Museum Sri Baduga: Menelusuri Jejak Filologi Sunda Kuno dalam 163 Naskah Warisan Intelektual Leluhur
Museum Sri Baduga: Menelusuri Jejak Filologi Sunda Kuno dalam 163 Naskah Warisan Intelektual Leluhur
BANDUNG — Di balik dinding bangunan berarsitektur rumah panggung khas Sunda di Jalan BKR Nomor 185, Kota Bandung, tersimpan warisan intelektual yang jauh lebih berharga daripada sekadar artefak fisik. Museum Negeri Provinsi Jawa Barat "Sri Baduga" mengoleksi 163 naskah kuno yang termasuk dalam klasifikasi filologika, sebuah khazanah yang menjadikannya sebagai salah satu pusat kajian filologi Sunda terpenting di Indonesia. Naskah-naskah ini bukan sekadar benda antik, melainkan jendela yang membuka pemahaman kita tentang kosmologi, pengobatan, sastra, dan sistem kepercayaan masyarakat Sunda masa lampau.
Filologi: Ilmu yang Menghidupkan Naskah Kuno
Filologi, secara harfiah berarti "cinta akan kata" atau "cinta akan ilmu", adalah disiplin ilmu yang mengkaji naskah kuno dari segi bahasa, aksara, isi, dan konteks sosial-budayanya. Naskah kuno yang tersimpan di Museum Sri Baduga mencakup usia lebih dari 50 tahun, sehingga tergolong koleksi langka yang memerlukan perlakuan khusus. Koleksi filologika museum ini ditulis dalam berbagai aksara kuno—Sunda Kuno, Jawa Kuno, hingga Palawa—dengan media yang beragam, mulai dari daun lontar, kertas Eropa, logam, hingga kayu.
Staf Museum Sri Baduga, Iip Syarif Hidayat, mengungkapkan bahwa hampir sebagian besar naskah kuno tersebut dipengaruhi oleh budaya India karena berasal dari zaman yang banyak dipengaruhi kebudayaan Hindu. Naskah-naskah itu, menurutnya, "banyak mengungkap kehidupan sosial budaya masyarakat, khususnya Jawa Barat di masa lampau".
Prasasti Batutulis: Titik Nol Penamaan Museum
Nama museum ini sendiri diambil dari Prasasti Batutulis, sebuah prasasti yang berukir kalimat-kalimat dalam bahasa Sunda Kuno dengan aksara Kawi. Prasasti berangka tahun 1455 Saka (1533 Masehi) ini menjelaskan mengenai Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Upaya penerjemahan dan pemahaman tulisan pada Prasasti Batutulis telah beberapa kali dilakukan. Berikut adalah kutipan terjemahan yang dilakukan Gunawan dan Griffiths dengan berdasar pada studi foto atas kertas tempel (abklatsch) faksimile yang terdapat di koleksi EFEO Paris:
(1) Ø Ø vaṁ(ṅ) a‹m›(p)un· I(n)i sakakala, pr(ə)bu ratu pura:na pun·, ḍivas·tu (2) ḍyi, viṅaran· prəbu guru ḍe(va)ta p(ra)n· ḍivas·tu ḍyə ḍiṅaran· sri (3) baduga maharaja, ratu ha(j)i ḍi pakvan· pajajaran· sri sa‹ṁ› ratu ḍe- (4) vata pun· ya nu ñusuk· na pakvan· ḍyə Anak· rahyi‹ṁ› ḍeva nis·- (5) kala, sa‹ṁ› siḍa mok(·)ta ḍi gunuṁ tiga, qə‹ñ›cu rahyiṁ (n)is·kala vas·tu (6) ka‹ñ›ca:na, saṁ siḍa mok·ta ka nusa laraṁ, ya syi nu (ñ)yin· sakaka- (7) la, gugun(uṅ)an·, (ṅa)balay·,, ñyin· samiḍa, ñyin· saṁ hyi‹ṁ› talaga [va-] (8) R̥na mahavijaya, ya syi pun·,, ØØ I saka, pañca pan·ḍa- (9) va ṅ(ə)‹m›ban· bumi Ø Ø
Terjemahan bebasnya kira-kira sebagai berikut: "Semoga selamat, ini tanda peringatan Prabu Ratu almarhum. Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka 'Panca Pandawa Mengemban Bumi'".
