Tiga Pilar Akademik UTB: Kisah di Balik Capaian Jabatan Lektor Kepala
Tiga Pilar Akademik UTB: Kisah di Balik Capaian Jabatan Lektor Kepala
Bandung (6/9/2026) —Universitas Teknologi Bandung (UTB) kembali menorehkan capaian penting dalam pengembangan sumber daya manusia akademiknya. Tiga dosen UTB berhasil meraih Jabatan Akademik Dosen (JAD) pada jenjang Lektor Kepala, sebuah tonggak yang tidak datang secara instan, melainkan hasil dari perjalanan panjang riset, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya adalah Assoc. Prof. Dr. Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. (Rektor UTB), Assoc. Prof. Dr. Rina Indrayani, S.E., M.M. (Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan), dan Assoc. Prof. Nova Agustina, S.T., M.Kom. (dosen Departemen Teknik Informatika).
Capaian ini menegaskan arah UTB sebagai socio-creativepreneur university — kampus yang tidak hanya berorientasi pada pengajaran, tetapi juga pada penelitian yang berdampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Muchammad Naseer: Dari Ketua Sekolah Tinggi ke Rektor Universitas
Perjalanan Muchammad Naseer di dunia akademik UTB dimulai jauh sebelum institusi ini menyandang status universitas. Sejak 2015, ia dipercaya menjadi dosen sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB) — cikal bakal UTB hari ini. Ketika STTB resmi bertransformasi menjadi Universitas Teknologi Bandung pada 15 Februari 2024, Naseer dilantik sebagai rektor pertamanya pada 5 Maret 2024.
Bagi Naseer, transformasi nama bukan sekadar formalitas. Ia menegaskan bahwa perubahan status ini adalah momentum untuk "memberikan manfaat yang lebih luas dan lebih besar," dengan visi yang tetap konsisten: menjadikan UTB sebagai socio-creativepreneur university yang mengembangkan potensi lokal ke tataran global demi kemajuan ekonomi masyarakat nasional. Ia bahkan menepis anggapan bahwa nama UTB "kebetulan" mirip dengan ITB — baginya, UTB berdiri dengan identitas dan keberkahannya sendiri, dengan kekhasan pada kolaborasi bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia yang membuka peluang kerja luar negeri bagi alumninya.
Komitmen pada ekosistem riset dosen
Sebagai rektor, Naseer dikenal aktif mendorong penguatan kapasitas dosen. Dalam berbagai kesempatan, termasuk sosialisasi bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, ia menegaskan bahwa profesi dosen tidak boleh berhenti di ruang kelas. Penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat adalah tiga pilar yang menurutnya harus terus dikembangkan melalui pelatihan, kemudahan akses publikasi, serta kolaborasi dengan institusi akademik maupun industri.
Komitmennya pada isu-isu strategis bangsa juga tampak dari keterlibatannya dalam forum-forum nasional. Pada April 2026, misalnya, ia turut serta dalam kegiatan Penguatan Sumber Daya Siber Nasional bertema "Sinergitas Pentahelix dalam Rangka Membangun Kedaulatan di Ruang Siber" di Cimahi — forum yang mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas siber untuk memperkuat ketahanan digital Indonesia.
Jejak riset
Di ranah publikasi ilmiah, Naseer turut berkontribusi dalam riset-riset terapan bertema teknologi lingkungan dan Internet of Things (IoT), salah satunya penelitian tentang sistem timbangan berbasis IoT untuk pemantauan dan pengelolaan sampah organik dalam kerangka smart waste management di Desa Manyingsal — mencerminkan concern-nya terhadap penerapan teknologi untuk persoalan lingkungan di tingkat desa.
Raihan Lektor Kepala ini menjadi penegasan bahwa kepemimpinan institusional Naseer berjalan beriringan dengan rekam jejak akademiknya sendiri — bukan sekadar jabatan struktural, tetapi juga capaian personal dalam tridarma perguruan tinggi.
Rina Indrayani: Doktor Perempuan Pertama Brand Strategy di UTB
Assoc. Prof. Dr. Rina Indrayani menempati posisi ganda yang menuntut keseimbangan antara tanggung jawab manajerial dan produktivitas ilmiah: Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan sekaligus dosen aktif di lingkungan Fakultas Industri Kreatif dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UTB.
Disertasi yang mengukir sejarah
Momen penting dalam kariernya adalah saat ia berhasil meraih gelar doktoral dan tercatat sebagai doktor perempuan pertama di bidang brand strategy di UTB. Disertasinya berjudul "Pengaruh Brand Institusi, E-Marketing, E-Service Quality Terhadap Customer Trust Melalui Customer Value Pada Program Studi Teknik Industri di Perguruan Tinggi Swasta Se-Bandung Metropolitan" — sebuah riset yang mengaitkan strategi branding institusi pendidikan tinggi dengan kepercayaan pelanggan (mahasiswa dan calon mahasiswa) di tengah ketatnya persaingan perguruan tinggi swasta di kawasan metropolitan Bandung. Sidang terbuka promosi doktornya dihadiri langsung oleh Rektor UTB Muchammad Naseer beserta jajaran pejabat struktural universitas, menandakan besarnya dukungan institusi terhadap pencapaian ini.
