-Aryadhara Foundation Teken MoU. RRI.co.id. (menjelaskan proyek Gapura Project yang menggunakan teknologi blockchain dan Web3).
8. (2023, 12 September). PDPBS Unpad Luncurkan SundaDigi. Koran Gala. (melaporkan peluncuran platform digital SundaDigi dengan satu juta halaman materi).
Komentar
Posting Komentar