Melacak Theonomi dalam Pupuh Sunda: Sebuah Kajian Komprehensif

Melacak Theonomi dalam Pupuh Sunda: Sebuah Kajian Komprehensif

Ku Kang Asep Rohmandar                                                                                              Abstrak

Artikel ini berupaya melacak dan menganalisis jejak theonomi—pandangan bahwa hukum-hukum Allah menjadi fondasi utama bagi kehidupan individu dan masyarakat—dalam khazanah pupuh Sunda. Sebagai bentuk puisi tradisional yang terikat oleh aturan ketat (guru wilangan, guru lagu, dan watek), pupuh Sunda tidak hanya berfungsi sebagai media ekspresi estetis, tetapi juga telah lama menjadi wadah penyampaian ajaran agama, moral, dan hukum ilahi. Melalui penelusuran terhadap berbagai naskah wawacan dan guguritan, artikel ini menunjukkan bahwa theonomi terinternalisasi secara mendalam dalam struktur dan isi pupuh Sunda, terutama sejak masuknya pengaruh Islam pada abad ke-17.


1. Pendahuluan

Pupuh merupakan bentuk puisi tradisional Sunda yang terikat oleh patokan-patokan tertentu, meliputi guru wilangan (jumlah suku kata tiap baris), guru lagu (bunyi vokal akhir tiap baris), dan watek (watak atau sifat) yang mencerminkan tema tertentu. Dalam khazanah sastra Sunda, dikenal 17 macam pupuh, di antaranya Dangdanggula, Asmarandana, Kinanti, Sinom, Pangkur, Durma, dan Maskumambang.

Kata "theonomi" berasal dari bahasa Yunani theos (Tuhan) dan nomos (hukum), merujuk pada keyakinan bahwa hukum Allah adalah otoritas tertinggi yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Dalam konteks sastra Nusantara, theonomi tidak selalu hadir sebagai konsep teoretis yang eksplisit, melainkan terwujud dalam praktik kultural—di mana karya sastra menjadi sarana untuk menyampaikan, mengajarkan, dan menginternalisasi hukum-hukum ilahi serta nilai-nilai keagamaan.

Artikel ini akan melacak bagaimana theonomi tercermin dalam pupuh Sunda melalui tiga pintu masuk: (1) struktur formal pupuh sebagai cerminan keteraturan ilahi, (2) isi teks-teks keagamaan yang menggunakan medium pupuh, dan (3) fungsi sosial pupuh sebagai media dakwah dan pendidikan moral.


2. Kerangka Teoritis: Memahami Theonomi dalam Tradisi Sastra

Theonomi sebagai sebuah worldview berangkat dari premis bahwa realitas tertinggi adalah kehendak Allah yang dinyatakan melalui hukum-hukum-Nya. Dalam tradisi Islam Nusantara, theonomi sering kali tidak dibicarakan secara abstrak, melainkan dijalankan melalui apa yang disebut para ulama sebagai suluk, tarekat, dan pengamalan syariat.

Menariknya, dalam tradisi Sunda, pemikiran semacam ini menemukan medium yang sangat cocok: pupuh. Sebagaimana dicatat dalam kajian filologis terhadap naskah Hukum Sara Adat Akal (HSAA), teks berbahasa Sunda dan Arab ini menggunakan lima macam pupuh—Dangdanggula, Asmarandana, Kinanti, Sinom, dan Magatru—untuk menyampaikan "hukum-hukum dari Allah SWT juga hukum yang dibuat oleh manusia yang berasal dari akal manusia untuk implementasi keimanan manusia terhadap kehidupan bernegara dan bermasyarakat". Ini menunjukkan bahwa pupuh dipilih sebagai kendaraan untuk menyampaikan ajaran teologis-yuridis secara utuh.


3. Pupuh Sunda: Struktur Formal dan Makna Simbolik

3.1 Aturan Pupuh sebagai Cermin Keteraturan Ilahi

Pupuh memiliki aturan yang ketat dan tidak dapat dilanggar. Setiap jenis pupuh memiliki ketentuan spesifik mengenai jumlah baris per bait (guru gatra), jumlah suku kata per baris (guru wilangan), dan bunyi vokal akhir (guru lagu). Keterikatan pada aturan ini bukan sekadar kepatuhan estetis, tetapi mengandung makna filosofis: bahwa keindahan hanya dapat lahir dari kepatuhan pada hukum (dalam hal ini, hukum puisi). Dalam perspektif theonomis, ini paralel dengan keyakinan bahwa keteraturan kosmik dan moral lahir dari kepatuhan pada hukum Ilahi.