Riset lanjutan: dari pemasaran ke ekonomi hijau
Produktivitas riset Rina tidak berhenti pada disertasi. Ia kini memimpin proyek penelitian bertajuk "Stevia: Green Gold Indonesia, Solusi Manis Berkelanjutan untuk Revolusi Ekonomi Hijau," yang mengkaji potensi tanaman stevia sebagai komoditas strategis — alternatif pemanis alami yang lebih sehat sekaligus mendukung transformasi ekonomi hijau Indonesia. Penelitian ini memperoleh pendanaan dari skema Penelitian Kompetitif Nasional (Penelitian Fundamental Reguler) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) senilai lebih dari Rp132 juta untuk periode 2025, dan mendapat perpanjangan pendanaan multitahun untuk 2026 bersama anggota tim Herman Ruswan Suwarman dan Danny Aidil Rismayadi.
Pergeseran fokus riset ini — dari kajian pemasaran dan branding institusi menuju isu keberlanjutan dan ekonomi hijau — menunjukkan keluasan kapasitas keilmuan Rina dalam merespons isu-isu kontemporer yang relevan bagi industri dan masyarakat.
Rekam jejak akademik
Menurut profil akademiknya, bidang keahlian Rina mencakup manajemen industri, manajemen pemasaran, dan kewirausahaan, dengan puluhan sitasi atas kontribusi ilmiahnya di berbagai jurnal dan forum seminar nasional, termasuk Seminar Nasional Penelitian (SEMNAS CORISINDO) yang diselenggarakan UTB sendiri.
Nova Agustina: Peneliti Muda di Garis Depan Kecerdasan Buatan
Assoc. Prof. Nova Agustina, S.T., M.Kom. mewakili generasi peneliti UTB yang tumbuh bersama perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI). Perjalanan akademiknya dimulai dari jenjang sarjana Teknik Informatika di Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (2011–2015), dilanjutkan program magister di bidang yang sama di Universitas AMIKOM Yogyakarta (2017–2019), hingga akhirnya meraih gelar doktor Informatika dari kampus yang sama pada 2024.
Riset AI untuk melawan disinformasi
Salah satu kontribusi risetnya yang paling relevan dengan tantangan zaman adalah keterlibatannya sebagai anggota tim peneliti dalam proyek "Pengembangan Seleksi Fitur pada Representasi Graf untuk Penyaringan Bukti dalam Verifikasi Fakta Berita Politik Bahasa Indonesia." Penelitian ini mengembangkan pendekatan berbasis kecerdasan buatan dan representasi graf untuk meningkatkan akurasi sistem fact-checking terhadap berita politik berbahasa Indonesia — sebuah upaya konkret menjawab maraknya disinformasi di ruang digital nasional. Proyek ini turut memperoleh pendanaan dari skema Penelitian Multitahun Lanjutan Kemdiktisaintek untuk tahun anggaran 2026, sejalan dengan penelitian Rina Indrayani yang didanai program serupa.
Kiprah di luar riset formal
Selain aktif meneliti, Nova juga kerap dipercaya sebagai juri dalam ajang kompetisi teknologi mahasiswa, seperti pada HIMTEC x IT HOLIC 2025 yang mengusung tema "Solving Real Problems with AI and Secure Development Practices" — forum yang memadukan kompetisi hackathon dan seminar nasional bertema AI dan keamanan siber. Ia juga terlibat dalam program pengabdian kepada masyarakat lintas disiplin, di antaranya kegiatan "Peningkatan Kapasitas Siswa SLB Miftahul Falah melalui Pemanfaatan Teknologi Digital" — inisiatif yang mendukung pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus melalui pemanfaatan teknologi.
Rekam jejak publikasinya di jurnal ilmiah UTB (Naratif) turut mencakup topik-topik penerapan teknologi informasi untuk kebutuhan praktis, seperti integrasi API layanan e-commerce untuk manajemen stok barang.
Makna Capaian Bersama
Ketiga profil ini — seorang rektor yang membangun institusi sembari tetap aktif meneliti, seorang wakil rektor yang merintis jalan sebagai doktor perempuan pertama di bidangnya sambil merambah isu ekonomi hijau, dan seorang peneliti muda yang mengembangkan AI untuk melawan disinformasi — menggambarkan keragaman sekaligus keterpaduan arah riset UTB: dari teknologi lingkungan, strategi merek dan keberlanjutan, hingga kecerdasan buatan.
Raihan Lektor Kepala bagi ketiganya bukan sekadar kenaikan jenjang fungsional, melainkan pengakuan atas konsistensi mereka dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi: mendidik, meneliti, dan mengabdi. Sebagaimana ditegaskan pihak UTB, capaian ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika untuk terus bertumbuh, berkarya, dan memberi dampak nyata — sejalan dengan visi besar UTB mewujudkan diri sebagai Socio-Creativepreneur University.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari situs resmi UTB (utb-univ.ac.id), basis data SINTA Kemdiktisaintek, Google Scholar, serta pemberitaan Kompasiana, Pikiran Rakyat, Liputan6, JPNN, dan Majalah Indonesia Online.
Komentar
Posting Komentar