Prasasti ini menjadi bukti filologis yang menghubungkan langsung nama museum dengan sosok raja besar Pajajaran yang memerintah tahun 1482-1521, sekaligus menunjukkan bahwa penamaan museum bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan pengakuan atas akar historis yang terdokumentasi secara tertulis.
Sanghyang Raga Dewata: Kosmologi Sunda dalam Lembaran Nipah
Salah satu naskah paling berharga dalam koleksi filologika Museum Sri Baduga adalah Sanghyang Raga Dewata, sebuah naskah yang menceritakan tentang kosmologis penciptaan alam semesta menurut masyarakat Sunda. Naskah ini berasal dari daerah Sukaraja dan dimiliki oleh Museum Negeri Sri Baduga Provinsi Jawa Barat pada tahun 1991.
Menurut penelitian Yunus Winoto dan Rakanda Ibrahim, naskah Sanghyang Raga Dewata menggambarkan mitos penciptaan alam semesta yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu, yang kemudian melahirkan elemen-elemen alam seperti bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa.
Kutipan yang terdapat dalam naskah ini, sebagaimana dikutip dalam kajian terhadap naskah Sunda Kuno, berbunyi: "Setelah itu terdengarlah ucapan sesungguhnya, perkataan yang benar, (bahwa) dia adalah bayu (tekad), sabda (ucap), hedap (lampah)". Kutipan ini menunjukkan konsep filosofis Sunda Kuno tentang kesatuan antara tekad, ucapan, dan perbuatan—sebuah ajaran etis yang mendalam tentang pentingnya konsistensi antara niat, kata, dan tindakan.
Yang menjadikan naskah ini istimewa secara filologis adalah bahannya yang terbuat dari daun nipah dan tinta, bukan daun lontar seperti kebanyakan naskah lainnya. Oleh karena itu, perawatannya pun memerlukan perlakuan khusus: tidak boleh menggunakan minyak sereh maupun kemiri seperti pada jenis naskah kuno lainnya, karena sangat rentan terhadap kerusakan. Museum Sri Baduga telah melakukan tiga kali tindakan kuratif terhadap naskah ini, berupa teknik enkapsulasi serta alih media.
Naskah Obat-Obatan: Kearifan Lokal dalam Pengobatan Tradisional
Koleksi filologika Museum Sri Baduga juga mencakup naskah Obat-Obatan (kode 07.123), sebuah naskah pengobatan yang menjadi objek penelitian filologi oleh Siti Wahyuni dari Universitas Pendidikan Indonesia. Naskah ini berisikan nama-nama penyakit, sifat dari penyakit, jenis-jenis tanaman obat, dan tata cara pengobatan tradisional.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tiga hal: pertama, naskah kuno sebagai peninggalan kebudayaan masa lampau yang mengandung manfaat dan peran penting sangat sulit ditemukan pada zaman sekarang; kedua, kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kondisi naskah kuno; dan ketiga, mulai tumbuh kembali kesadaran masyarakat mengenai pengobatan tradisional yang merupakan perwujudan dari nilai-nilai kearifan lokal.
Berikut adalah kutipan transliterasi dan terjemahan dari naskah Obat-Obatan halaman 1:
Transliterasi: Kalajiminah watekna / Jadi teu beuki dahar / Tambana daun jeruk / Anu ngora sakeupeulna / Dibebek diala acina / Ulah maké cai temen /1/
Terjemahan: Kalajiminah sifatnya / menjadi tidak nafsu makan / obatnya daun jeruk / yang muda segenggam / ditumbuk diambil saripatinya / jangan memakai air saja /1/
Kutipan ini mendemonstrasikan bagaimana naskah Obat-Obatan merekam pengetahuan empiris masyarakat Sunda tentang pemanfaatan tanaman lokal untuk pengobatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kritik teks naskah tunggal edisi standar, dengan pendekatan filologi yang mencakup kritik teks, edisi teks, dan analisis konsep pengobatan tradisional.