Pembagian pupuh ke dalam dua kategori besar—sekar ageung (pupuh besar) yang terdiri dari Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula, serta sekar alit (pupuh kecil) yang mencakup sisanya—juga mencerminkan hirarki nilai. Pupuh-pupuh besar sering digunakan untuk tema-tema agung seperti ketenteraman, keagungan, dan nasihat keagamaan.

3.2 Watek Pupuh dan Relevansinya dengan Ajaran Moral

Setiap pupuh memiliki watek atau watak yang menentukan tema yang cocok. Dangdanggula, misalnya, bertemakan ketenteraman dan keagungan; Asmarandana bertemakan cinta kasih dan kerinduan; Sinom bertemakan kegembiraan dan nasihat; sedangkan Pucung kerap digunakan untuk menyampaikan wejangan dan pemberitahuan. Pemilihan pupuh yang tepat untuk menyampaikan pesan keagamaan bukanlah kebetulan—ia menunjukkan kesadaran bahwa isi dan bentuk harus selaras, sebagaimana dalam pandangan theonomis, hukum dan kehidupan harus selaras.


4. Jejak Theonomi dalam Naskah-Naskah Pupuh Sunda

4.1 Wawacan sebagai Media Penyebaran Hukum Ilahi

Wawacan—karya sastra naratif yang digubah dalam bentuk pupuh—mulai berkembang di tanah Sunda sekitar pertengahan abad ke-17, dibawa oleh kaum feodal dan ulama Islam melalui pesantren. Wawacan menjadi medium penting dalam menyebarkan Islam karena daya tariknya yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat Sunda.

Salah satu contoh penting adalah Wawacan Sajarah Ambia yang mengisahkan perjalanan hidup para nabi dalam ajaran Islam. Ditampilkan secara tembang atau pupuh, teks ini "tidak hanya mengandung nilai religius, tetapi juga menyampaikan ajaran moral dan budaya lokal". Ini menunjukkan bahwa theonomi dalam tradisi Sunda tidak bersifat eksklusif atau asing, melainkan berakulturasi dengan kearifan lokal.

4.2 Naskah Tasawuf dalam Balutan Pupuh

Kajian terhadap Wawacan Bidayatussalik (WBS) dan Wawacan Jaka Mursyid (WJM) menunjukkan bahwa naskah-naskah ini termasuk "teks naskah keagamaan Islam yang berisi ajaran tasawuf Al-Ghazali (tasawuf Sunni) dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhannya". Kedua naskah ini ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Sunda dan menggunakan konvensi pupuh yang ketat.

Lebih menarik lagi, Wawacan Suluk Islam—yang secara fisik berjudul Wawacan Ciung Wanara pada lembar awalnya—ternyata berisi ajaran keislaman dalam bentuk suluk. Manuskrip ini terdiri dari beberapa pupuh: Dangdanggula (134 pada), Asmarandana (437 pada), Dangdanggula (19 pada), Kinanti (47 pada), dan Asmarandana (69 pada). Fenomena "penyamaran" ini penting: bahkan cerita-cerita epik tradisional Sunda dapat "diisi" dengan muatan teologis, menunjukkan betapa kuatnya internalisasi nilai-nilai keislaman ke dalam bentuk sastra lokal.

4.3 Tafsir Al-Qur'an dan Terjemahan Suluk dalam Pupuh

Salah satu manifestasi paling jelas dari theonomi dalam pupuh Sunda adalah upaya menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur'an serta ajaran tasawuf melalui medium ini. Sebuah kajian menunjukkan bahwa "pupuh/guguritan menduduki tempat yang khas dalam khazanah kebudayaan Sunda". Bahkan, terdapat karya unik yang "menerjemahkan Al-Qur'an melalui pupuh", yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai "poetic translation of the Qur'ān" yang terbatas oleh aturan metrum.

Naskah Kitab Rancang (KR), misalnya, adalah naskah klasik tasawuf yang ditulis berdasarkan pola metrum pupuh, dengan pupuh Sinom dan Asmarandana sebagai yang paling sering digunakan—mencerminkan isi naskah yang "bernuansa didaktis dan penuh kasih sayang". Layang Pandita Sawang dan Wawacan Paras Adam juga merupakan naskah tasawuf yang digubah dalam bentuk pupuh, membahas "syariat, tarekat, hakikat, makrifat, dzat, sifat, roh" serta "'dua kalimat syahadat' melalui simbol-simbol tertentu".


