Sejarah Filsafat: dari Mitos hingga Pasca-Kebenaran
Sejarah Filsafat: dari Mitos hingga Pasca-Kebenaran
1. Pra-Sokratik (±600-450 SM)
Peralihan dari mythos ke logos, dengan pertanyaan pokok: apa arkhe (asas) alam semesta?
- Thales: air sebagai asas segala sesuatu, sering disebut filsuf pertama
- Anaximand: yang ada itu tetap, perubahan hanyalah ilusi
2. Klasik Yunani (±450-322 SM)
Fokus bergeser dari alam ke manusia, etika, dan pengetahuan.
- Sokrates: metode dialektika, "hidup yang tak teruji tak layak dijalani"
- Plato : dunia Ide, Akademia, Republik
- Aristoteles : logika, metafisika, etika kebajikan, politik, Lyceum
3. Helenistik dan Romawi (322 SM-±500 M)
Filsafat sebagai seni hidup di tengah ketidakpastian politik.
- Stoisisme : Zeno, Epiktetos, Seneca, Marcus Aurelius
- Epikureanisme : Epikuros, kebahagiaan lewat ketenangan batin
- Skeptisisme : Pyrrho, Sextus Empiricus
- Neoplatonisme : Plotinus
4. Abad Pertengahan (±500-1500)
Filsafat berdialog dengan agama wahyu.
- Patristik : Agustinus (iman dan akal, waktu, kehendak)
- Skolastisisme : Anselmus, Thomas Aquinas (sintesis Aristoteles dan teologi), Duns Scotus, Ockham
- Filsafat Islam : Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali (kritik terhadap filsuf), Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, Ibnu Rusyd (komentator Aristoteles yang sangat memengaruhi Eropa)
- Filsafat Yahudi : Maimonides
5. Renaisans dan Modern Awal (±1400-1700)
Lahirnya subjek rasional dan sains modern.
- Machiavelli, Bacon, Galileo : politik realis, metode induktif, sains empiris
- Rasionalisme : Descartes (cogito ergo sum), Spinoza, Leibniz, dengan sumber pengetahuan adalah akal
- Empirisme : Locke, Berkeley, Hume, dengan sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi
- Kontrak sosial : Hobbes, Locke, Rousseau
6. Pencerahan dan Idealisme Jerman (±1700-1850)
- Kant : sintesis rasionalisme dan empirisme (Critique of Pure Reason), etika imperatif kategoris
- Voltaire, Montesquieu, Diderot: nalar, kebebasan, kritik otoritas
- Fichte, Schelling, Hegel: idealisme, dialektika, Roh Absolut dan sejarah
- Utilitarianisme : Bentham, J.S. Mill
7. Abad ke-19: Reaksi terhadap Idealisme
- Marx : materialisme historis, kritik kapitalisme
- Kierkegaard : eksistensi individu, lompatan iman
- Schopenhauer : kehendak buta dan pesimisme
- Nietzsche : "Tuhan sudah mati", nihilisme, kehendak untuk berkuasa
- Positivisme : Comte; Pragmatisme: Peirce, James, Dewey
8. Abad ke-20: Ledakan Aliran
- Fenomenologi : Husserl, Heidegger (Being and Time)
- Eksistensialisme : Sartre, Camus, de Beauvoir, Jaspers
- Filsafat analitik : Frege, Russell, Moore, Wittgenstein, Lingkaran Wina; kemudian Popper, Kuhn (revolusi ilmiah), dan Quine
- Teori Kritis (Frankfurt School) : Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas
- Hermeneutika : Gadamer, Ricoeur
- Strukturalisme: Saussure, Lévi-Strauss, Althusser
9. Postmodernisme dan Pasca-Strukturalisme (1960-an-1990-an)
Skeptisisme terhadap narasi besar, kebenaran tunggal, dan universalitas.
- Foucault : relasi kuasa dan pengetahuan
- Derrida : dekonstruksi
- Lyotard : "ketidakpercayaan pada metanarasi"
- Baudrillard : simulakra dan hiperrealitas
- Deleuze, Rorty, Butler , serta kritik poskolonial (Said, Spivak, Fanon)
10. Kontemporer dan Era Pasca-Kebenaran (2000-sekarang)
Konteks: internet, media sosial, algoritma, polarisasi politik, dan AI generatif. Istilah post-truth dipopulerkan Kamus Oxford sebagai Word of the Year 2016 (Brexit dan pemilu AS), merujuk pada situasi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih berpengaruh daripada fakta objektif.
Tokoh dan arus utama :
- Harry Frankfurt: On Bullshit* (pembual tak peduli benar atau salah)
- Lee McIntyre, Matthew D'Ancona: analisis langsung tentang post-truth
- Byung-Chul Han : masyarakat transparansi dan kelelahan
- Shoshana Zuboff : kapitalisme pengawasan
- Bruno Latour: kritik atas sains dan "fakta", dibaca ulang di era disinformasi
- Realisme Spekulatif dan Materialisme Baru: Meillassoux, Harman, Bennett
- Filsafat teknologi dan AI : Floridi (etika informasi), Bostrom (superintelijen), Chalmers (kesadaran)
- Epistemologi sosial : gelembung filter, ruang gema, ketidakadilan epistemik (Miranda Fricker)
Perdebatan inti: Apakah post-truth adalah warisan postmodernisme, atau justru manipulasi kekuasaan yang memakai relativisme sebagai tameng? Banyak pemikir menilai bahwa kritik postmodern terhadap kebenaran dibajak oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Benang Merah
Kosmos → Manusia → Tuhan → Akal → Subjek → Bahasa → Kuasa → Informasi. Pertanyaan akarnya tetap sama: apa itu realitas, apa yang bisa kita ketahui, bagaimana seharusnya hidup, dan siapa yang berhak menentukan kebenaran.
Komentar
Posting Komentar