Kisah Putra Rama dan Rawana: Sastra Epik Sunda Kuno Abad ke-16
Koleksi filologika Museum Sri Baduga juga menyimpan naskah Kisah Putra Rama dan Rawana (PRR), sebuah karya sastra Sunda Kuno yang ditulis pada abad ke-16 Masehi. Penelitian terhadap naskah ini dilakukan oleh para filolog dengan membandingkan tiga naskah: koleksi Museum Negeri Jawa Barat "Sri Baduga" dan koleksi Kabuyutan Ciburuy, Garut.
Naskah ini berbentuk puisi epik sebanyak 1.747 larik dengan metrum delapan suku kata, ditulis dengan aksara dan bahasa Sunda Kuno di atas daun lontar. Isinya mengisahkan peperangan antara putra Rama, Raja Lengkawati, dengan putra Rawana, Raja Lengkapura, setelah Rawana gugur dan Rama mencapai moksa.
Naskah PRR koleksi Kabuyutan Ciburuy tercecer dalam enam kropak yang sebagian lempirannya bercampur dengan lempiran dari teks lain. Para peneliti kemudian membaginya menjadi dua kelompok: Kelompok pertama—terdiri dari Kropak 17, Kropak 18, Kropak 22, lempir keempat dan kelima Kropak 26—disebut Naskah A. Kelompok kedua—yaitu lempir kedua Kropak 24, lempir ketiga Kropak 26, dan lempir kelima Kropak 29—disebut Naskah C. Sedangkan teks PRR yang sudah diterbitkan lebih dahulu disebut Naskah B. Naskah ini pernah dibuat dalam edisi standar oleh Noorduyn dan Teeuw pada tahun 2006.
Digitalisasi dan Pelestarian: Menjaga Warisan agar Tetap Hidup
Museum Sri Baduga memiliki prosedur terstruktur untuk pengadaan dan digitalisasi naskah kuno, yang meliputi kajian analisis koleksi, penganggaran, pembentukan tim, registrasi, inventarisasi, identifikasi naskah, perawatan dan konservasi, digitalisasi naskah, serta translasi alih aksara dan terjemahan. Strategi manajemen digitalisasi yang diterapkan mencakup kolaborasi institusional, pembatasan akses terhadap materi sensitif, dan penerapan kerangka regulasi.
Dalam hal preservasi preventif, museum menyediakan tempat penyimpanan sesuai standar penanggulangan bencana yang dilengkapi Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Naskah-naskah disimpan dalam kotak khusus di atas rak besi, dengan suhu ruangan dijaga stabil pada rentang 20-24°C dan kelembaban sekitar 50-60%.
Revitalisasi Tradisi Literasi
Pada Juni 2026, Museum Sri Baduga menyelenggarakan lokakarya menulis aksara Sunda di atas daun lontar untuk generasi muda, dengan tema "Mengenal Dunia Pendidikan Pada Masa Kerajaan Sunda". Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, termasuk para filolog yang selama ini meneliti naskah-naskah kuno Sunda. Peserta diajak praktik langsung menggunakan pisau kecil dan minyak kemiri di bawah bimbingan para ahli filologi.
Menurut Rahmat, seorang akademisi yang terlibat, workshop yang digelar Museum Sri Baduga merupakan bentuk revitalisasi terhadap tradisi menulis yang pernah hidup di masyarakat Sunda. Inisiatif ini menunjukkan bahwa museum tidak hanya berperan sebagai lembaga preservasi pasif, melainkan juga sebagai pusat edukasi aktif yang menjembatani warisan intelektual leluhur dengan generasi masa kini.
Penutup
Dengan 163 naskah filologika yang mencakup rentang waktu dari abad ke-16 hingga abad ke-19, Museum Sri Baduga bukan sekadar tempat penyimpanan benda kuno, melainkan laboratorium hidup bagi kajian filologi Sunda. Setiap naskah—dari Prasasti Batutulis yang menandai kelahiran nama museum, Sanghyang Raga Dewata yang mengungkap kosmologi Sunda, Naskah Obat-Obatan yang merekam kearifan lokal, hingga Kisah Putra Rama dan Rawana yang memperkaya khazanah sastra Nusantara—merupakan bukti bahwa masyarakat Sunda memiliki tradisi literasi yang kaya dan berkelanjutan. Melalui upaya preservasi, digitalisasi, dan revitalisasi, warisan intelektual ini terus dijaga agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Komentar
Posting Komentar