5. Fungsi Sosial Pupuh: Theonomi dalam Praktik

5.1 Pupuh sebagai Media Dakwah dan Pendidikan

Peran pupuh sebagai media dakwah tidak dapat dilebih-lebihkan. Tradisi membaca naskah wawacan dengan menggunakan tembang atau lagu yang disebut pupuh menjadi salah satu strategi efektif para pendakwah. Cigawiran, sebagai bagian dari tembang Sunda, juga tak lepas dari syair-syair keagamaan, terutama Islam, yang isinya "sangat kental dengan syariat-syariat Islam".

5.2 Pendidikan Karakter dan Nilai Religiusitas

Sebuah studi tentang pupuh Sunda sebagai media pendidikan karakter menunjukkan bahwa puisi Sunda "mengandung prinsip moral seperti sopan santun, kerja sama, kewajiban, dan religiusitas". Nilai-nilai religiusitas ini—yang dalam kerangka theonomis berarti kepatuhan pada hukum Allah—disampaikan melalui keindahan puisi dan tembang, sehingga lebih mudah diinternalisasi oleh masyarakat.


6. Kesimpulan

Melacak theonomi dalam pupuh Sunda berarti membaca kembali kekayaan sastra tradisional Sunda sebagai dokumen peradaban yang sarat dengan nilai-nilai ketuhanan. Dari struktur formal yang ketat hingga isi naskah-naskah tasawuf dan tafsir Al-Qur'an, dari fungsi dakwah hingga pendidikan karakter, pupuh Sunda menunjukkan bahwa hukum-hukum Allah tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi dihayati melalui keindahan seni dan sastra.

Theonomi dalam tradisi Sunda bukanlah konsep yang datang dari luar lalu dipaksakan; ia adalah hasil akulturasi yang panjang, di mana nilai-nilai Islam menyatu dengan bentuk-bentuk ekspresi lokal tanpa kehilangan esensinya. Pupuh, dengan segala aturan dan kekhasannya, menjadi jembatan antara langit dan bumi—antara hukum Ilahi dan kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.


Daftar Referensi

1. Pupuh - Wikipédia Sunda. (2025). Wikipédia Sunda. Tersedia di: https://su.wikipedia.org/wiki/Pupuh 
2. Pupuh - Wikipedia bahasa Indonesia. (2025). Wikipedia Indonesia. Tersedia di: https://id.wikipedia.org/wiki/Pupuh 
3. Riscka Dwi Kania. (2012). Pengertian Pupuh. Universitas Pendidikan Indonesia. Tersedia di: https://repository.upi.edu/102916/3/s_sdt_0707886_chapter1.pdf 
4. Garuda - Garba Rujukan Digital. Kajian Wawacan Bidayatussalik dan Wawacan Jaka Mursyid. Tersedia di: https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/author/view/7670691 
5. Rumah Naskah. (2024). WAWACAN Suluk Islam: Untaian Ajaran Tarekat Satariyah dalam Pupuh Sunda. Tersedia di: https://rumahnaskah.id/infonaskah/mpub66f4hp3a/suluk-islam 
6. Anne Rizki Amalia. (2012). Hukum Sara Adat Akal, Pijakan Hidup dalam Agama, Tradisi, dan Negara: Kajian Filologis. Universitas Padjadjaran. Tersedia di: https://repository.unpad.ac.id/items/c9daf256-3947-45d7-92ae-a107cd02b1b0 
7. Perpustakaan Prof. Dr. Nurcholish Madjid. Peranan Naskah Wawacan dalam Kehidupan Masyarakat Sunda. Tersedia di: https://opac.fah.uinjkt.ac.id 
8. Universitas Padjadjaran. Kitab Rancang: Naskah Klasik Tasawuf Kawali-Ciamis. Tersedia di: https://repository.unpad.ac.id 
9. Student-Repository UT. (2025). Pupuh Sunda Sebagai Media Pendidikan Karakter. Tersedia di: https://student-repository.ut.ac.id 
10. Rumah Naskah. Wawacan Paras Adam: Kisah Tasawuf dalam Syair Sunda. Tersedia di: https://rumahnaskah.id 
11. Repositori Kemdikbud. Naskah Sunda dan Pengaruh Kebudayaan Islam. Tersedia di: https://repositori.kemdikbud.go.id 
12. Digilib UIN SGD. Cigawiran dan Syariat Islam. Tersedia di: https://digilib.uinsgd.ac.id 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SPMB 2026 Jabar Down, Pendaftar Terhambat Kendala Teknis dan Kewajiban Akun Sekolah Asal

Profil Asep Rohmandar : Presiden Masyarakat Peneliti Mandiri Sunda Nusantara

Fiscal Guardians Under Pressure and Social Safety Nets: Reconciling Debt Sustainability with Poverty and Inequality in ASEAN