Ketika Model Ekonomi Akhirnya Bertemu Manusia: HANK, Kaplan, dan Panggilan Teonomi Ekonomi
Ketika Model Ekonomi Akhirnya Bertemu Manusia: HANK, Kaplan, dan Panggilan Teonomi Ekonomi
Selama puluhan tahun, banyak kebijakan ekonomi dirancang di atas satu tokoh imajiner: "agen rata-rata". Ia rasional, berumur panjang, mampu menabung dan meminjam dengan mulus, dan menyesuaikan belanjanya dengan tenang mengikuti masa depan. Masalahnya, orang itu tidak ada di pasar, di warung, atau di antrean gaji bulanan.
Itulah kegelisahan yang diangkat Greg Kaplan, ekonom University of Chicago, dalam bukunya Macro: The Economic Models That Shape Our World. Menurut deskripsi bukunya, model-model yang mendasari banyak kebijakan konvensional tidak selaras dengan cara orang sungguhan membelanjakan dan menabung. Ini terutama terasa bagi jutaan orang yang hidup dari gaji ke gaji. Gita Gopinath menyebut buku ini penjembatan antara riset mutakhir dan debat kebijakan dunia nyata.
HANK: ekonomi dengan wajah yang beragam
Puncak perjalanan buku ini adalah model HANK (Heterogeneous Agent New Keynesian). Intinya sederhana tetapi berdampak besar: rumah tangga itu berbeda-beda. Ada yang punya cadangan, ada yang nol. Ada yang kekayaannya tertanam dalam aset sulit dicairkan, sehingga kelihatan kaya tetapi tetap kesulitan saat dompet kosong. Karena itu, satu kebijakan yang sama, entah penurunan suku bunga, bantuan tunai, atau pemotongan pajak, bisa bergerak dengan kekuatan berbeda pada tiap kelompok.
Perubahan cara pandang ini penting. Dalam model lama, inflasi, utang, dan resesi dibaca dari angka rata-rata. Dalam HANK, yang dilihat adalah sebaran: siapa yang menanggung, siapa yang menikmati, siapa yang terguncang lebih dulu. Ekonomi tidak lagi dipahami sebagai satu tubuh homogen, melainkan sebagai jaringan keluarga dengan kondisi yang tidak sama.
Sains yang "menemukan" apa yang sudah lama diajarkan iman
Di sinilah saya melihat titik temu yang menarik dengan teonomi ekonomi, yaitu pendekatan yang menempatkan nilai-nilai ilahiah dan etika keadilan sebagai fondasi pengelolaan ekonomi. Hampir semua tradisi religius sejak awal tidak pernah memperlakukan manusia sebagai agen rata-rata. Mereka bicara tentang yang kuat dan yang lemah, yang berkecukupan dan yang kekurangan:
- Zakat dan infak dalam tradisi Islam lahir dari pengakuan bahwa ada kelompok yang berhak menerima dan kelompok yang wajib memberi.
- Tahun Yobel dan hukum penuaian sisa ladang dalam tradisi Yahudi-Kristen menunjukkan kesadaran bahwa ketimpangan menumpuk dan perlu dikoreksi secara berkala.
- Dana dan welas asih dalam tradisi Buddhis serta ren dalam etika Konfusian menempatkan kepekaan terhadap sesama sebagai bagian dari tata ekonomi yang sehat.
Dalam bahasa HANK, tradisi-tradisi itu intuitif memahami bahwa kerentanan tidak tersebar merata, dan bahwa kebijakan yang adil harus menyentuh mereka yang paling rapuh. Para ekonom butuh model dengan simulasi dan data panel untuk sampai ke kesimpulan itu. Ajaran moral sudah lama menjadikannya titik berangkat.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa HANK adalah teonomi, atau bahwa kitab suci adalah buku teks makroekonomi. Dua hal itu bekerja pada level yang berbeda. HANK menjawab pertanyaan bagaimana ekonomi bekerja. Teonomi menjawab pertanyaan untuk apa ekonomi bekerja dan kepada siapa ia bertanggung jawab. Justru karena berbeda, keduanya saling melengkapi.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, pesan ini terasa dekat. Kita punya jutaan rumah tangga yang hidup nyaris tanpa bantalan finansial: pekerja informal, buruh harian, pelaku usaha mikro, guru honorer, dan lulusan yang masih menganggur. Indikator agregat seperti pertumbuhan, inflasi, atau rata-rata pendapatan bisa tampak baik, sementara pengalaman nyata di lapisan bawah berbeda. Rata-rata sering menyembunyikan kisah yang paling penting.
Cara berpikir HANK mengajak pembuat kebijakan bertanya lebih tajam: bantuan sosial ini jatuh ke tangan siapa, dan seberapa cepat ia berubah menjadi belanja yang menghidupkan warung? Kenaikan harga ini menekan siapa lebih dulu? Pertanyaan-pertanyaan itu sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 dan semangat Pancasila tentang keadilan sosial.
Di sinilah teonomi ekonomi dapat mengambil peran. Ia memberi kompas etis bagi kecanggihan teknis HANK. Model dapat menunjukkan siapa yang paling terdampak, tetapi tidak dapat memutuskan seberapa besar kita wajib peduli. Itu pekerjaan nilai. Tanpa kompas etis, model heterogen hanya akan menghasilkan peta ketimpangan yang lebih akurat tanpa niat memperbaikinya. Tanpa kecermatan model, niat baik bisa meleset sasaran dan membuang sumber daya.
Menjembatani dua bahasa
Kaplan mengajak ekonom menjelaskan pekerjaannya dengan lebih jernih kepada publik. Saya ingin menambahkan satu seruan: agar ekonom dan penggagas nilai saling belajar. Ekonom perlu rendah hati bahwa angka tidak pernah netral nilai. Pemikir etika dan agama perlu menerima bahwa niat mulia mesti diuji dengan bukti.
Ekonomi yang baik pada akhirnya adalah ekonomi yang cerdas sekaligus berjiwa: cerdas membaca perbedaan antarmanusia, berjiwa dalam memperlakukan perbedaan itu sebagai amanah, bukan sekadar variabel. Jika HANK membuat para ekonom akhirnya melihat manusia sungguhan di balik rata-rata, tugas kita bersama adalah memastikan bahwa apa yang mereka lihat benar-benar mengubah apa yang kita putuskan.
Bandung, 1 Nopember 2026
Komentar
Posting Komentar